Dari Rukun Islam ke Pembentukan Karakter: Wajah Baru Pesima Muslim 2026

Kegiatan Pesima Muslim 2026

Dok. Nazifa

Polines, Dimensi (14/08) – Pengembangan Spiritual Mahasiswa (Pesima) Muslim 2026 gelombang pertama digelar pada Kamis (13/08) di Gedung Serba Guna (GSG) Politeknik Negeri Semarang (Polines) sejak pukul 05.15 hingga 18.10 WIB. Kegiatan ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan penerimaan mahasiswa baru (maba) dan akan berlangsung selama empat hari. Pesima Muslim 2026 mengusung tema “Menjadi Mahasiswa Muslim yang Cerdas, Berkarakter, dan Siap Memberikan Kebermanfaatan”.

Sekitar 2.666 mahasiswa baru beragama Islam tercatat mengikuti kegiatan ini. Faiz Aji selaku Ketua Pelaksana Pesima Muslim 2026, memaparkan skema pembagian peserta yang diterapkan panitia. “Di dalam satu hari itu ada 15 firqah, satu firqah berisi 50 orang, yang berarti sekitar 750 peserta mengikuti kegiatan setiap harinya,” paparnya.

Nama “Firqah” sendiri merupakan salah satu perubahan yang dibawa panitia tahun ini, menggantikan sebutan “Bait” yang selama ini digunakan. Faiz menjelaskan alasan di balik pergantian istilah tersebut, “Firqah itu artinya kelompok atau jemaah, karena bait itu penginapan sedangkan kita tidak menginap,” jelasnya. Naysilla, wakil ketua pelaksana, menambahkan bahwa arah materi tahun ini juga digeser agar lebih menyentuh persoalan sehari-hari mahasiswa, “Kalau tahun kemarin itu lebih ke pendalaman tentang rukun Islam, kalau tahun ini lebih ke pendalaman karakter mahasiswa,” ungkapnya. Selain itu, panitia turut menambahkan lembar refleksi harian serta amalan yaumiyah pada buku mutaba’ah yang wajib diisi peserta.

Terkait isi materi, Amin Syarifudin selaku penanggung jawab acara menyebut empat topik yang disiapkan tahun ini, yakni akidah dan lima rukun Islam, adab di atas ilmu, pembentukan karakter, hingga sikap muslim dalam menghadapi digitalisasi. Ia menambahkan bahwa mayoritas pemateri sengaja didatangkan dari luar kampus, “Kita mengambil salah satu kontestan Aksi Indosiar, Minannur Rohman, karena beliau memiliki background keagamaan dan pemahaman yang luas,” ungkap Amin.

Di balik inovasi tersebut, pelaksanaan Pesima 2026 tak lepas dari beberapa kendala. Amin mengakui banyak perubahan rundown terjadi secara tiba-tiba, salah satunya saat pembagian konsumsi yang meleset dari rencana awal. “Ternyata konsumsinya itu dibagikan di pintu, sehingga antreannya sampai memanjang ke lapangan basket,” ujarnya. Senada dengan Amin, Faiz menyoroti kendala dari sisi teknis lapangan. “Helper-nya sering datang terlambat sehingga jadwal pembukaan lokasi ikut mundur meskipun peserta sudah menunggu,” keluhnya.

Dari sisi peserta, Muhammad Akhyar Zaini, maba Jurusan Akuntansi, mengaku terkesan dengan jalannya acara. “Kesan saya di acara Pesima itu cukup baik, karena acara ini sangat bermanfaat dan membuat seseorang dapat merubah sikapnya dari yang buruk menjadi lebih baik,” ungkapnya. Berbeda dengan Akhyar, Alvin, maba Jurusan Teknik Mesin, mengaku  kerepotan lantaran persiapan Pesima berbenturan dengan WaRNA, “Saya memesan buku Pesima kepada kating, tapi karena sibuk dengan WaRNA, sehingga belum sempat mengambil bukunya,” tuturnya. Akibatnya, tanda tangan panitia di buku itu pun belum ia dapatkan.

(Heni)

Advertisements

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *