Notice: Function _load_textdomain_just_in_time was called incorrectly. Translation loading for the popup-builder domain was triggered too early. This is usually an indicator for some code in the plugin or theme running too early. Translations should be loaded at the init action or later. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.7.0.) in /home/lpmdimensi/public_html/wp-includes/functions.php on line 6260

Notice: Function _load_textdomain_just_in_time was called incorrectly. Translation loading for the insert-headers-and-footers domain was triggered too early. This is usually an indicator for some code in the plugin or theme running too early. Translations should be loaded at the init action or later. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.7.0.) in /home/lpmdimensi/public_html/wp-includes/functions.php on line 6260

Notice: Function _load_textdomain_just_in_time was called incorrectly. Translation loading for the wp-optimize domain was triggered too early. This is usually an indicator for some code in the plugin or theme running too early. Translations should be loaded at the init action or later. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.7.0.) in /home/lpmdimensi/public_html/wp-includes/functions.php on line 6260

Notice: Fungsi _load_textdomain_just_in_time ditulis secara tidak benar. Pemuatan terjemahan untuk domain hueman dipicu terlalu dini. Ini biasanya merupakan indikator bahwa ada beberapa kode di plugin atau tema yang dieksekusi terlalu dini. Terjemahan harus dimuat pada tindakan init atau setelahnya. Silakan lihat Debugging di WordPress untuk informasi lebih lanjut. (Pesan ini ditambahkan pada versi 6.7.0.) in /home/lpmdimensi/public_html/wp-includes/functions.php on line 6260
Buta Landasan Demokrasi (Bagian 2-Habis) – LPM Dimensi

Buta Landasan Demokrasi (Bagian 2-Habis)

Fadli Irawan Marjan

(Deputi Kementerian Sosial dan Politik BEM KBM Polines 2014/2015)

Pengaduan yang tidak wajar lainnya dari Pemira tahun ini adalah seharusnya dari Panitia Pemira bisa membedakan DEMOKRASI dan POLITIK. Ada beberapa oknum dari panitia yang sempat menjual kalimat, “Mari Meriahkan POLITIK untuk DEMOKRASI dalam acara Pemira”. Apakah itu pantas?

 

Sarana mahasiswa untuk pemilihan calon pun dirasa beberapa kalangan mahasiswa tidak masuk akal. Dijelaskan bahwa setiap masing-masing HMJ seharusnya mengajukan lebih dari 2 orang calon untuk bisa menempati kouta yang hanya untuk 2 orang dari masing-masing HMJ. Tetapi calon yang diikutkan hanya 2 orang dari beberapa HMJ untuk mengikuti Pemira. Maka patutlah dipertanyakan dimana letak “pemilihan raya”-nya?

 

Pemira 2015 ini bisa dikatakan sudah memasuki 75% pelaksanaan. Dilihat dari tahun-tahun sebelumnya setiap acara yang dilakukan tahun ini tidaklah terlalu jauh perbedaannya, padahal Pemira tahun ini telah mendapat kenaikan pendanaanya. Maka pantaslah timbul pertanyaan di kalangan ormawa yang pernah mengikuti Pemira sebelumnya, apakah Pemira tahun ini dapat dikatakan jauh lebih baik? Apakah sudah didapat kemeriahan dan kehebohan dari pestanya yang selama ini telah digadang-gadangkan dalam pengumuman acaranya?

 

Selain yang sudah dijelaskan di atas, terdapat peraturan baru yang mengakibatkan ketidaksesuaian kembali. Selain aturan baru kali ini dianggap sangat mempersulit untuk setiap calon dan bertentangan dengan kode etik pada saat penyeleksian calon. Sebagai contoh Pemira tahun ini mewajibkan setiap calonnya untuk membawa minimal 5 orang tim sukses (timses) masing-masing di setiap kampanye di 5 jurusan.

 

Lalu akhirnya ancaman terbesar dari Pemira adalah besarnya golongan putih (golput). Apakah dengan kenaikan dana dan segala bentuk peraturan baru Pemira di tahun ini dapat menghasilkan pengurangan angka golput? Dimana pada pemira pada tahun sebelumnya berhasil mengundang 55,6% mahasiswa Polines untuk menggunakan hak pilihnya.

 

Bicara tetang akhir dari tulisan ini, seharusnya seluruh dari kepanitiaan Pemira harus dapat independen dan netral tanpa harus malah ikut-ikut mencampurkan diri dalam perpolitikan yang ada atau malah yang memanaskan suasana. Tetapi pada akhirnya, semua kembali ke tangan seluruh mahasiswa. Senandung yang selama ini didendangkan untuk sang pemimpin, semoga saja membawa perubahan bagi mahasiswa. Pengalaman Pemira beberapa waktu yang lalu, telah menjadi pelajaran berharga bagi seluruh mahasiswa Polines nanti. Banyaknya dukungan timses terhadap sang calon pemimpin, bukanlah jaminanan sebagai pemenang, tetapi figur ketokohanlah yang menjadi kunci kemenangan.

Advertisements

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *