Notice: Function _load_textdomain_just_in_time was called incorrectly. Translation loading for the popup-builder domain was triggered too early. This is usually an indicator for some code in the plugin or theme running too early. Translations should be loaded at the init action or later. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.7.0.) in /home/lpmdimensi/public_html/wp-includes/functions.php on line 6260

Notice: Function _load_textdomain_just_in_time was called incorrectly. Translation loading for the insert-headers-and-footers domain was triggered too early. This is usually an indicator for some code in the plugin or theme running too early. Translations should be loaded at the init action or later. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.7.0.) in /home/lpmdimensi/public_html/wp-includes/functions.php on line 6260

Notice: Function _load_textdomain_just_in_time was called incorrectly. Translation loading for the wp-optimize domain was triggered too early. This is usually an indicator for some code in the plugin or theme running too early. Translations should be loaded at the init action or later. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.7.0.) in /home/lpmdimensi/public_html/wp-includes/functions.php on line 6260

Notice: Fungsi _load_textdomain_just_in_time ditulis secara tidak benar. Pemuatan terjemahan untuk domain hueman dipicu terlalu dini. Ini biasanya merupakan indikator bahwa ada beberapa kode di plugin atau tema yang dieksekusi terlalu dini. Terjemahan harus dimuat pada tindakan init atau setelahnya. Silakan lihat Debugging di WordPress untuk informasi lebih lanjut. (Pesan ini ditambahkan pada versi 6.7.0.) in /home/lpmdimensi/public_html/wp-includes/functions.php on line 6260
Budaya Literasi Gen Z Tergeser oleh Kemajuan Teknologi – LPM Dimensi

Budaya Literasi Gen Z Tergeser oleh Kemajuan Teknologi

Sumber: Kompasiana.com

Generasi Z (Gen Z) yang lahir di rentang tahun 1997 hingga 2012 dipandang sebagai calon pemimpin masa depan bangsa. Akan tetapi, minat baca yang rendah pada generasi ini menimbulkan kekhawatiran serius. Rendahnya literasi sering kali dikaitkan dengan kurangnya kreativitas, inovasi, dan kemampuan berpikir kritis, yang merupakan keterampilan fundamental untuk menghadapi tantangan global. Selain itu, riset Gallup juga menunjukkan bahwa literasi yang rendah mempengaruhi kurangnya produktivitas kerja. Kondisi ini sangat kontras dengan negara-negara maju, seperti Finlandia dan Jepang yang memiliki tingkat literasi tinggi. Tingkat literasi tersebut berkorelasi langsung dengan kualitas pendidikan dan daya saing global.

Fenomena ini memicu pertanyaan mendasar, apakah kemajuan teknologi menjadi penyebab utama menurunnya minat baca Gen Z? 

Data dari Laporan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2023 menjelaskan bahwa lebih dari 98% anak muda di Indonesia menggunakan internet dengan rata-rata durasi 8 jam per hari. Sebagian besar waktu tersebut dihabiskan untuk media sosial dan hiburan, bukan untuk kegiatan literasi. Di sisi lain, UNESCO melaporkan bahwa indeks minat baca di Indonesia sangat rendah, yaitu 0,001, yang berarti hanya 1 dari 1.000 orang yang benar-benar gemar membaca. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) juga menunjukkan tingkat minat baca yang stagnan dan bahkan menurun di beberapa kelompok usia. Hal ini, berbanding terbalik dengan peningkatan pesat pengguna internet yang mencapai lebih dari 73% pada tahun 2022.

Data tersebut menunjukkan bahwa media sosial memperburuk masalah ini. Hal ini disebabkan oleh algoritma media sosial yang dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna dengan menyajikan konten yang menghibur.  Di satu sisi, teknologi informasi (TI) menawarkan kemudahan luar biasa dalam mengakses informasi, mulai dari buku elektronik (e-book), artikel daring hingga media sosial. Namun, kemudahan ini justru melahirkan “scrolling culture”. Dimana Gen Z lebih sering mengonsumsi konten-konten singkat seperti video TikTok, Instagram Reels, atau cuplikan berita visual lainnya. Alih-alih membaca buku sejarah, mereka lebih memilih menonton ringkasan dalam format video pendek yang lebih cepat dan mudah dicerna.Akibatnya, Gen Z menjadi rentan terhadap disinformasi dan kehilangan minat pada sumber-sumber informasi yang kredibel.

Mengatasi permasalahan tersebut, individu dapat memulai dengan mengurangi “screen time” dan mengalihkannya untuk membaca buku atau artikel berita penting. Selain itu, teknologi dapat dimanfaatkan secara positif untuk mempromosikan literasi, seperti melalui e-book dan platform audio book. 


(Tim Riset)

Advertisements

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *