Notice: Function _load_textdomain_just_in_time was called incorrectly. Translation loading for the popup-builder domain was triggered too early. This is usually an indicator for some code in the plugin or theme running too early. Translations should be loaded at the init action or later. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.7.0.) in /home/lpmdimensi/public_html/wp-includes/functions.php on line 6260

Notice: Function _load_textdomain_just_in_time was called incorrectly. Translation loading for the insert-headers-and-footers domain was triggered too early. This is usually an indicator for some code in the plugin or theme running too early. Translations should be loaded at the init action or later. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.7.0.) in /home/lpmdimensi/public_html/wp-includes/functions.php on line 6260

Notice: Function _load_textdomain_just_in_time was called incorrectly. Translation loading for the wp-optimize domain was triggered too early. This is usually an indicator for some code in the plugin or theme running too early. Translations should be loaded at the init action or later. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.7.0.) in /home/lpmdimensi/public_html/wp-includes/functions.php on line 6260

Notice: Fungsi _load_textdomain_just_in_time ditulis secara tidak benar. Pemuatan terjemahan untuk domain hueman dipicu terlalu dini. Ini biasanya merupakan indikator bahwa ada beberapa kode di plugin atau tema yang dieksekusi terlalu dini. Terjemahan harus dimuat pada tindakan init atau setelahnya. Silakan lihat Debugging di WordPress untuk informasi lebih lanjut. (Pesan ini ditambahkan pada versi 6.7.0.) in /home/lpmdimensi/public_html/wp-includes/functions.php on line 6260
Kidung Paramadita, Finalis Puteri Indonesia 2018 : Aktif di Berbagai Kegiatan Sosial – LPM Dimensi

Kidung Paramadita, Finalis Puteri Indonesia 2018 : Aktif di Berbagai Kegiatan Sosial

Kidung Paramadita mengajari anak-anak melukis
Dok. Pribadi

Kidung Paramadita atau kerap disapa Kidung merupakan salah satu Finalis Puteri Indonesia 2018 asal Kendal yang mempunyai sikap sosial yang tinggi. Salah satu wujud dari sikap sosialnya yaitu tergabung dalam komunitas mengajar anak jalanan di Semarang yang bernama Satoe Atap Semarang. Kegiatan yang dilakukan setiap sore hari di kawasan Semarang itu sudah ditekuninya selama 10 tahun.

Berawal dari latar belakang dan kecintaannya terhadap dunia pendidikan, perempuan kelahiran Kendal, 21 September 1993 ini akhirnya mendirikan suatu komunitas mengajar bernama Banyu Aksara. Banyu berarti air dan aksara berarti tulisan/ilmu. Komunitas yang didirikan pada tahun 2016 ini berfokus pada pendidikan non formal untuk anak. Kidung mengungkapkan bahwa komunitas Banyu Aksara yang didirikannya pernah mendapat dukungan dari pemerintah dengan melakukan kolaborasi. Namun, untuk pendanaan sekolah murni dilakukannya sendiri. Tak hanya itu, pada 2018 sampai dengan 2020 dia pun mengaku pernah mengajar di daerah Papua. “Dulu juga pernah mengajar di Papua dari 2018 sampai 2020, kurang lebih hampir dua tahun aku di sana,” jelas Kidung.

Awalnya, kegiatan yang dilakukannya kurang mendapat persetujuan dari kedua orang tua yang berprofesi sebagai guru formal. Namun, Kidung tidak menganggap hal tersebut sebagai penolakan melainkan sebagai rintangan sehingga ia tetap melakukan kegiatannya dan membuktikan bahwa apa yang ia lakukan tidak selamanya berdampak buruk bagi dirinya sendiri. Kidung juga mempunyai prinsip walaupun sesuatu yang dijalankan tidak sesuai dengan pemikiran orang-orang terdekatnya, yang terpenting tidak merugikan orang lain. Kidung tidak memiliki rencana yang pasti, intinya kehidupannya mengalir saja dan semuanya berjalan baik. Melihat kegigihan sang anak, akhirnya orang tua Kidung mendukung apa yang ia lakukan.

Saat ini, Kidung sendiri memiliki berbagai kesibukan seperti syuting, aktif dalam penggalangan dana untuk korban bencana, dan mengurus usaha pakaian dengan merek Ageman Amongjiwo di Yogyakarta. Bahkan dari brand usaha yang dibuatnya, Kidung menjual masker yang pendapatannya diperuntukkan guna membeli buku bacaan anak. Karena kesibukannya, kini terpaksa kegiatan mengajarnya bersama Satoe Atap Semarang pun harus terhenti sementara. Namun, tidak banyak yang tahu bahwa di Yogyakarta, ia juga melakukan kegiatan mengajar anak-anak khususnya di Desa Tembi, Yogyakarta. “Awalnya aku ingin istirahat dulu dari kegiatan itu karena di sini aku syuting, terus juga lagi ngurus usahaku. Tapi melihat antusias anak-anak juga, jadi disini aku tetap mengajar. Mungkin Tuhan menyuruhku untuk tetap berbagi,” jelas Kidung. Tak hanya itu, di Desa Tembi, Kidung juga melakukan berbagai kegiatan sosial lainya seperti berkebun, mengajar melukis, dan baca tulis Al-Qur’an.

Kidung juga berharap agar anak-anak jalanan selalu bahagia dan sukses nantinya. “Karena mereka punya hak yang sama untuk bahagia serta mendapat pendidikan yang lebih baik sehingga kedepannya masa depan mereka lebih cerah,” pungkas Kidung.

(Kru Magang : Anissa, Annisa, Faradita)

Advertisements

Mungkin Anda juga menyukai