Nurul Devi Ariyani, Mawapres 2018: Ingin Buktikan bahwa Politeknik Bisa

Nurul Devi Ariyani, Mawapres program Diploma tingkat nasional tahun 2018. Dok. Pribadi

“Apa yang akan aku lakukan besok selalu aku tulis setiap malamnya, paling tidak itu bisa jadi pemicu ketika kita sedang malas,” ujar Devi ketika saya temui di kosnya.

Nurul Devi Ariyani, atau kerap disapa Devi adalah mahasiswi Jurusan Akuntansi, program studi Diploma Tiga Akuntansi, Politeknik Negeri Semarang (Polines). Dia merupakan anak pertama dari empat bersaudara. Dulu saat lulus dari SMKN 1 Demak, dia menjadi lulusan terbaik disekolahnya.

Prestasi yang dulu pernah diraih saat duduk di bangku sekolah pun kini tetap ia pertahankan. Di luar aktivitas kuliah, Devi menceritakan bahwa dia masih mengejar untuk ikut lomba dan event-event luar. Dia merasa bahwasanya hal seperti itu benar-benar bermanfaat. Apalagi kalau lombanya tingkat nasional dan diluar Jawa. Menurutnya akan tambah bermanfaat karena dapat bertemu dengan mahasiswa dari universitas luar, sehingga relasi menjadi lebih luas.

Seperti gayung bersambut, kerja keras yang ia lakukan membuahkan hasil. Devi menjadi salah satu diantara sembilan finalis Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) program Diploma tingkat nasional tahun 2018. Dia berhasil menyisihkan 110 Mawapres dalam kategori yang sama dari berbagai Perguruan Tinggi baik negeri maupun swasta. Melalui karya tulis berjudul “Alokasi Bidikmisi untuk Pemberdayaan dan Literasi Keuangan”, dia ingin mengubah gaya hidup mahasiswa bidikmisi yang terkadang hedonisme. Padahal uang bidikmisi sebenarnya bukan uang mahasiswa sendiri, seharusnya dimanfaatkan dengan sebaik mungkin. Sehingga ia menginginkan ada semacam kegiatan pemberdayaan mahasiswa bidikmisi, agar nantinya mahasiswa bidikmisi dapat mengelola uang bidikmisi dengan baik.

Tentu bukan perjuangan yang mudah. Devi bercerita bahwa untuk persiapan mengikuti Mawapres 2018, ia hanya miliki waktu dua minggu, disamping kuliah dan lain-lain. Sampai dia harus izin tidak masuk kuliah. Namun ia bersyukur karena usahanya terbayar. “Jangan takut! Karena kemarin-kemarin itu dua minggu aku tidak berangkat kuliah, tapi dari situlah kamu akan punya strategi cara belajar yang efektif walaupun sebentar,” tuturnya.

Devi pun menceritakan jika dia sebenarnya tidak menyangka dapat lolos menjadi Mawapres tahun 2018 dengan membawa nama almamater Polines. Dia bercerita bahwa sebenarnya ia tidak berniat untuk mengikuti ajang tersebut, namun lambat laun ia termotivasi oleh Fajri dan Jamal yang merupakan Mawapres tahun 2016 dan 2017 dari Polines. Dia merasa kagum karena selain sibuk kuliah mereka dapat berprestasi dan melakukan segala macam hal. “Aku sebenarnya tidak menyangka, karena doa ku setiap hari semoga menjadi mahasiswa berprestasi. Tapi yang aku maksud bukan ikut lomba mawapres yang seperti ini, yang aku maksud mahasiswa berprestasi yaitu bisa membagi waktu untuk organisasi, bisa sambil kerja dan kuliah, pokoknya jalan semuanya,” ucap Devi.

Pada saat di bangku kuliah, dia mengawali ikut lomba saat tingkat satu. Lomba yang ia ikuti adalah lomba debat bahasa inggris. Kemudian dia ingin mencoba sesuatu yang baru, akhirnya dia mencoba lomba tingkat nasional yang kebetulan di luar Jawa. Devi mengungkapkan bahwa dirinya pernah kesulitan saat mengajukan dana ke pihak institusi Polines untuk mengikuti suatu lomba. “Aku benar-benar berusaha mengajukan dana ke institusi Polines, tapi ditolak beberapa kali. Jadi kalau mau mengajukan dana harus pintar-pintar merayu, tips aja buat kalian yang ikut-ikut lomba usahakan sungguh-sungguh. Lomba pertama mu itu setidaknya menang, walaupun kategori harapan atau favorit. Sebagai langkah awal supaya kedepannya lebih mudah mendapat dana,” ujarnya sambil sesekali tertawa ringan.

Motivasi terbesarnya dari mengikuti banyak kegiatan di luar kuliah karena ia ingin menghilangkan persepsi negatif mahasiswa Politeknik. Menurutnya kebanyakan dari mahasiswa politeknik membatasi diri mereka. Mereka beranggapan sudah lelah praktikum, jadwal kuliah seperti saat SMA/SMK, jadi sebagian beranggapan untuk apa ikut organisasi, lomba dan lain-lain. Padahal sebenarnya mahasiswa Politeknik bisa memanfaatkan sedikit waktu untuk mengikuti hal-hal lain selain kuliah. Jadi kuliah tidak sekedar kuliah saja. Tetapi ada nilai tambahnya dan hal itu yang membedakan mahasiswa dengan yang lain. “Untuk membuktikan kepada teman-teman bahwa kita masih bisa berpartisipasi dan berkontribusi untuk almamater. Memperkenalkan almamater ke dunia luar,” ujarnya.

Mengenai kelompok dari lomba Mawapres, Devi menyarankan Pemerintah seharusnya konsisten. Dia menyampaikan pendapat seharusnya dalam lomba Mawapres dikelompokan menjadi kelompok Sarjana, vokasi yang dari Universitas dan kelompok Politeknik. Karena dari sembilan finalis Mawapres program Diploma tingkat nasional tahun 2018, dari politeknik hanya dua, sedangkan yang lain dari Universitas. “Ironi sekali, kenapa pemerintah mendirikan Politeknik kalau kebanyakan yang menang-menang seperti itu hanya dari Universitas. Harapanku tahun depan Politeknik masih bisa eksis. Aku ingin membuktikan kalau anak politeknik itu bisa. Jangan hanya kuliah-kuliah tok,” tutur Devi.

Dari kesibukan kuliah, lomba, organisasi dan kerja sampingan sebagai guru les, ketika ada waktu luang biasanya dia isi dengan membaca kata-kata dan vidio motivasi. Dia berkata jika dirinya tidak memiliki hoby khusus. Cita-cita terbesarnya ialah membantu adik-adiknya, karena dia merasa sebagai anak pertama jadi tidak boleh egois.

Di akhir wawancara Devi berpesan kepada mahasiswa bidikmisi agar lebih bijak menggunakan uang bidikmisi. Jangan sampai negara sia-sia sudah membiayai kuliah mahasiswa bidikmisi. Kemudian dia memberikan semangat untuk mahasiswa lainnya, terkhusus mahasiswa semester satu dan dua yang berminat menjadi Mawapres selanjutnya, bahwa jangan takut gagal. Karena bisa jadi dari kegagalan itu akan dapat trik tersendiri. Jangan sungkan-sungkan untuk bertanya kepada orang yang lebih tahu di bidang yang ingin dicoba. Harus punya ide, yang nantinya akan dibuat menjadi karya tulis. Jangan menjadikan IP dan kemampuan bahasa inggris menjadi momok besar. “Percaya diri saja, yang terpenting kita sudah berusaha, dan jangan niat-niat saja,” pungkasnya.

Advertisements

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.