Kebakaran Meluas 520 Hektare, Aktivitas Gunung Bromo Tetap pada Level II Waspada

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Bromo terus meluas sejak pertama kali muncul pada Senin (03/08). Titik api bermula dari Blok Banjengan, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, melalui sebuah jalur tikus warga yang bukan kawasan wisata maupun jalur umum. Menurut data Pusdalops BPBD Jawa Timur, luas area yang terbakar sempat tercatat 70 hektare pada Kamis (06/08). Bagian vegetasi yang terbakar meliputi cemara gunung, mentigen, akasia, dan semak belukar.
Pemadaman awal dilakukan secara manual dengan metode gepyok (memukul api menggunakan alat dari ranting atau kain basah), dibantu drone water spray berkapasitas 150 liter dan truk tangki air. Namun, api terus merambat akibat medan terjal di lereng Kaldera Bromo dan embusan angin kencang, hingga menjangkau Puncak B29, bukit di kawasan Argosari, Lumajang, yang dikenal sebagai spot wisata matahari terbit dan meluas ke wilayah Kabupaten Malang serta Probolinggo.
Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Rudijanta Tjahja Nugraha, menduga kebakaran dipicu oleh aktivitas manusia, bukan faktor cuaca maupun alam. Meski lokasi sumber api tergolong area yang sulit dijangkau, namun masih sering dilintasi warga lokal sebagai jalur tradisional menuju Argosari dan Ranu Pani.
Hingga Minggu (09/08), luas kebakaran meluas signifikan mencapai sekitar 520 hektare, memaksa TNBTS menutup total seluruh pintu masuk kawasan wisata, yaitu Cemorolawang, Wonokitri, Jemplang, Coban Trisula, dan Senduro, sejak Sabtu (08/08) pukul 22.00 WIB hingga waktu yang belum ditentukan. Wisatawan yang telah membeli tiket diberi opsi reschedule atau refund melalui aplikasi booking online.
Upaya pemadaman diperkuat dengan tiga helikopter water bombing, tujuh unit mobil pemadam kebakaran, tiga drone water spray, serta ratusan personel gabungan dari BPBD, TNI, Polri, dan relawan. Penanganan ini dipimpin oleh Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak. Meski demikian, tim di lapangan masih menghadapi kendala utama berupa angin kencang dan keterbatasan alat manual untuk memadamkan bara api yang tersisa.
Kepala Badan Geologi, Lana Saria, memastikan kebakaran ini murni karhutla dan tidak berkaitan dengan aktivitas vulkanik. Kebakaran melanda area tebing di sekitar Jalur Lingkar Kaldera Tengger (JLKT), merembet ke Gunung Kursi, sisi selatan dinding kaldera, Savana Bromo, hingga wilayah Argowulan. Meski demikian, pemantauan kegempaan dan parameter vulkanik lainnya tetap berjalan normal. Hingga 9 Agustus 2026, status aktivitas Gunung Bromo masih berada pada Level II (Waspada).
Sumber:
https://www.kompas.id/artikel/kebakaran-bromo-capai-70-hektar-drone-hingga-damkar-perkuat-pemadaman
(Naila, Tim Riset)
kalau soal prokernya yang lentera scholarship mekanismenya gimana yaaaa, ga sempet nonton kampanye dan pemaparannya hehe.
tangkap mulyono
Mesin memang tidak bisa diatur, namun memiliki aturan tersendiri. PPM masih berjalan lancar tapi berjalan dibalik layar
Mesin memang tidak bisa diatur, namun tetap memiliki aturan tersendiri. PPM tetap berjalan namun dibalik layar
baguss lillll 👌