Nasib Sampah di Polines

Berkaitan dengan galeri foto yang berjudul Menikmati kawasan kumuh di polines setelah melakukan penelusuran ternyata menurut beberapa sumber, sampah tersebut berasal dari mahasiswa yang masih belum memiliki kesadaran untuk membuang sampah pada tempatnya, contoh sederhananya dapat kita lihat pada laci laci meja kelas di jurusan Akuntansi dan Administrasi Bisnis. Disana masih terdapat banyak sampah sisa bungkus makanan yang ditinggalkan begitu saja. Tidak hanya di dalam kelas, ternyata banyak tumpukan sampah di banyak titik di dalam kampu seperti di belakang mushola Tata Niaga, di depan laboratorium Unit Kegiatan Mahasiswa(UKM) Pengembangan Pengetahuan (PP) dan kantin teknik. Seperti yang sudah kita ketahui, sampah sangat mengganggu baik dari segi pemandangan maupun baunya yang busuk.

Menurut Astuti selaku ketua dari Koperasi Pegawai Republik Indonesia (KPRI ) Polines, sampah tersebut berasal dari mahasiswa yang mebuang sampah secara sembarangan,. “Yang ada di depan KPRI ini sudah ditata rapi tetapi jika kita melihat ke sebelah kanan KPRI sampahnya tidak teratur dikarenakan adanya kantin dan UKM yang sering membuang sampah sembarangan”

Tidak hanya Astuti, Novi selaku pengelola kantin teknik juga menuturkan bahwa penyebab utama tumpukan sampah di Polines adalah mahasiswa sendiri. “Kalau urusan sampah di Polines ya susah juga ya mbak soalnya masih banyak mahasiswa yang meninggalkan sampahnya di sembarang tempat dan tidak dibersihkan,” ujar Novi kepada Dimensi di sela-sela kesibukannya melayani mahasiswa yang sedang makan di kantin teknik.

Feryan Romadhon, salah seorang mahasiswa yang menempati UKM di sekitar tumpukan sampah di depan UKM PP mengatakan bahwa mahasiswa sudah melakukan komunikasi dengan pihak institusi terkait sampah yang berada di kawasan PKM lama. “Sudah sering kami penduduk di sekitar tempat sampah samping lapangan badminton kantin teknik membersihkannya, berupaya agar tidak lagi dijadikan tempat sampah. Bukan tergerak lagi, beberapa upaya telah dilakukan sampai menghubungi pihak direktorat. Kami juga risih, setiap ada kegiatan disitu pemandangannya sampah..”

Banyak pihak mengharapkan adanya pembuatan sampah besar di area Polines , termasuk juga pemisahan tempat sampah untuk sampah organik dan anorganik serta mengadakan kerja bakti untuk seluruh warga Polines. Muhammad Yusuf, ketua UKM PP mengatakan, “Kita sebagai warga Polines harus menyediakan tempat sampah yang baik , dan tempat sampahnya harus dapat dibeda-bedakan selain itu kita juga harus mengadakan kerja bakti untuk membersihkan Polines”, tuturnya.

“Mahasiswa, institusi, petugas kebersihan , dan siapaun wajib menjaga kebersihan terutama sampah, saling mengingatkan, tapi kalau hanya mengingatkan tanpa adanya persuasi yang baik juga nol akibatnya, mengingatkan sudah, selanjutya ya mengajak menjaga kebersihan, bersih bareng-bareng, tapi kalau yang diajak tidak mau ya juga nol hasilnya,” lanjut Yusuf.

Menanggapi hal hal tersebut, Noor Ardiansyah yang menjabat sebagai Wakil Direktur II menuturkan alasan penumpukan sampah tersebut adalah adanya ketersumbatan pengangkutan sampah selama 2-3 bulan. “Sempat kita mengalami 2-3 bulan jasa yang sudah kita minta untuk mengangkut sampah mengalami ketersumbatan, saya tidak tahu prosesnya, apa pengirimannya yang terlalu jauh di jatibarang sana atau bagaimana. Sehingga sampah menumpuk di Akuntansi dan Elektro, jadi dapat saya sampaikan penumpukan sampah ini bersifat insidental.”.

Diputuskan Untuk Dibakar dan Ditimbun

Lubang besar di belakang gedung jurusan Akuntansi semula adalah tempat pembakaran sampah-sampah kering namun karena musim hujan telah tiba, pembakaran tersebut dihentikan. Sedangkan untuk sampah basah, institusi merencanakan akan menimbun sampah basah di bukit dekat dengan Ruang Serba Guna (RSG). Ardiansyah melanjutkan, pihaknya ingin mengadakan pemilihan sampah. “Saya menargetkan untuk memilah sampah yang mana akan di recycle, dibuang ke kontainer atau diberikan kepada pemulung dan saya juga bercita-cita untuk mengadakan mesin pengolah sampah.”

“Saya juga masih berusaha untuk menyelesaikan masalah sampah tersebut tetapi kan tidak mungkin saya tangani sendiri jadi semua pihak harus bergerak untuk menyelesaikan permasalahan sampah tersebut,” pungkasnya.

 

Ditulis oleh Nurindah Suminaringwulan, Kru LPM Dimensi 2015/2016.

Advertisements

Mungkin Anda juga menyukai

1 Respon

  1. Vivi berkata:

    Seharusnya ada penambahan fasilitas tempat sampah yang telah terbagi seperti organik, non organik dan logam atau lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.