Fenomena Orang Akuntansi “Membeli Tiket ke Neraka”

Oleh : Vitri Dwi Afriati
Mahasiswa Semester 2
Jurusan Akuntansi

Siapa yang tidak kenal Gayus Tambunan? Kita semua pasti mengenalnya. Tentunya masih sangat teringat jelas di benak kita semua, tentang kasus Gayus Tambunan sang Mafia Pajak. Gayus Tambunan merupakan satu dari orang akuntansi yang tidak memiliki norma dan etika.
“Andai aku Gayus Tambunan
Yang bisa pergi ke Bali
Semua keinginannya pasti bisa terpenuhi”

Begitulah sebait lirik lagu yang ditulis oleh Bona Paputungan yang menggambarkan betapa populernya sosok Gayus sebagai seorang mafia pajak. Bahkan Gayus Tambunan dapat dikatakan telah” membeli tiket ke neraka”. Mungkin terlalu ekstrim, tetapi kata tersebut pantas untuk seorang Gayus yang telah banyak merugikan negara kita. Kasus Gayus pada akhirnya memberi image buruk pada profesi akuntansi.
Padahal sesungguhnya, orang-orang akuntansi sangatlah dibutuhkan di berbagai instansi pemerintah, swasta maupun industri. Yang mana di berbagai instansi tersebut, orang-orang akuntansi memegang peran penting dalam mengelola transaksi keuangan. Lulusan akuntansi diharapkan dapat menyelesaikan siklus akuntansi sampai menyediakan laporan keuangan. Semua itu sepenuhnya menjadi tanggung jawab seorang akuntan. Itulah sebabnya orang akuntansi mudah tergiur dengan tindak korupsi.
Namun beberapa lembaga pendidikan telah menjembatani agar tindakan yang tidak beretika tersebut tidak dilakukan oleh lulusannya ketika telah bekerja. Polines adalah salah satunya. Mahasiswa Jurusan Akuntansi Polines tidak hanya menerima mata kuliah yang sepenuhnya mengacu pada akuntansi. Pada semester 1, mahasiswa menerima mata kuliah pendidikan agama juga mata kuliah etika bisnis dan profesi. Pada mata kuliah pendidikan agama kita diajarkan untuk selalu mengingat Tuhan jadi kita bisa menjadi orang yang jujur kapanpun dan dimanapun. Sedangkan mata kuliah etika bisnis dan profesi, kita diajarkan tentang perlunya kode etik dalam profesi. Dalam kenyataannnya, banyak akuntan yang tidak memahami kode etik profesinya sehingga dalam praktiknya mereka banyak melanggar kode etik. Hal ini menyebabkan menurunkan tingkat kepercayaan publik terhadap profesi akuntansi. Kondisi ini diperburuk dengan adanya perilaku beberapa akuntan yang sengaja melanggar kode etik profesinya demi memenuhi kepentingan mereka sendiri.
Dengan ditambahnya mata kuliah seperti pendidikan agama dan etika profesi tersebut, diharapkan lulusan akuntansi Polines tidak akan melakukan tindak korupsi dan jauh dengan neraka. Semoga saja calon-calon akuntan dari Polines merupakan akuntan yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Advertisements

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.