Notice: Function _load_textdomain_just_in_time was called incorrectly. Translation loading for the popup-builder domain was triggered too early. This is usually an indicator for some code in the plugin or theme running too early. Translations should be loaded at the init action or later. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.7.0.) in /home/lpmdimensi/public_html/wp-includes/functions.php on line 6260

Notice: Function _load_textdomain_just_in_time was called incorrectly. Translation loading for the insert-headers-and-footers domain was triggered too early. This is usually an indicator for some code in the plugin or theme running too early. Translations should be loaded at the init action or later. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.7.0.) in /home/lpmdimensi/public_html/wp-includes/functions.php on line 6260

Notice: Function _load_textdomain_just_in_time was called incorrectly. Translation loading for the wp-optimize domain was triggered too early. This is usually an indicator for some code in the plugin or theme running too early. Translations should be loaded at the init action or later. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.7.0.) in /home/lpmdimensi/public_html/wp-includes/functions.php on line 6260

Notice: Fungsi _load_textdomain_just_in_time ditulis secara tidak benar. Pemuatan terjemahan untuk domain hueman dipicu terlalu dini. Ini biasanya merupakan indikator bahwa ada beberapa kode di plugin atau tema yang dieksekusi terlalu dini. Terjemahan harus dimuat pada tindakan init atau setelahnya. Silakan lihat Debugging di WordPress untuk informasi lebih lanjut. (Pesan ini ditambahkan pada versi 6.7.0.) in /home/lpmdimensi/public_html/wp-includes/functions.php on line 6260
Aksi Refleksi: Tuk Mengenang Gugurnya 5 Korban Tolak RKUHP – LPM Dimensi

Aksi Refleksi: Tuk Mengenang Gugurnya 5 Korban Tolak RKUHP

Semarang, Dimensi (02/07) – Bertepatan dengan Hari Ulang Tahun (HUT) Bhayangkara ke-76, Aliansi Mahasiswa Tolak Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP) telah melakukan aksi refleksi pada Jumat (01/07) kemarin. Aksi yang berlangsung pada pukul 18.30-22.00 WIB ini, dilaksanakan di depan Kantor Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Tengah. Dilatarbelakangi oleh bentuk penghormatan bagi 5 mahasiswa yang gugur pada aksi tolak RKUHP 2019, aksi tersebut dimulai dengan menyalakan lilin, doa bersama, tabur bunga, penampilan teatrikal, orasi, dan puisi, serta berakhir dengan menyanyikan lagu perjuangan.

Aziz Rahmad, selaku Koordinator Lapangan (Korlap) Universitas Negeri Semarang (Unnes), mengatakan bahwa adanya aksi ini sebagai bentuk refleksi bagi pihak kepolisian. “Aksi ini sebagai kado bahwa polisi harusnya mengayomi, bukan memukuli, menembak, dan mematikan massa aksi,” ujarnya.

Hal tersebut selaras dengan yang disampaikan oleh Umarul Faruq, Wakil Presiden Mahasiswa (Wapresma) Universitas Ivet Semarang, ia menjelaskan bahwa latar belakang dilakukannya aksi ini karena adanya kecemasan terhadap tindakan represifitas aparat dan kesewenangan pemerintah. “Saya cemas karena semakin hari banyak represifitas dari aparat, serta tindakan pemerintah yang sewenang-wenang dalam menetapkan kebijakan,” ucapnya.

Adapun kelima korban yang telah meninggal pada aksi tolak RKUHP 2019 merupakan mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia, seperti yang disampaikan oleh Asara Gayo, Presiden Mahasiswa (Presma) Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang. “Korban meninggal berasal dari Makassar, Kendari, dan Jakarta, lainnya luka ringan,” terang Asara.

Kendati demikian, aksi tersebut tak hanya sebatas refleksi saja, namun juga terdapat 3 tuntutan yang diajukan. “Tuntutannya yaitu membuka draf RKUHP, membuka sidang kembali untuk mengakomodir suara rakyat, dan menghapus pasal-pasal bermasalah,” ujar Aziz.

Lebih lanjut, Hanif Muammar selaku Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Hukum Unnes, mengatakan bahwa nantinya pada tanggal 6 Juli akan diadakan aksi besar penolakan RKUHP. “Selanjutnya, akan ada aksi secara besar-besaran penolakan RKUHP pada 6 Juli dengan konsolidasi pada 3 Juli,” ujarnya. Ia pun berharap adanya aksi ini dapat meminimalisir represifitas pihak kepolisian. “Harapannya represifitas pihak kepolisian bisa berkurang,” pungkasnya.

(Kharisma)

Advertisements

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *