Notice: Function _load_textdomain_just_in_time was called incorrectly. Translation loading for the popup-builder domain was triggered too early. This is usually an indicator for some code in the plugin or theme running too early. Translations should be loaded at the init action or later. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.7.0.) in /home/lpmdimensi/public_html/wp-includes/functions.php on line 6260

Notice: Function _load_textdomain_just_in_time was called incorrectly. Translation loading for the insert-headers-and-footers domain was triggered too early. This is usually an indicator for some code in the plugin or theme running too early. Translations should be loaded at the init action or later. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.7.0.) in /home/lpmdimensi/public_html/wp-includes/functions.php on line 6260

Notice: Function _load_textdomain_just_in_time was called incorrectly. Translation loading for the wp-optimize domain was triggered too early. This is usually an indicator for some code in the plugin or theme running too early. Translations should be loaded at the init action or later. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.7.0.) in /home/lpmdimensi/public_html/wp-includes/functions.php on line 6260

Notice: Fungsi _load_textdomain_just_in_time ditulis secara tidak benar. Pemuatan terjemahan untuk domain hueman dipicu terlalu dini. Ini biasanya merupakan indikator bahwa ada beberapa kode di plugin atau tema yang dieksekusi terlalu dini. Terjemahan harus dimuat pada tindakan init atau setelahnya. Silakan lihat Debugging di WordPress untuk informasi lebih lanjut. (Pesan ini ditambahkan pada versi 6.7.0.) in /home/lpmdimensi/public_html/wp-includes/functions.php on line 6260
Dekapan Aksara pada Jiwa yang Terbalut Luka – LPM Dimensi

Dekapan Aksara pada Jiwa yang Terbalut Luka

Doc : pinterest.com

Mulanya hampa,
mengakar dalam jiwa
dan menjalar tersara-bara.
Sebuah pena yang menyerana,
membisu di atas kalbu nan kosong
hingga kesudahannya, kembali menjumpai
sang empu nan telah bernas dicumbu
oleh aksara-aksara rancak dalam puisi.

Dari sana, kita memahami puisi:
pena berkutik menitikkan darahnya
hitam jengat asak makna;
setiap gores dawat yang bertapak
ialah cinta tak terkebat jarak.
Sebab,
ia cawis kapan pun selaku persemayaman setia
mahir menadah sekujur bisikan resah nan gemelugut
lalu, terpatri pada tiap lembarnya—bait, larik,
dan kata yang takkan sempat lekang oleh zaman,
membalut sayatan luka nan tengah menganga,
menampung sarwa air mata yang pecah; tumpah ruah—
meluap penaka air bah yang segenap waktu terdesak.

Dari sana, kita memahami puisi:
yang nyalar menjelma kasih ibu; tatkala merapal pula menorehnya, laksana raksi keteduhan kian tersua,
seolah meluangkan dekapan di sela-sela pelik—yang kian mencekik. Mendekap seberinda lewat mantra
dikara aksara demi aksara.

Dan kita memahami puisi,
barangkali puisi ialah oase nan layak
guna ruang meditasi pepak langgas. Letak pulang
semata-mata rehabilitasi diri, memulihkan atma.

Ihwal puisi dan dirinya:
meraba kata
& menggelorakan dawat
selaku sejawat
dalam loka nan baka.

(Nanda Ummu Na’immah)

Advertisements

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *