Dari Sawit ke Tangki BBM: Cara Kerja Efek B50 Bagi Lingkungan dan Ekonomi

Doc: Suara.com

KARAWANG – Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) resmi meluncurkan program mandatori Biodiesel 50% (B50), yaitu campuran 50% biodiesel berbasis minyak sawit dan 50% solar fosil. Program ini diluncurkan sebagai kelanjutan dari program Biodiesel 40% (B40) yang telah berjalan sejak awal 2025. Program ini merupakan hasil dari pengembangan bahan bakar nabati nasional yang dimulai sejak tahun 2008.

Implementasi B50 diproyeksikan mampu menghemat devisa negara hingga Rp170 triliun per tahun. Selain itu, program ini juga meningkatkan nilai tambah Crude Palm Oil (CPO) dari Rp20,92 triliun pada program B40 menjadi Rp23,49 triliun pada program B50. Menurut Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia penghematan tersebut dapat terjadi karena Indonesia tidak lagi mengimpor solar. Kondisi ini dinilai dapat memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar impor.

Bahlil juga menyatakan bahwa program B50 meningkatkan penyerapan tenaga kerja, dari 1,8 juta orang pada program B40 menjadi 2,1 juta orang pada program B50. “Meningkatkan penyerapan tenaga kerja dari sekitar 1,8 juta orang pada program B40 menjadi 2,1 juta tenaga kerja dengan B50,” ujarnya. Pemerintah juga memastikan harga Biosolar bersubsidi tetap stabil di Rp6.800 per liter agar tidak membebani daya beli masyarakat kecil.

Dari sisi lingkungan, penerapan program B50 menjadi salah satu upaya pemerintah dalam mempercepat agenda dekarbonisasi nasional. Campuran biodiesel ini diklaim mampu mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil sekaligus menekan emisi gas rumah kaca. Bahlil menyampaikan program B40 berhasil menurunkan emisi sebesar 39,66 juta ton CO₂, sedangkan pada program B50 mampu menurunkan hingga 44,46 juta ton CO₂. Nilai tersebut menunjukkan bahwa jumlah emisi yang berhasil ditekan menjadi lebih besar dibandingkan sebelumnya.

Kementerian ESDM memastikan kesiapan implementasi program B50 melalui serangkaian uji teknis komprehensif pada berbagai sektor, mulai dari kendaraan bermotor, alat berat pertambangan, mesin pertanian, kereta api, angkutan laut, hingga pembangkit listrik. Hasil pengujian tersebut membuktikan bahwa bahan bakar B50 memenuhi spesifikasi teknis yang ditetapkan oleh pemerintah dan standar pabrikan kendaraan.

Presiden Prabowo Subianto meminta pengembangan biodiesel terus dilanjutkan hingga tahap berikutnya. “Teruskan, jangan berhenti di B50. Kalau bisa B60,” ujarnya. Ia berharap pencapaian tersebut menjadi langkah penting dalam memperkuat kemandirian energi nasional melalui pemanfaatan sumber daya alam secara optimal demi kemakmuran rakyat.

(Salsa)

Advertisements

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *