ARAH PULANG

Ilustrasi: Kiran
Kupikir musim benar-benar berganti,
sebab pohon mulai berani berbunga.
Ternyata yang berubah hanya hari,
bukan arah tempat akar bertahan.
Mungkin sejak awal, waktu memang tahu
ke mana setiap cerita akan bermuara.
Hujan selalu tahu kapan harus berhenti.
Ia tak pernah meminta langit menjelaskan
mengapa harus turun,
atau mengapa pelangi tak selalu datang.
Ia hanya jatuh,
membasahi tanah yang diam,
lalu menghilang tanpa membawa gaduh.
Begitu pula angin.
Ia datang menyentuh daun-daun,
mengusap ranting yang mulai lengang,
kemudian pergi tanpa pernah berjanji.
Tak ada yang benar-benar mampu menahannya,
dan pohon pun tak pernah memintanya kembali.
Barangkali semesta memang bekerja seperti itu.
Lebih banyak menunjukkan daripada menjelaskan.
Tentang langit yang tak takut menjadi kelabu,
tentang laut yang menerima setiap muara,
tentang matahari yang selalu tenggelam,
namun tak pernah lupa kembali menyapa pagi.
Pernah ada hari-hari
ketika halaman terasa begitu penuh.
Tawa berlarian di setiap sudut,
langkah-langkah berjalan dalam arah yang sama,
hingga rasanya tak ada yang mungkin berubah.
Namun musim diam-diam bekerja.
Warna mulai berganti.
Jejak yang dulu memenuhi halaman
perlahan memudar bersama waktu.
Tak ada suara yang benar-benar pamit,
hanya jarak yang tumbuh tanpa disadari.
Sempat terpikir,
mengapa segala yang terasa dekat
perlahan menjadi sejauh cakrawala?
Mengapa beberapa cerita
selesai bahkan sebelum sempat diberi nama?
Mengapa semesta begitu pandai mengubah arah?
Tak ada jawaban.
Yang terdengar hanya desir angin,
langkah hujan yang pulang ke bumi,
dan daun-daun yang jatuh
tanpa pernah menyalahkan ranting
yang tak lagi mampu menggenggamnya.
Barulah tanah memberi pengertian.
Bahwa gugur bukanlah akhir.
Bahwa yang terlepas tak selalu hilang.
Bahwa akar tak pernah sibuk menghitung
berapa daun yang telah jatuh,
ia hanya terus bertahan
agar kehidupan kembali menemukan jalannya.
Sejak itu,
langit tak lagi ditanya mengapa mendung.
Senja tak lagi diminta bertahan.
Hujan tak lagi dipersalahkan karena datang.
Sebab semuanya sedang menjalankan
cara masing-masing untuk menjadi utuh.
Barangkali memang tidak semua cerita
diciptakan untuk tinggal selamanya.
Ada yang hanya mengajarkan
bahwa pertemuan pun memiliki musimnya,
dan perubahan bukan selalu tentang kehilangan,
melainkan tentang memberi ruang bagi yang baru.
Maka bila esok bunga kembali mekar,
biarlah ia mekar tanpa rasa takut.
Bila angin kembali singgah,
biarlah ia lewat tanpa perlu ditahan.
Dan bila waktu kembali membawa perubahan,
biarlah langkah tetap berjalan.
Sebab pada akhirnya,
yang benar-benar bertahan
bukanlah musim,
bukan pula hujan atau angin,
melainkan hati
yang perlahan belajar menemukan arah pulangnya.
(Diviana Khasania Az-Zahra)
kalau soal prokernya yang lentera scholarship mekanismenya gimana yaaaa, ga sempet nonton kampanye dan pemaparannya hehe.
tangkap mulyono
Mesin memang tidak bisa diatur, namun memiliki aturan tersendiri. PPM masih berjalan lancar tapi berjalan dibalik layar
Mesin memang tidak bisa diatur, namun tetap memiliki aturan tersendiri. PPM tetap berjalan namun dibalik layar
baguss lillll 👌