Pihak Unnes Laporkan Mahasiswanya ke Polisi

 

Kronologis penutupan pintu besi rektorat saat aksi tolak segala bentuk pembungkaman demokrasi pada Rabu (26/7) di Universitas Negeri Semarang. Doc. Aprily

Semarang – DIMENSI, (27/7) Kepala Keamanan Universitas Negeri Semarang (Unnes) atas kuasa Rektor Unnes, Fathur Rokman laporkan dua mahasiswanya ke Kepolisisan Resor Kota Besar (Polrestabes) Semarang. Postingan akun facebook  Julio Belnanda Harianja dan Harist Ahmad Muzaki dalam akun instagramnya dengan foto  piagam untuk  Menteri menjadi dasar aduan pelapor ke polisi atas tindak pencemaran nama baik menggunakan media sosial. “Postingan kami di facebook dan instagram disanksikan kepada kami sebagai dakwaan kepada kami berdua,” ungkap Julio.

Akibat postingan tersebut, Julio dan Harist ditetapkan sebagai terlapor dan dijerat oleh pasal 45 Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) dan pasal 310 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), sedangkan Mohammad Adib selaku Presiden Mahasiswa (Presma) kini berstatus sebagai saksi.

 

Kronologis Kejadian

Pada Sabtu (6/5) lalu, Mohammad Nasir selaku Menteri Pendidikan, Riset, Teknogi, dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti) berkunjung ke Unnes. Dalam kunjungannya, Presma Unnes memberikan kajian pendidikan tinggi  dan piagam yang telah ditandatanganinya kepada Mohommad Nasir atas respon gejolak pendidikan tinggi, adanya penyimpangan terhadap semangat agenda pendidikan nasional serta kritik adanya sumbangan atau pungutan untuk pengembangan institusi.

“Awalnya yang dicita-citakan bahwa UKT tunggal, tapi kenyataan di lapangan seolah- olah mencederai UKT yang tunggal itu. Makanya kita buat piagam untuk mengkritik kalau UKT harus tunggal,” terang Harist.

Sama halnya Harist, Julio juga memberikan penjelasannya tentang tujuan diberikannya piagam tersebut kepada menteri. “UKT harus tunggal dalam Peraturan Menristek Dikti no. 39  tahun 2017. Namun di lapangan dipungut SPI, dan pernyataan UKT yang tunggal sangat disanksikan bahkan dari menteri. Kami sudah mendorong ke kementerian untuk diadakan perubahan, namun tidak ada respon. Kemudian kami menyiasatkan kepada menteri karena memang sistem UKT sudah tidak diterapkan,” ungkapnya.

Pada Minggu (7/5), Julio mengunggah foto piagam tersebut ke akun facebook pribadinya. Sementara Harist mengunggahnya ke akun instagramnya. Lalu pada Selasa (9/5) pihak Unnes melaporkan kedua pengunggah foto piagam tersebut ke Polrestabes Semarang.

“Kunjungan menteri itu 6 Mei, kami upload tanggal 7, lalu tanggal 9 dia laporan dan baru diproses sekarang,” jelas Julio.

 

Pemanggilan Adib Sebagai Saksi

Rabu (26/7) lalu,  Adib memenuhi panggilan sebagai saksi dari Polrestabes Semarang pada pukul 10.00 WIB. “Saat saya dimintai keterangan, penyidik pun merasa heran karena tujuan piagam itu dibuat untuk diberikan kepada Menteri Ristek, kita sama sekali tidak menyinggung UNNES,” terang Adib.

Adib pun menyayangkan kepada pihak Unnes atas laporannya ke polisi. “Kenapa pihak Unnes melaporkan mahasiswanya sendiri. Itu tanda tanya besar. Ada keganjilan yang seharusnya melindungi malah menggunakan kekuasaanya,” cetusnya.

 

Aksi Tolak Segala Bentuk Pembungkaman Demokrasi

Seusai dipanggilnya Adib di Polrestabes, Gerakan Mahasiswa Pro-Demokrasi Semarang yang terdiri dari mahasiswa Unnes, Universitas Diponegoro (Undip), Univeristias Sultan Agung (Unnisula), Universitas Muhamadiyah Semarang (Unimus), Komunitas Payung, Satjipto Rahardjo Institute,  Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Semarang, dan Komunal Tireks melakukan aksi tolak segala bentuk pembungkaman demokrasi di depan gedung rektorat Unnes. Setibanya di depan gedung rektorat, massa langsung menyanyikan lagu Indonesia Raya untuk mengawali aksi. Namun saat sebelum dibacakan release, sejumlah satpam Unnes langsung menutup rapat pintu besi rektorat.

Dalam release tersebut, Gerakan Mahasiswa Pro- Demokrasi menuntut penghentian kriminalisasi gerakan rakyat dengan menggunakan UU ITE dan pasal 310 KUHP serta meminta agar pejabat negara tidak boleh anti kritik dan melakukan pembungkaman ruang demokrasi.

Setelah release selesai dibacakan, masing-masing perwakilan dari BEM se-Semarang Raya menyampaikan tanggapannya perihal pelaporan dugaan pencemaran nama baik tersebut. Buyung Aji Saputro selaku Presma Polines mengatakan bahwa BEM Polines siap untuk membela  BEM Unnes. “Rasanya iklim demokrasi kita semakin hari semakin terkikis dan dibungkam oleh sebab itulah kami datang kesini untuk berdiri diri diantara mahasiswa Unnes,” terangnya.

Sementara itu, BEM Undip yang diwakili oleh Aditya Nurulahi selaku Menteri Sosial Politik juga menyampaikan dukungannya atas nama BEM Undip kepada Adib. Perwakilan BEM Unimus pun menyatakan apresiasinya atas kehadiran mahasiswa sebagai bentuk solidaritas kepada mahasiswa Unnes atas ketidakadilan yang sedang terjadi. “Mulai dari Unnes, mari kita bergerak bersama melawan pelemahan pergerakan dan terus menegakan kebenaran,” terangnya.

Hingga massa bubar pun, tak ada tanggapan dari  pihak Unnes atas aksi tersebut. “Tak ada tanggapan dari pihak Unnes dan mereka malah menutup pintu besi rektorat,” ucap Julio.

(Richa & Aprily)

Advertisements

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.