Pesima non-Muslim: Teguhkan Mental dan Spiritual Mahasiswa Baru di Masa Transisi

Mahasiswa baru melakukan yel-yel dalam kegiatan Pesima non-Muslim

Dok. Rafi

Polines, Dimensi (14/08) – Pengembangan Spiritual Mahasiswa (Pesima) non-Muslim dilaksanakan pada Kamis (13/08) di Ruang Auditorium Gedung Sekolah Satu (SS) Politeknik Negeri Semarang (Polines) sejak pukul 08.00 hingga 16.45, dengan tema “Bertumbuh dalam Proses, Berjalan dalam Iman”, acara ini dirancang khusus untuk mendampingi mahasiswa baru (maba) dalam masa transisi dunia perkuliahan. Kegiatan ini diikuti oleh 126 peserta, dengan rincian 79 peserta beragama Kristen Protestan, 45 peserta Katolik, 1 peserta Hindu dan 1 peserta Buddha.

Bernadeta Julia, selaku ketua pelaksana Pesima non-Muslim 2026, menjelaskan tema tersebut dipilih berdasarkan ayat Alkitab Filipi 1:6, “Tema ini relevan dengan kondisi maba yang tengah menjalani masa transisi dari SMA/SMK ke perguruan tinggi. Proses adaptasi di dunia perkuliahan perlu diiringi iman sebagai pegangan agar mahasiswa tidak mudah stres, goyah, maupun merasa insecure,” jelas Bernadeta.

Guna memfasilitasi kebutuhan spiritual peserta secara merata, panitia mendatangkan lima pemateri yang disesuaikan dengan agama masing-masing peserta. Sesi Kristen diisi oleh Pendeta Troijte dari Bandung dan juga Bapak Dwi Agus, tokoh rohani di GBT Kristus Alfa Omega-Semarang, sesi Katolik oleh Bu Novi, dosen Psikologi Unika, sesi Hindu oleh Pak Nyoman, dosen Akuntansi Polines, serta sesi Buddha oleh seorang biksu dari lembaga keagamaan Semarang.

Materi yang dipaparkan sengaja disesuaikan dengan tantangan Gen Z. Uenike, selaku penanggung jawab acara, menyebutkan bahwa isu-isu yang diangkat sangat akrab dengan dinamika keseharian mereka “Kebebasan tanpa batas, tekanan akademik dan sosial, lalu ada krisis identitas seperti Fear of  Missing Out (FOMO)” ujarnya. Hal ini sejalan dengan pandangan Anil, salah satu peserta, ia menyoroti bagaimana generasinya justru mulai menjauh dari nilai kerohanian di tengah berbagai tekanan tersebut, “Sekarang Gen Z juga sudah mulai mengesampingkan aspek spiritual dan lebih mengandalkan teknologi,” ujarnya. Natali, peserta lain, juga memegang teguh pesan dari pemateri mengenai pentingnya menyeimbangkan prestasi akademik dan pengebangan diri, “Kalau kuliah tidak boleh hanya mengejar nilai, tapi juga harus mengejar relasi, dan harus mengasah skill.”

Untuk mencegah peserta merasa suntuk, panitia membuat inovasi baru berupa yel-yel di setiap kelompok, “Tahun ini perbedaannya di setiap kelompok diadakan yel-yel, gunanya untuk membangkitkan semangat para peserta,” ungkap Bernadeta. Hal ini diperkuat oleh penjelasan Uenike, “Kami menyisipkan beberapa interaksi MC, lalu ice breaking, dan juga beberapa penampilan maba agar para maba tidak merasa boring” tuturnya.

​Dalam proses persiapannya, sempat terkendala berupa miskomunikasi mengenai perubahan alamat pengiriman surat undangan pembicara. Kendala lainnya adalah jadwal persiapan yang bertepatan dengan libur semester. Namun, kendala ini berhasil diatasi berkat dedikasi panitia, “Banyak teman-teman yang sudah di luar kota mengusahakan datang untuk ikut Pesima ini,” tambah Bernadeta.

Sebagai penutup, Uenike berharap para mahasiswa baru dapat menjadikan materi yang didapat sebagai bekal iman yang kuat. “Harapannya materi yang disampaikan bisa tertanam di dalam hati. Mereka harus yakin bahwa Tuhan selalu menemani dan perlu diandalkan dalam setiap proses yang dihadapi,” pungkasnya.

(Almira)

Advertisements

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *