Balisam: Inovasi Batik Ramah Lingkungan dari Biji Asam Jawa dan Limbah Kertas

Polines, Dimensi (02/08) – Salah satu tim Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKM-K) Politeknik Negeri Semarang (Polines) telah berhasil lolos dalam tahap pendanaan. Tim yang memberi nama produknya Balisam (Batik Limbah Biji Asam) ini, mengusung gagasan pemanfaatan biji asam dan limbah kertas dalam mewujudkan batik yang ramah lingkungan. Inovasi tersebut bertujuan untuk mengurangi limbah anorganik dengan memanfaatkan kertas semen yang sudah tidak terpakai dan biji asam yang belum diolah dengan baik oleh masyarakat.

Hal tersebut disampaikan oleh Tiara Dalila, selaku Ketua Tim dari produk Balisam, bahwa pembuatan Balisam ini bertujuan untuk mengurangi limbah bahan anorganik yang terdapat pada bahan perintang warna dari lilin. “Kami berinovasi untuk menggantikan bahan tersebut dengan biji asam untuk mengurangi limbah anorganik,” tutur Tiara. Hal tersebut sejalan dengan yang disampaikan oleh Nurul Hamida, selaku Dosen Pembimbing, bahwa penggunaan bahan baku dan alat yang ramah lingkungan menjadi keunggulan dari produk batik ini. “Keunggulan produk ini adalah penggunaan alat yang sederhana, murah, dan ramah lingkungan karena berasal dari pemanfaatan limbah,” jelasnya. Namun, ia menambahkan bahwa Balisam perlu menjaga keberlanjutan produk dengan terus menciptakan inovasi.

Terkait produksi dan pendistribusian produk, tim yang terdiri dari 3 orang anggota ini, menyediakan beberapa stok batik yang siap dipasarkandan menerapkan sistem pre-order ketika stok tersebut habis. Di samping itu, pendistribusian produk dilakukan secara dalam jaringan (daring) melalui marketplace dan media sosial (medsos). “Pemasaran produk melalui marketplace dan medsos dengan bantuan jasa ekspedisi,” ujar Tiara. Uniknya, kemasan batik pun dibuat dari kertas semen yang dirancang secara menarik untuk menambah minat konsumen.

Menanggapi produk ini, Lia Alvita, salah satu konsumen Balisam, menyampaikan bahwa batik ini memiliki kualitas yang baik, awet, dan tidak luntur. Selain itu, ia juga berharap agar Balisam dapat terus mengembangkan motifnya. “Untuk ke depannya semoga bisa mengolah limbah produksi dengan lebih baik dan inovatif dalam mengembangkan motif batik,” tuturnya. Harapan tersebut juga disampaikan oleh Tiara agar produknya dapat terus berkembang dan menginovasi pembatik lainnya. “Kami ingin memotivasi pembatik lain agar beralih menggunakan bahan batik organik untuk menjaga lingkungan,” pungkasnya.

(Inayah Bulan)

Advertisements

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.