Soroti Candaan Murahan LDK, Danlat Hingga Satgas PPKPT Angkat Bicara

Ilustrasi: Gesit

Polines, Dimensi (30/08) – Latihan Dasar Kedisiplinan (LDK) Politeknik Negeri Semarang (Polines) 2026 gelombang kedua digelar pada Kamis–Jumat (21–22/08) di Lapangan Tembak, Tembalang. Kegiatan tersebut mendapat sorotan setelah peserta menyampaikan keluhan melalui unggahan akun instagram @polinesstory terkait candaan pelatih yang dinilai kurang pantas terhadap peserta perempuan. 

Berdasarkan pengakuan sejumlah mahasiswa baru (maba), ketidaknyamanan dirasakan sejak hari pertama saat kegiatan penyampaian jargon dan tepuk kelompok. B, maba Akuntansi, menyebutkan bahwa pelatih kompinya sempat mengusulkan seruan balasan yang dianggap kurang pantas pada akhir jargon, khususnya bagi peserta perempuan. Ia menambahkan bahwa peserta menyampaikan keberatan sehingga instruksi tersebut akhirnya dapat diganti.

Pengalaman serupa juga disampaikan oleh L, maba Teknik Elektro. Ia menceritakan kejadian tersebut terjadi saat peserta melakukan tepuk setengah setelah outbound. Saat tepuk setengah, peserta dilarang bertepuk tangan, tetapi diminta bersuara. Peserta laki-laki menyerukan kata “eaak”, sedangkan peserta perempuan diinstruksikan untuk menyerukan kata yang bernuansa seksual. 

Hal serupa juga terjadi saat pentas seni. A, maba Teknik Mesin, mengatakan pelatih sempat meminta peserta laki-laki untuk melontarkan gombalan kepada peserta perempuan dengan candaan, “Kalau jeruk mengandung vitamin C, kalau kamu mengandung anak-anak kita nanti.” A menilai candaan tersebut kurang sopan. “Menurut saya itu kurang sopan dan menyinggung perasaan,” ujarnya. 

Menanggapi isu tersebut, Komandan Latihan (Danlat) LDK 2026, Mayor Infanteri Kamidi, menegaskan bahwa pelatih tidak bermaksud untuk merendahkan atau melecehkan peserta. Ia menjelaskan, interaksi pelatih dengan peserta di lapangan dimaksudkan untuk mencairkan suasana dan mempererat kebersamaan. “Dari awal briefing pelatih sudah saya sampaikan, tidak ada pelatih yang melecehkan ke mahasiswa. Tujuannya untuk menggugah semangat. Tapi persepsi penerima kan berbeda,” tegasnya. Ia juga membuka ruang bagi peserta yang merasa dirugikan untuk melapor langsung kepadanya. “Saya inginnya peserta yang merasa terintimidasi, merasa disudutkan, merasa dilecehkan seksual, melapor sama saya,” tuturnya.  

Sementara itu, Ketua LDK Polines 2026, Musyafa Alfarizi, menyatakan telah berkoordinasi dengan pihak TNI terkait persoalan tersebut. “Kami menampung aspirasi. Kalaupun ada data dan temuan, nanti kita klarifikasikan dengan pihak TNI sebagai bahan evaluasi LDK berikutnya,” ujarnya. Musyafa menambahkan, penanganan lebih lanjut akan diserahkan kepada Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (PPKPT) Polines. “Silakan dilaporkan kepada Satgas yang berwenang, yaitu PPKPT. Nanti pelapor menyampaikan berita acaranya di PPKPT,” imbuhnya.

Ketua Satgas PPKPT Polines, Siti Hasanah, mengonfirmasi telah menerima dan menindaklanjuti laporan  terkait dugaan tindakan kurang pantas dalam LDK. “Laporan sudah kami tindak lanjuti sesuai SOP penanganan, termasuk pengumpulan data, saksi serta pemanggilan pelapor dan terlapor,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa PPKPT akan mengkaji bukti-bukti dan menyerahkan rekomendasi kepada Direktur Polines. “Hasil yang sudah kita kumpulkan dan akan dikaji, kita rekomendasikan dengan disertai bukti-bukti, lalu kita bawa ke direktur,” imbuhnya. 

Hasanah menyebut laporan tersebut kini masuk antrean penanganan bersama tiga kasus lainnya dan akan diproses dalam kurun waktu maksimal 14 hari. 

(Almira, Wilda)

Advertisements

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *