Rindu Untukmu

Ilustrator:Aldita

“Aku udah yakin nih sama pilihanku nanti di SNBT. Pasti bisa lolos!”

“Mungkin aku ngambil pilihan di dalam kota aja, biar dekat sama orang tua,”

Sore itu perbincangan di dalam kelas penuh dengan pembahasan soal kuliah. Satu-dua diantara mereka sudah diterima PTN melalui jalur SNBP. Setiap kali memikirkannya hatiku menjadi gundah. Semenjak kepergian Ayah, Ibu menjadi tulang punggung keluarga. Aku hanya termenung soal bagaimana masa depanku. Di satu sisi aku ingin mengejar impianku untuk masuk perguruan tinggi, di sisi lain aku tidak ingin membuat Ibu kerepotan menanggung biayanya.

“Hei! kamu ngelamun aja dari tadi,”

Aku terkejut. Hendak marah. Tapi begitu melihatnya, wajahku bersemu merah. Sialnya pena-penaku berjatuhan. Memusatkan perhatian seisi kelas.“

Lain kali jangan ngagetin gitu, dong, Vin! Bikin jantungan aja.” ucapku sambil memungut alat tulis yang berserakan.

Ravin Tertawa.

Dia lalu berjongkok, menyisihkan tas kamera dan membantuku mengumpulkan alat tulis yang berserakan. Tak sengaja tatapan kami bertemu, membuat denyut jantungku melompat tak beraturan. Tubuhnya cukup tinggi, berkulit kuning langsat, matanya bulat, dan memiliki rambut yang sedikit bergelombang. Buru-buru kualihkan pandanganku.

“Iya maaf, nih pulpennya. Kamu mikirin apa dari tadi?” Ravin bertanya.

Aku menggeleng, “Tidak ada, aku cuma memikirkan tentang impianku untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. Aku gamau merepotkan ibuku menanggung biayanya sendirian.”

“Lho… kan kamu bisa kuliah sambil kerja, Dit, aku yakin kamu bisa. Kamu orang yang rajin.” balas Ravin. Matanya berbinar seolah ingin menyalurkan keyakinannya.

“Iya, tapi…”

DDRRRTTTTTT

Ponselku di atas meja bergetar. Panggilan dari Pak Pratama. Aku bergegas mengangkatnya. Pak Pratama memintaku dan Ravin untuk segera pergi menemuinya di ruang guru.

Kami melewati koridor sekolah yang mulai lengang, lantai keramiknya sebagian masih basah akibat sisa hujan siang tadi. Menyisakan aroma khas tanah lembap. Murid-murid satu per satu pulang, meninggalkan sebagian siswa yang mendapat tugas piket sore itu.

“Assalamu’alaikum, Pak. Permisi,”

“Wa’alaikum salam, nak. Ayo masuk!” balas Pak Pratama sambil tersenyum hangat. Garis halus di sudut matanya ikut terlihat, menambah kesan ramah pada wajahnya.

Ruangan ini cukup luas. Terdapat sofa panjang setelah pintu masuk, dindingnya dihias dengan ornamen-ornamen buatan siswa, meja-meja guru yang tertata dengan rapi, serta jadwal mengajar yang cukup besar terpampang di bagian belakang.

Pak Pratama mempersilahkan kami duduk di sofa.

“Permisi, Pak. Ini kamera yang kami pinjam kemarin. Bisa dicek dulu, Pak. Takutnya ada kerusakan setelah kami pakai.” Ravin berhati-hati menyerahkan kamera.

“Masih oke semua kondisinya,”

“Ini foto-foto kalian kemarin belum dihapus, ya. Kok ada file .CR2, ini file apa?” Pak Pratama bertanya.

Aku menatap bingung.

“Oh iya. Maaf, Pak, settingannya lupa saya ganti. Kemarin saya menggunakan format raw agar mudah untuk pengeditan. Hasil tangkapan ini juga akan kami gunakan untuk bahan ujian, Pak. Sebentar, saya akan mengatur ulang kameranya.” jelas Ravin.

“Baiklah,” Pak pratama mengalihkan pandangannya padaku.

“Eh iya, Dit. Ngomong-ngomong kamu mau lanjut kuliah dimana?” tanya Pak Pratama sambil menatap penuh perhatian.

Aku terdiam. Kaget. Pertanyaan itu terasa seperti pukulan telak yang menghantam dadaku.

“Mungkin… saya kerja dulu, Pak,” jawabku ragu-ragu.

“Saya tidak mau merepotkan orang tua. Sebenarnya saya memang ingin berkuliah, mengejar mimpi, tapi yang membiayai kuliah saya hanya Ibu. Saya kan juga ingin membantu Ibu untuk mencari penghasilan, Pak.

”Ada rasa sesak di dada.

Pak Pratama tersenyum.

“Aduh, Bapak jadi ingat suatu cerita.”“Cerita apa itu, Pak?” balasku penasaran.

Tak jarang aku menyimak cerita dari Pak Pratama. Entah tentang murid-muridnya yang berhasil meraih mimpi, tentang masa mudanya, atau bahkan sekedar cerita-cerita kehidupan yang penuh makna. Setiap ceritanya seakan membuka jendela baru bagiku, memberikan pelajaran berharga sekaligus sudut pandang yang berbeda.

“Bapak itu punya saudara kembar, kamu tahu kan? Nah, kami itu saingan. Selalu berlomba untuk menjadi siswa dengan nilai yang terbaik. Pas selesai ujian sekolah kan ada pengumuman peringkat paralel. Dia nomor satu, sedangkan Bapak dibawahnya. Waktu itu, ayah Bapak sudah meninggal. Ibu menyerahkan segala keputusan masa depan ke kami. Tapi Bapak selalu ingat, rezeki itu sudah diatur Allah. Tugas kita hanya berusaha dan menerima hasilnya dengan ikhlas.

Kembaran Bapak daftar di UNY prodi Fisika Murni, dan diterima. Dia bahkan dapat beasiswa penuh, kuliah gratis dan dapat uang saku setiap bulan. Lah, Bapak? Waktu itu Bapak ditolak di kampus impian. Padahal pilihan pertama Bapak itu Fisika Murni di UNS. Tapi jalannya malah belok, Bapak keterima di IAIN Surakarta, UIN Raden Mas Said kalau sekarang, prodi Akuntansi. Meski bukan pilihan pertama, tetap Bapak jalani dengan ikhlas. Nah, Alhamdulillah, lewat jalan yang tidak disangka-sangka, Bapak justru ditawari menjadi tenaga pengajar tambahan oleh guru Bapak dulu. Kan… gak terduga tiba-tiba datang rezeki. Allah akan selalu memberikan jalan di setiap kesulitan, tergantung kita ingin mengambilnya atau tidak. Allah tidak pernah membuat kita gagal, Allah hanya ingin kita terus berusaha sehingga kita akan menyadari kalau pertolongan Allah itu sungguh dekat.”

Aku hanya tertunduk. Merenung.

“Tidak apa, Dit. Bapak yakin sama kamu. Kamu ini cerdas, rajin, dan bersemangat. Bapak yakin kamu pasti bisa menyelesaikan setiap permasalahan yang kamu jumpai. Ada pepatah yang mengatakan bahwa beberapa tahun ke depan, kita lebih sering menyesali kesempatan yang tidak pernah kita coba, daripada kegagalan yang pernah kita alami. Apapun hasilnya, ayo dicoba dulu.” lanjut Pak Pratama dengan senyum hangatnya.

“Tuh, dengerin!” Ravin nyeletuk.

Aku melotot. Aku ingin memukulnya dengan pena.

Ravin terkekeh.

“Ini, Pak. Untuk kameranya sudah kembali ke pengaturan awal.” ucap Ravin sambil menyerahkan kamera kepada Pak Pratama.

“Kalau kamu gimana, Vin? Mau lanjut kuliah dimana?” lanjut tanya Pak Pratama.

“Saya mau daftar DKV di UNS, Pak. kebetulan bidang ini sesuai dengan minat saya. Saya bisa memperdalam dan mengasah kemampuan saya di bidang visual desain, Pak. Insyaallah juga ini yang akan membawa pada rezeki saya nanti.” balas Ravin.

Pak Pratama tertawa.

“Bagus sekali. Yang penting kalian menjalankan pendidikan bersungguh-sungguh hingga kalian menjadi orang sukses.”

Aku dan Ravin mengangguk.

“Ya sudah kalau begitu. Bapak mau shalat ashar dulu, kebetulan setelah ini Bapak masih ada urusan.” Pak Pratama pamit meninggalkan ruangan.

Aku dan Ravin keluar dari ruang guru dan berjalan menuju parkiran. Di sepanjang perjalanan menuju sepeda motorku, aku memikirkan nasihat yang diucapkan oleh Pak Pratama. Ravin menyadari kalau aku sedang melamun.

“Kamu kayaknya akhir-akhir ini suka bengong ya, Dit?” Ravin menyeletuk.

“Aku cuman ragu apakah keputusanku benar, Vin.”

“Biasanya untuk masalah seperti ini ada Ayah yang selalu membimbingku. Ayah lebih mengerti diriku dibandingkan aku sendiri. Ketika Ayah sudah tiada aku jadi bingung harus mengambil keputusan seperti apa,” ucapku sambil menunduk.

Ravin tersenyum.

“Gapapa, Dit. Aku percaya sama kamu. Aku yakin kamu bisa melalui masalah apapun yang akan datang. Kamu tipikal cewek yang mandiri,”

“Ayo ikut aku aja DKV di UNS. Aku lihat hasil karyamu sangat bagus. Kita juga sering jadi partner tugas sekolah, jadi aku tahu kemampuanmu. Kamu juga tetap bisa bantu Ibu di rumah atau sambil kerja paruh waktu.” ujar Ravin penuh semangat.

Ya, aku tahu. DKV di UNS memang cukup terkenal dan mahasiswanya memiliki kompetensi yang tinggi. Jarak dari kampus ke rumahku juga tidak begitu jauh, jadi aku bisa membantu Ibu di rumah. Sebentar, kenapa wajahku terasa panas?

“Kalau kita satu kampus, aku bisa membantumu ketika kamu dalam kesulitan. Begitu juga sebaliknya, kamu harus membantuku jika aku dapat kesulitan ya, hahaha.” ucapnya sambil tertawa.

Wajahku memerah padam.

Aku bergegas mengambil helm di motor untuk menutupi wajahku. Malu. Menaiki motor dan mulai menyalakan mesin. Sebelum menarik gas, Ravin melambaikan tangan kepadaku. Aku pun membalasnya, sebelum roda motorku mulai berputar meninggalkan halaman.

Motor melaju di tengah padatnya lalu lintas kota Surakarta. Di sepanjang jalan aku terus memikirkan kalimat yang diucapkan oleh Ravin. Sesaat aku merasakan kehadiran Ayah, karena kalimat itu tidak asing bagiku. Aku tahu, Ayah pasti akan selalu membantu dalam menyelesaikan semua permasalahanku. Ayah juga yang selalu mendengarkan cerita-cerita yang kualami. Semuanya terasa hangat. Menenangkan.

Kini Ayah tak lagi bisa berbicara kepadaku. Mungkin dia mengirimkan pesannya lewat Ravin. Hahaha, hanya imajinasiku saja.

Tanpa kusadari, air mataku jatuh, terbawa dinginnya angin sore.

Ayah… dari surga, aku percaya Ayah akan menyimak setiap kisahku, setiap langkah kecil yang kutempuh untuk mewujudkan mimpi.

***

“Assalamualaikum, Bu…” panggilku lirih sambil melepas sepatu. Dari dapur Ibu keluar dengan senyum lelah, tangannya masih basah karena mencuci piring.

“Anak Ibu sudah pulang. Capek, ya?”

Aku mengangguk, lalu duduk di kursi ruang tamu. Foto keluarga tergantung miring di dinding, akuarium yang kosong di atas kabinet, dan rak buku yang isinya tidak pernah bertambah lagi semenjak kepergian Ayah itu membuat ruangan ini terasa hampa.

Pandanganku jatuh pada kursi usang di samping rak buku. Kursi yang dulu sering ditempati Ayah untuk membaca buku di sore hari sambil menungguku pulang sekolah. Aku masih membayangkan wajahnya yang tersenyum ketika aku masuk, lalu menutup bukunya hanya untuk mendengarkan ceritaku.

Kini kursi itu hanya teronggok di sudut ruangan, diam tanpa suara. Menyisakan bayangan kehadirannya. Kehangatannya yang dulu begitu nyata, kini berubah menjadi rasa rindu yang menekan dada.

Ibu ikut duduk di sampingku, menatapku dengan mata penuh kasih sayang.

“Dit, kamu kelihatan murung. Ada apa?” tanya Ibu dengan suara lembut.

Aku menunduk, air mata yang tadi sempat kutahan kembali mengalir.

“Bu, kalau aku bilang ingin kuliah, apa mungkin?” suaraku bergetar.

Senyum tipis muncul di wajah Ibu. Tangannya terulur, membelai pelan kepalaku.

Dari mataku, perlahan Ibu menatap jauh seakan menembus waktu.

“Ketika Ibu masih mengandungmu, Ayahmu pernah bilang kalau dia sangat ingin memiliki anak perempuan yang cantik dan berpendidikan tinggi. Andaikan Ayahmu masih ada, ia pasti akan melakukan apapun demi kuliahmu.

”Ibu menatapku lekat-lekat. Sorot matanya menyimpan keteguhan.

“Keadaan kita sekarang memang berat. Kalau kamu mau kuliah, akan Ibu usahakan. Ibu masih punya sedikit tabungan. Tapi kalau kamu mau kerja dulu juga tidak masalah. Yang penting kamu tetap punya semangat.”

Kata-kata ibu menenangkan sekaligus membuat hatiku semakin sesak. Aku ingin kuliah, aku ingin mengejar mimpi. Namun, kenyataan seakan menarikku kembali ke tanah.

Aku menggenggam tangan Ibu, mencoba menyerap kekuatan dari genggamannya. “Aku takut, Bu. Takut kalau mimpi ini cuma jadi angan-angan.”

Ibu meraih tanganku lebih erat. “Jangan pernah takut bermimpi, Dit. Kadang jalan memang tidak mudah, tapi kamu jangan menyerah.” Aku mengangguk pelan, meski hatiku masih penuh dengan kegundahan.

***

Pelajaran olahraga telah usai. Aku pergi dan duduk sendirian di halaman sekolah, merasakan sejuknya angin di bawah pohon ketapang. Hari ini adalah hari terakhir pendaftaran SNBT. Kalimat Ibu dan Pak Pratama kembali berputar di kepalaku yang membuat dadaku terasa kian sesak. Mungkin wajahku terlihat tidak bersemangat untuk melanjutkan pendidikan, tapi pikiranku terus mendesak agar aku bisa masuk ke perguruan tinggi.

“Hei, Dita! Sendirian aja. Ayo kita segera daftar SNBT. Hari ini terakhir, lho!” Ravin tiba-tiba datang dengan napas terengah-engah dan keringat di wajahnya.

Aku menatapnya. Diam sejenak mencari keyakinan dari sorot matanya, hingga akhirnya aku membuka suara.

“Kamu beneran bakal bantuin aku, kan?” aku bertanya serius. Memastikan.

Ravin mengangkat jempolnya tinggi-tinggi dan memberikan senyum lebarnya.

“Tapi kita harus bertempur melewati SNBT ini dulu,” jawabnya mantap.

Aku menatapnya sekali lagi, dan senyum lega akhirnya muncul di wajahku.

“Gausah diangkat gitu ketiaknya, Vin. Bau jengkol!”

Kami berdua Tertawa.

Ayah aku akan mengejar semua mimpi itu. aku akan menjadi anak perempuan yang kamu harapkan. Walau tanpa kehadiranmu lagi disini Ayah. Aku yakin, pasti Ayah mendengarkan semua cerita perjalananku. Jiwamu akan selalu bersamaku, Ayah.

Oleh: Aldita

Advertisements

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *