Notice: Function _load_textdomain_just_in_time was called incorrectly. Translation loading for the popup-builder domain was triggered too early. This is usually an indicator for some code in the plugin or theme running too early. Translations should be loaded at the init action or later. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.7.0.) in /home/lpmdimensi/public_html/wp-includes/functions.php on line 6260

Notice: Function _load_textdomain_just_in_time was called incorrectly. Translation loading for the insert-headers-and-footers domain was triggered too early. This is usually an indicator for some code in the plugin or theme running too early. Translations should be loaded at the init action or later. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.7.0.) in /home/lpmdimensi/public_html/wp-includes/functions.php on line 6260

Notice: Function _load_textdomain_just_in_time was called incorrectly. Translation loading for the wp-optimize domain was triggered too early. This is usually an indicator for some code in the plugin or theme running too early. Translations should be loaded at the init action or later. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.7.0.) in /home/lpmdimensi/public_html/wp-includes/functions.php on line 6260

Notice: Fungsi _load_textdomain_just_in_time ditulis secara tidak benar. Pemuatan terjemahan untuk domain hueman dipicu terlalu dini. Ini biasanya merupakan indikator bahwa ada beberapa kode di plugin atau tema yang dieksekusi terlalu dini. Terjemahan harus dimuat pada tindakan init atau setelahnya. Silakan lihat Debugging di WordPress untuk informasi lebih lanjut. (Pesan ini ditambahkan pada versi 6.7.0.) in /home/lpmdimensi/public_html/wp-includes/functions.php on line 6260
Manusia Amatir – LPM Dimensi

Manusia Amatir

doc: pinterest.com

Pada mulanya kalang kabut,
ia ripuh membaca diri sendiri.

Seperti seekor semut yang tak sengaja turut luruh
bersama selembar daun yang jatuh dari dahan pohonnya,
lalu terdampar di atas dada sungai
begitulah takdir menjatuhkannya
pada ruang yang tak sepenuhnya ia dambakan.

Pada aliran arus yang masih asing,
kebingungan demi kebingungan membuatnya kalut
alih-alih berupaya pergi, ia justru terus-menerus di sana.
Sebab, ia paham bahwasanya
melangkah satu senti saja dari tepi daun,
rahim sungai pasti menenggelamkannya dalam-dalam
pada ketidakpastian yang bercabang.

Ia mengeja setiap apa yang dirasa,
namun masih gagal.
Lantas mendadak muncul sebaris tanya:
“Inikah bentuk menyelamatkan diri? atau sebuah pasrah yang dipaksakan?”

Ia diam.
Dan mulai percaya bahwa barangkali
jika ia mampu bersabar dan membiarkan daun
mengikuti riak arus yang ada,
bukankah masih mungkin akan sampai di tepian?

Maka,
ia tetap bertahan.

Sebab, ia hanyalah manusia amatir
yang belajar bertahan hidup
dengan harapan ikhlasnya
lekas mencapai titik paling tabah.

(Nanda Ummu Na’immah)

Advertisements

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *