Notice: Function _load_textdomain_just_in_time was called incorrectly. Translation loading for the popup-builder domain was triggered too early. This is usually an indicator for some code in the plugin or theme running too early. Translations should be loaded at the init action or later. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.7.0.) in /home/lpmdimensi/public_html/wp-includes/functions.php on line 6260

Notice: Function _load_textdomain_just_in_time was called incorrectly. Translation loading for the insert-headers-and-footers domain was triggered too early. This is usually an indicator for some code in the plugin or theme running too early. Translations should be loaded at the init action or later. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.7.0.) in /home/lpmdimensi/public_html/wp-includes/functions.php on line 6260

Notice: Function _load_textdomain_just_in_time was called incorrectly. Translation loading for the wp-optimize domain was triggered too early. This is usually an indicator for some code in the plugin or theme running too early. Translations should be loaded at the init action or later. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.7.0.) in /home/lpmdimensi/public_html/wp-includes/functions.php on line 6260

Notice: Fungsi _load_textdomain_just_in_time ditulis secara tidak benar. Pemuatan terjemahan untuk domain hueman dipicu terlalu dini. Ini biasanya merupakan indikator bahwa ada beberapa kode di plugin atau tema yang dieksekusi terlalu dini. Terjemahan harus dimuat pada tindakan init atau setelahnya. Silakan lihat Debugging di WordPress untuk informasi lebih lanjut. (Pesan ini ditambahkan pada versi 6.7.0.) in /home/lpmdimensi/public_html/wp-includes/functions.php on line 6260
Mesra itu Sederhana! – LPM Dimensi

Mesra itu Sederhana!

Ilustrasi oleh: Silfi Sabrina

Kemesraan dengan pasangan hidupmu tidaklah harus muluk-muluk. Cukup dengan kau beri waktumu tuk sejenak berada di sampingnya, segala keanggunan kan terungkapkan. Bila dirimu tidak memiliki sediktpun waktu untuk itu, sekurang-kurangnya bisikkan di telinganya kalimat, “I Love You”.

Alkisah, ada seorang nahkoda yang hanya sebulan sekali dapat pulang ke kampung halamannya. Itu pun cuma dua hari. Dan itu pun kalau pelayarannya tidak jauh-jauh amat (bisa berbulan-bulan menahkodai kapal. Kadang cuma bisa setahun sekali ambil cuti). Lebih banyak waktunya untuk bekerja, bekerja, dan bekerja. Waktu untuk keluarga hanya sedikit sekali.

Setiap pulang, suasana rumah sejenak ramai karena oleh-oleh yang dibawa sang nahkoda. Setelah itu, hari-hari berlanjut seperti biasa seolah-olah dirinya tak ada di sana. Karena apa? Meski Ia pulang, tetap saja tiap waktu ia terima panggilan telepon dari bawahan-bawahannya atau pengganti sementara minta arahan tugas. Ia masih mengontrol dari jauh, karena posisinya juga sebagai kapten kapal.

Waktu untuk isterinya hampir tak ada. Nafkah batin yang diterima tak terasa begitu memuaskan karena sikap suaminya yang sangat kaku.

Anak-anaknya maklum atas sikap ayahnya itu. Merekalah yang menjadi hiburan untuk sang Ibunda. Suasana rumah jadi tak terasa begitu menyenangkan.

Pada suatu hari, batin sang nahkoda merasa sumpek. Ada yang mengganjal di dadanya, padahal ia pikir ia telah melaksanakan tugas-tugasnya dengan baik. Malam hari saat istirahat, ia merenung. Apa sebenarnya yang membuatnya merasa begini? Semuanya normal, anak dan isterinya telah ia beri nafkah harta berkecukupan, tak ada satupun atasan atau bawahan yang memprotes sistem yang di terapkannya untuk kapal. Rasa apa ini?

Esok, di selenggarakan pengajian dalam kapal. Dia dengarkan seksama petuah-petuah bijak sang ustadz tentang cinta. “… Cinta tidak melulu soal harta, pangkat, dan ketampanan wajah. Cinta itu hanya hati yang dapat merasakannya secara mendalam. Cinta, akan lebih bermakna bila di sandarkan pada Yang Maha Kuasa. Bila dada sumpek, susah, sedih, renungkan segala yang telah kita lakukan. Apakah kita sudah mencurahkan segalanya untuk mendapatkan cinta dari Sang Ilahi? Dialah yang selama ini mencurahkan ketenangan dalam hidup kita. Bila rasa itu terus bercokol dalam dada, berarti kita kurang mencintai-Nya. Berarti kurang melaksanakan segala perintah-Nya. Kurang menjauhi larangan-Nya. Coba renungkan… blaa… blaa… blaa…”

Namun, satu hal yang paling menohok batinnya.

“… Atau mungkin, kita kurang mencurahkan cinta pada orang-orang di sekitar kita? Mungkin saja, kita terlalu sibuk akan dunia sehingga terkadang melupakan siapa-siapa yang selama ini berjasa menemani kita. Mungkin kurang perhatian sama isteri, anak, saudara, teman dekat, sahabat … diri kita saat ini butuh mereka semua. Bekerja keras boleh, asalkan tetap jalin tali silaturahmi antar sesama, itulah yang akan menjadi obat hati…”

Sejak itulah batinnya mulai terbuka untuk siapa saja, terutama untuk isterinya. Orang yang selama ini menemaninya dalam suka dan duka. Namun Ia merasa, ia adalah suami yang kurang romantis.

Saat pulang, saat semua menyambutnya, segera ia cari isterinya. Hal pertama yang ia katakan pada isterinya saat bersua ialah,

“Mama, I love you”

Sontak isterinya pergi ke dapur lalu minum air putih bergelas-gelas. Ia kaget bercampur senang, “Mengapa suamiku berkata seperti itu?” pikirnya. Anak-anaknya juga merasa kaget, “Ada apa dengan ayah pada hari ini?”

Esoknya saat mau kembali bekerja, ia membisikkan kata-kata yang sama, “Mama, I love you lhoo …”

Dua hari kemudian, sang nahkoda menelpon isteri dan anak-anaknya. Satu hal yang amat sangat langka ia lakukan, sampai-sampai anak-anak berebutan tuk berbicara dengan ayahnya. Padahal, yang di bicarakan adalah hal-hal remeh seperti, ‘Sudah makan belum? Sekolahmu gimana? Si adik masih ngompol nggak? Ayam-ayam di kandang sudah di beri makan belum’ dan sebagainya. Seumur-umur, baru kali ini sang nahkoda menelpon langsung keluarganya hanya untuk bertanya hal-hal remeh. Dan saat memulai pembicaraan itu, hal pertama yang ia katakan pada isterinya ialah,

“Mama, I love you soo much…”

Dan setelah anak-anak selesai menelpon, giliran isterinya. Panjang lebar ia ceritakan mengenai segala yang ada, keadaan tetangga, saudara-saudara, bahkan yang ia tahu sang suami sudah tahu, tetap saja ia menceritakannya saking semangatnya berbicara. Suaminya hanya mendengarkan dengan sabar.

Di akhir pembicaraan, sang isteri berkata dengan muka merona malu-malu,

“Ihh.. Papa romantis deh!”

Seandainya sang nahkoda melihat isterinya langsung, pasti saat itu ia memeluknya seketika. Dan seketika pula semua kesumpekan dalam dadanya musnah tanpa sisa.

Jadi pasangan yang romantis itu tidaklah muluk-muluk. Cukup dengan kalimat ‘I love you’ serta berikan waktumu untuk sang kekasih, sudah cukup.

Karena cinta hanya butuh dirimu untuk selalu ada di sampingnya, dimanapun engkau berada.

Semarang, 3 Oktober 2016

By: Andigrow

Advertisements

Mungkin Anda juga menyukai

1 Respon

  1. Pejuang TA berkata:

    Cerpen ini cukup bagus, ringan untuk di baca di kalangan mahasiswa. Saya berharap LPM Dimensi sering mengunggah konten konten yang berfaedah di kalangan mahasiswa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *