Jarik Ibu yang Terjual

Matahari siang sudah beranjak turun dari batas tertingginya, suasana sore hari yang cerah mulai nampak melingkupi hati siapapun yang merasakannya. Tapi tidak untuk suasana seorang gadis manis  berusia 18 tahun ini. Suasana cerah sore hari ini tidak mampu untuk mengalahkan kecerahan hatinya. Sepeda tuanya yang mulai rapuh, berdecit di sana dan di sini terlihat semakin mengenaskan karena ulah gadis ini, di kayuhnya sepeda tua tak berdaya itu dengan semangat 45’ ala pahlawan jaman dulu katanya.

Suara decitan ban sepeda tua yang berpadu dengan sandal jepit yang nyaris putus mampu membuat telinga siapapun jengah mendengarnya. Sepeda tua itu tanpa re,, tak seperti kebanyakan sepeda-sepeda modern lain yang mahal harganya, sandal jepitpun tak jadi masalah, ketimbang harus menabrak kursi tua milik nenek lagi seperti minggu lalu, hanya karna hal itu nenek merajuk bukan kepalang. Disandarkan sepeda tua itu di  gribik bambu rumahnya, yang tak kalah tua dengan sepedanya.

“ ibu?” bahkan tanpa suara sekeras itu pun ibu pasti akan mendengar suara gadis itu, tapi gadis itu tak peduli hatinya terlampau bahagia saat ini.

“ apa na??” tak tahan mendengar teriakan anak gadisnya ibu menjawab dengan nada yang tak kalah tinggi.

“bu!”

“apasih” ibu masih tidak mengerti dengan tingkah putri pertamanya ini, menjawab dengan acuh sembari melanjutkan kegiatannya menggoreng kacang tanah untuk bahan bumbu lotek dagangannya esok hari.

“bu, lina lolos tes kepolisian tahap kabupaten kudus bu, besok tes terakhir tahap provinsi jawa tengah, dan kalau aku bisa lolos tahap itu, aku akan jadi polisi bu” setengah menangis lina menjawab ibunya.

Seketika ibu menghentikan kegiatannya dan melihat putrinya itu, air mata tampak jelas menggenang di kedua pelupuk matanya, sedang air mata lina menggantung nyaris jatuh membasahi pipinya. Lina pun seketika berlari menghambur kepelukan ibunya, mereka pun menangis bersama.

“ada apa sih ini?” Tanya nenek yang tidak tahu menahu dengan apa yang sedang terjadi.

“Mbah-mbah kenapa to mbah?” joko adik terakhir lina yang berusia 7 tahun mengerjap-ngerjapkan mata tak mengerti dengan apa yang tengah terjadi pada ibu dan kakak pertamanya itu.

“loh ya gak tau to nak” seperti biasa mbah menjawab dengan acuh. Setelah puas bertangis-tangisan bersama ibunya, lina mengalihkan perhatian kepada neneknya.

“ mbah” lina berlari menghambur kepelukan neneknya, seketika neneknya memberontak berusaha melepeaskan dirinya dari pelukan lina.

“heeh kenapa to na? ”  nenek yang merasa risih dengan pelukan cucunya itu.

“ mbaah aku lolos tes polisi tahap kabupaten kudus mbah” lina menjawab dengan sangat bersemangat.

“eh, beneran tah nduk?”, nenekpun ikut tersenyum bahagia mendengar kabar itu. Lina hanya mengangguk. Seakan tak percaya dengan jawaban lina,  nenek mengalihkan pandangannya kepada ibu, ibu hanya memberikan jawaban dengan anggukan kepala mantap.

Kini mbah yang ngotot merengkuh cucunya kedalam pelukannya, namun berbeda dengan neneknya lina sama sekali tidak menolak rengkuhan neneknya itu. Joko yang masih belum terlalu mengerti dengan apa yang terjadi hanya berlari-lari kegirangan, sembari berteriak “ hore, mbakku jadi polisi, asik”. Melihat tingkah joko semua orang yang ada di dapur sempit yang sangat sederhana itu tertawa dan menghapus air mata bahagia mereka masing-masing.

“ buk gosong” seketika Joko menghentikan langkah-langkah kecilnya, dan menunjuk pawon sederhana milik ibunya, dimana yang terlihat di situ hanya sewajan kacang tanah hangus kehitaman.

“yah gosong “ ibu yang baru menyadari bahwa kacang goreng nya telah berubah menjadi arang kacang seketika itupun panik, seember air diguyurkan ibu ke pawon kecilnya. Tidak hanya apinya yang padam, semua kacang hangusnya ikut terendam air. Namun tidak sedih atau kecewa karena kacang gorengnya yang menjadi modalnya berdagang hangus menjadi arang dan air di dalamnya, ibu malah tertawa bahagia.

“ ya sudah lah, kita mendapatkan yang lebih, daripada hanya sekedar kacang goreng”, ibu tersenyum,  senyum yang bahkan tak pernah lina lihat selama 18 tahun dia menjadi putri ibu, semenjak kesulitan-kesulitan yang menimpa mereka.

Pagi-pagi, bahkan sebelum matahari beranjak dari tidurnya, lina dan ibunya telah meninggalkan kota kudus dengan omprengan tua menuju kota semarang, butuh setidaknya waktu 2 jam dari kota kudus menuju semarang. Waktu tes babak akhir diadakan pukul 07.00 wib dan mereka harus berada di lokasi tes setidaknya satu jam sebelum tes diadakan.

“bu” lina menyenggol lengan ibunya

“kenapa?” ibu mengalihkan pandangannya dari jalanan di depannya, dan menatap wajah lina.

“nanti kalo aku udah jadi polisi, jariknya ibu yang ibu jual, buat ongkos ke semarang, bakal aku ganti sama jarik yang 100 kali lebih bagus ya”

Ibu mengelus kepala lina dengan lembut “gak usah na, ibu ikhlas ko, gak pernah ada ibu yang berharap akan mendapat balasan apapun dari keberhasilan anaknya”

Lina hanya tersenyum dan memeluk ibunya erat-erat. “doain aku berhasil ya bu”

“pastinya, selalu.”

Waktu beranjak siang, ketika akhirnya lina berjalan menghampiri ibunya di kedai makan tempat ibu menunggu lina selama test berlangsung.

“gimana na? berhasil?” ibu yang sedari tadi cemas menunggu hasil test, langsung bertanya bahkan sebelum lina duduk.

“belum bisa dibilang berhasil bu, tapi belum bisa dibilang gagal juga.” Lina menjawab dengan tidak semangat petanyaan ibunya.

“lho kok gitu? Maksudnya gimana?”

“ aku bisa berhasil cuman ada syarat yang harus aku penuhi”

“apa nduk?”

“ aku harus bayar bu”
“haah bayar nduk, bayar apa?” ibu sangat terkejut dengan apa yang barusana putrinya katakan, bukannya negara ini bersih tanpa suap, apalagi ini pendaftaran kepolisian, aparat penegak hukum negara ini, kenapa justru ada praktik suap di dalamnya.

“aku harus bayar uang satu juta lima ratus ribu bu, buat biaya akomodasi, bahasa kasarnya aku harus nyogok satu juta lima ratus.” Kata lina terduduk lemas di samping ibu, ibu pun merasakan hal yang sama.

“kalo aku bisa memenuhi syarat yang itu, aku lolos seratus persen jadi polisi buk.” Kini lina mengalihkan pandangannya, menatap langit yang sudah ranum jingga, bermaksud menahan air matanya agar tidak jatuh di hadapan ibunya.

“ ibu tidak sanggup na, kalo harus bayar segitu, kamu kan tau untuk bayar ongkos omprengan kesini tadi aja ibu mesti jual jarik” ibu mengelus wajahnya pias.

“iya, aku tau bu” lina hanya mengangguk lemah.

“ayahmu nduk, ibu yakin dia pasti punya.” Ibu memberikan alternatif jawaban kepada lina.

“ gak buk gak usah, ayah kan sudah asik dengan keluarga barunya, mungkin dia sudah lupa kalau dia punya anak disini” nada  bicara lina berubah dingin.

“ coba dulu nduk, gak ada salah nya, demi impianmu, dia juga punya tanggung jawab yang mesti dia tunaikan di sini, untuk masa depanmu.” Ibu masih berusaha meyakinkan lina.
“tapi buk, . . .” lina semakin frustasi mengahadapi masalahnya kini.

“ demi masa depanmu nduk, demi hidupmu, dia juga ayahmu” nada suara ibu berubah lembut, berusaha menghadapi kekerasan hati putrinya ini.

“ ya aku coba.”

Tidak seperti saat berangkat yang penuh dengan harapan, kini mereka pulang dengan perasaan hampa, hanya sedikit harapan yang bahkan tidak berani untuk lina bayangakan sedikitpun.

Kini  sepeda tua rapuh itu kini harus kembali berjuang bersama pemiliknya, entah sudah berapa kilometer jalan yang lina susuri,jarak antara grobogan kudus tidak bisa di bilang dekat . Rasanya sudah nyaris patah kaki lina mengayuh sepeda tua nya, menyusuri jalanan demi menjumpai seseorang yang katanya “ayahnya” itu. Matahari bersinar dengan sangat terik, namun lina tidak berputus asa “ demi masa depan ku,” pikirnya. Akhirnya setelah 2 jam mengayuh sepeda tua nya, lina tiba di sebuah rumah, tidak mewah tapi sudah pasti jauh lebih besar dari gribik bambunya. Hatinya antara terbelah dua antara malu akan di sebut pengemis atau antara memperjuangkan masa depan nya dan kebahagian ibu.

“yah” lina mendekati seorang laki-laki gagah, tinggi besar yang sedang menikmati waktu istirahat siang nya.

“eh nduk, kamu ngapain kesini” ayah Nampak kaget putri yang nyaris tak pernah iya lihat selama hampir lebih dari tiga tahun itu kini muncul di hadapan nya.

“yah, aku..” belum sempat lina menyelesaikan kalimat nya ayah terlebih dulu memotong pernyataan nya.

“kamu pasti mau minta uang” wajah lina kini telah tertunduk semakin dalam. Lalu dibulatkan tekadnya, “jika harus basah, kuyup sekalian, jika harus malu, malu seutuhnya menjadi pengemis walau terhadap ayahnya sekalipun tak apa lah” pikirnya.

“iya yah, aku daftar polisi, di test terakhir kemarin aku lolos dengan  satu syarat aku harus memberikan sejumlah uang sebagai ganti akomodasi, atau bahasa sekarang aku harus nyogok yah” di tegakkan kepala lina dan di tatapnya mata ayah nya itu lekat-lekat.

“ayah gak punya” hanya tiga buah kata yang mampu meruntuhkan hati lina seketika.
“tapi yah, mbak endang aja ayah kuliahkan, kenapa sekarang aku nggk yah?” dengan sekuat tenaga lina menahan air matanya.

“ ya itu karena.. karena” ayah tidak mampu menjawab pertanyaan lina.

“kenapa yah?” kali ini air mata lina tidak mampu untuk dia bendung lagi.

“terus kalo ayah bayar, apa ya kamu bakal berbakti ke ayah? Apa yang akan kamu kasih ke ayah?” bukan nya menjawab pertanyaan lina, ayah justru menyerang lina dengan pernyataan yang lebih menyakitkan.

Akhirnya lina pun menyudahi mimpi nya untuk menjadi seorang polisi, tapi tidak dengan mimpinya menukar jarik ibunya dengan jarik yang seratus kali lebih baik.

_TAMAT_

Advertisements

Mungkin Anda juga menyukai

1 Respon

  1. andi Saputra berkata:

    Ceritanya sangat menginspirasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.