Pemilihan Raya Polines Sepi Kandidat

Polines, DIMENSI (3/4) – Selain hanya ada calon tunggal presiden mahasiswa (presma) dan wakil presiden mahasiswa (wapresma), calon anggota Badan Perwakilan Mahasiswa(BPM) hanya berjumlah 26 kandidat dari 21 orang yang akan terpilih nantinya. Resiko kompensasi ditengarai menjadi alasan sepinya peminat pada Pemilihan Raya (Pemira) 2016 yang sedianya akan dilaksanakan pada Selasa (5/4).

Presiden Mahasiswa (Presma) 2015-2016, Bahrul Huda mengatakan bahwa keengganan mahasiswa pada kehidupan politik di kampus memang meningkat. “Biasanya mahasiswa malas berpartisipasi dalam kehidupan politik kampus karena dalam pikirannya saat ini hanya ingin kuliah agar besok bisa mencari kerja yang baik, selain itu saya sangat setuju jika salah satu faktor adalah pemberlakuan kompensasi, namun untuk menjadi kepengurusan memang harus ambil resiko itu,” ungkap Bahrul Huda.

Resiko pemberlakukan jam kompensasi juga diakui oleh Ahmad Jamaah selaku Wakil Direktur I. “Menjadi fungsionaris sebuah organisasi mahasiswa memang harus memiliki dasar-dasar yang kuat dari dalam hati. Ketatnya peraturan Polines (Politeknik Negeri Semarang-red) seperti pemberlakukan jam kompensasi memang membuat mahasiswa jadi agak mikir-mikir untuk ikut dalam kehidupan politik kampus,” kata Akhmad. Ia juga bercerita bahwa berdasarkan penilaian Kementrian Pendidikan Dikti (Kemendikti) pada tahun 2015 Polines menduduki ranking ke 67 dari seluruh Perguruan Tinggi di Indonesia namun memiliki nilai nol pada kategori kemahasiswaan, sehingga menurutnya tanggung jawab terbesar adalah pada institusi. “Jika sudah begini mungkin solusinya adalah pemberian diskusi kepada mahasiswa tentang pentingnya kegiatan berpolitik,” jelas Akhmad.

Ketua BPM Ario Adhiguna, juga mengungkapkan bahwa dalam hal ini tidak ada yang bisa disalahkan, menurutnya semua ikut bertanggungjawab akan hal ini. “Semuanya mbalik lagi ke mahasiswanya, mungkin mereka mencari sifat kepemimpinan atau partisipasi politik mereka dari luar Polines jadi meskipun tidak aktif dalam kegiatan organisasi di kampus mereka masih bisa mencari dari luar, dan untuk kaderisasi tentu kan memang semua mahasiswa gak mungkin masuk BPM atau BEM semua. Tapi kami tetap percaya bahwa kepengurusan BEM atau BPM tetap terpenuhi,” jelas Ario.

Yulia Haryono selaku mahasiswa jurusan Administrasi Bisnis mengatakan bahwa adanya satu calon presma menjadi bukti kurangnya minat mahasiswa untuk berpartisipasi dalam politik di kampus. “Di lain sisi, hal ini membuktikan bahwa bakal calon kepemimpinan di kalangan mahasiswa memang masih kurang. Sehingga perlu diadakan pemahaman lebih terhadap kepemimpinan,” jelas Yulia.

 

Ditulis dan diliput oleh: Anggun

Telah diterbitkan pada Buletin Cetak Edisi Pra Pemira 2016

Advertisements

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.