Nyala Dialektika 2026: Wadah Mahasiswa Membedah Realita Buruh dan Ekonomi Melalui Panggung Ekspresi

Dok. Sospol BEM Polines

Polines, Dimensi (09/05) – Kementerian Sosial Politik Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Politeknik Negeri Semarang (Polines) telah diselenggarakan acara Nyala Dialektika 2026 di Gedung Kuliah Terpadu (GKT) Lantai 2 Polines pada Jumat (08/05) lalu. Mengusung tema “Panggung Ekspresi”, kegiatan ini dirancang sebagai wadah mahasiswa membedah secara kritis realitas ketenagakerjaan dan ekonomi Indonesia saat ini. Melalui perpaduan diskusi intelektual dan seni, langkah ini diambil sebagai upaya menghidupkan kembali isu-isu buruh pasca-momentum May Day. Tak hanya itu, kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan literasi politik mahasiswa dan memberikan aksi nyata terhadap kondisi sosial yang ada. 

Ovi Permata Wulandari selaku ketua pelaksana menjelaskan bahwa acara ini merupakan bentuk penyampaian ekspresi terkait isu ketenagakerjaan. “Kami ingin menyampaikan ekspresi mengenai kondisi buruh dan pekerja saat ini agar mahasiswa paham realita di lapangan,” ujarnya. Konsep acara dirancang secara holistik dengan menggabungkan sesi talkshow edukatif, lapak buku untuk literasi, hingga panggung teatrikal oleh Teater Gema sebagai puncak ekspresi emosional. Muhammad Ibrahim selaku Penanggung Jawab Acara menjelaskan sesi teatrikal tersebut bertujuan untuk mengekspresikan kemarahan terhadap suatu isu. “Tema ‘Panggung Ekspresi’ diangkat untuk menyesuaikan sesi teatrikal, karena seni dapat mengekspresikan kemarahan terhadap suatu isu  serta melihat isu melalui karya-karya yang ada,” jelasnya. 

Selain  itu, terdapat kegiatan talkshow yang menghadirkan narasumber lintas sektor, mulai dari Wakil Ketua komisi B DPRD Jawa Tengah, Dinas ketenagakerjaan (Disnaker) Kota Semarang, perwakilan Koordinator Konfederasi Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI) Jawa Tengah, serta ketua BEM Universitas Gajah Mada periode 2025/2026. Dalam kegiatan tersebut menciptakan diskusi dua arah yang dinamis mengenai isu-isu yang beredar. Topik standar UMR Jawa Tengah yang rendah, perlindungan aktivis, hingga efektivitas program pemerintah menjadi bahan perdebatan yang menarik untuk dibahas. Muhammad Farell Aditya, mahasiswa Jurusan Akuntansi mengungkapkan ketertarikannya hadir pada acara ini  karena didorong keresahan akan ketidakpastian kelas pekerja. “ Sebagai mahasiswa vokasi yang dipersiapkan untuk terjun ke dunia industri saya tertarik dengan pembahasan keresahan di bidang ekonomi dan ketenagakerjaan dalam acara ini meliputi lapangan kerja dan ketidakpastian kesejahteraan pekerja,” jelasnya. 

Diskusi ini pun terbukti memberikan impresi mendalam bagi peserta lain seperti Tabriza Mahasiswi Jurusan Akuntansi yang mengaku mendapatkan pemahaman lebih luas. “Acara ini  membuat pikiran saya terbuka mengenai isu ketenagakerjaan yang ada,”ujar Tabriza.

Nyala Dialektika 2026 membuktikan bahwa BEM Polines dapat mengemas isu politik dan ekonomi yang kompleks secara menarik dan menyentuh sisi humanis mahasiswa. Sebagai penutup, Ibrahim menekankan pentingnya keberlanjutan semangat kritis di lingkungan kampus. Ia menambahkan bahwa acara tersebut diharapkan memotivasi mahasiswa untuk berani memperjuangkan hak pekerja. “Kami ingin mahasiswa lebih peka dan kritis. Oleh karena itu, acara ini diharapkan mampu memotivasi mahasiswa untuk berani bergerak memperjuangkan hak-hak pekerja demi kesejahteraan masyarakat di masa mendatang,” pungkasnya.

(Almira dan Salsa)

Advertisements

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *