Manusia Amatir

doc: pinterest.com

Pada mulanya kalang kabut,
ia ripuh membaca diri sendiri.

Seperti seekor semut yang tak sengaja turut luruh
bersama selembar daun yang jatuh dari dahan pohonnya,
lalu terdampar di atas dada sungai
begitulah takdir menjatuhkannya
pada ruang yang tak sepenuhnya ia dambakan.

Pada aliran arus yang masih asing,
kebingungan demi kebingungan membuatnya kalut
alih-alih berupaya pergi, ia justru terus-menerus di sana.
Sebab, ia paham bahwasanya
melangkah satu senti saja dari tepi daun,
rahim sungai pasti menenggelamkannya dalam-dalam
pada ketidakpastian yang bercabang.

Ia mengeja setiap apa yang dirasa,
namun masih gagal.
Lantas mendadak muncul sebaris tanya:
“Inikah bentuk menyelamatkan diri? atau sebuah pasrah yang dipaksakan?”

Ia diam.
Dan mulai percaya bahwa barangkali
jika ia mampu bersabar dan membiarkan daun
mengikuti riak arus yang ada,
bukankah masih mungkin akan sampai di tepian?

Maka,
ia tetap bertahan.

Sebab, ia hanyalah manusia amatir
yang belajar bertahan hidup
dengan harapan ikhlasnya
lekas mencapai titik paling tabah.

(Nanda Ummu Na’immah)

Advertisements

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *