Speak Up : Suara Mahasiswa Baru Terkait Pelaksanaan LDK 2026

Polines, Dimensi (29/08) – Latihan Dasar Kedisiplinan (LDK) sebagai kegiatan tahunan Mahasiswa Baru (maba) Politeknik Negeri Semarang (Polines) kembali dilaksanakan pada 18-27 Agustus 2026 di Lapangan Tembak, Tembalang. Kegiatan ini diikuti sekitar 2.800 peserta yang terbagi dalam empat gelombang. Lantas, bagaimana tanggapan maba mengenai pelaksanaan LDK tahun ini?

Rafi’i Yusuf – Jurusan Teknik Mesin

Sebagai peserta gelombang pertama, Rafi mengaku bahwa PBB menjadi kegiatan yang berkesan karena melatih kekompakan dan kerja sama. Menurutnya, rasa lelah terbayar dengan pelajaran tentang kedisiplinan dan pentingnya menghargai waktu. Rafi berharap komunikasi antar contact person terkait barang bawaan dapat ditingkatkan karena sempat menerima informasi yang berbeda.

Maulidya Frinsa Maryam – Jurusan Teknik Elektro

Berbekal video LDK yang ia lihat di TikTok, Maulidya semula merasa siap secara mental. Namun, setelah menjalani kegiatan, ia mengaku rasa lelah yang dirasakannya justru melebihi perkiraannya. Meski demikian, ia tetap menikmati berbagai kegiatan yang ada, termasuk saat merangkak di atas lumpur. Maulidya berharap kebijakan pengumpulan ponsel dapat diperjelas sejak awal, sebab ia sempat kesulitan membeli makanan karena tidak membawa uang tunai.

Lintang Hayu Suseno – Jurusan Teknik Sipil

Satu gelombang dengan Maulidya, Lintang datang dengan gambaran LDK yang menakutkan, tetapi pulang dengan pengalaman yang jauh lebih menyenangkan dari perkiraannya. Baginya, PBB menjadi materi paling berkesan, sementara pos lumpur dan sesi “How to Fight” menjadi favoritnya. Ia menyayangkan waktu persiapan pentas seni yang singkat sehingga persiapannya terbatas.

Alya Najwa Arlyanda – Jurusan Akuntansi

Alya mengaku LDK awalnya terasa berat, tetapi seiring berjalannya kegiatan ia justru merasa ketagihan. Selama kegiatan, Alya paling menyukai outbound, khususnya pos keseimbangan di atas tali, sementara tiarap dan berguling kurang disukainya karena sempat meninggalkan luka. Uniknya, LDK menjadi olahraga terberat yang pernah ia jalani. Ia berharap, waktu istirahat ditambah dan kegiatan lebih beragam.

Derry Aldiano – Jurusan Administrasi Bisnis

Menutup gelombang keempat, Derry merasakan pengalaman berbeda selama LDK. Baginya, jiwa korsa menjadi hal paling yang berkesan karena satu peserta melanggar aturan membuat seluruh peserta menerima dampaknya, sekaligus membuatnya lebih peduli terhadap lingkungan sekitar. Ia berharap penyampaian informasi dari Resimen Mahasiswa (Menwa) kepada peserta gelombang terakhir dapat diperbaiki agar informasi mengenai LDK tidak tertimbun oleh pesan lain di grup.

(Heni)

Advertisements

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *