Mengenal Perilaku Tsundoku: Kebiasaan Membeli Buku Tanpa Dibaca

Sumber: sketchplanations.com

Sahabat Dims, pernahkah memborong buku tetapi sampai rumah muncul rasa enggan untuk membacanya? Apakah kejadian tersebut terjadi berulang-ulang? Jika iya, kemungkinan Sahabat Dims memiliki kebiasaan Tsundoku. Namun, apakah Sahabat Dims pernah memikirkan bahaya di balik kebiasaan tersebut? Lalu, apakah kebiasaan tersebut dapat diatasi? Yuk, simak informasi berikut ini!

Apa itu Tsundoku?

Kata Tsundoku berasal dari gabungan dua kata dalam Bahasa Jepang, yaitu Tsunde-Oku yang berarti dibiarkan menumpuk dan Dokusho yang berarti membaca buku. Jadi, Tsundoku merupakan istilah untuk menggambarkan keadaan memiliki bahan bacaan, tetapi membiarkannya menumpuk tanpa dibaca.

Sejarah Tsundoku

Dikutip dari laman Open Culture, istilah “Tsundoku” diketahui berasal dari zaman Meiji (1868-1912). Penjelasan yang tak jauh berbeda juga dikemukakan oleh Profesor Andrew Gerstle, dalam laporan BBC berjudul “Tsundoku: The Art of Buying Books and Never Reading”, ia mengatakan bahwa istilah “Tsundoku” ditemukan di media cetak sekitar tahun 1879.

Faktor yang Mendorong Perilaku Tsundoku

Banyak hal yang menjadi penyebab kebiasaan Tsundoku. Ada yang melakukannya untuk mendapatkan sensasi kesenangan dari menumpuk buku ataupun pengakuan sebagai seorang yang intelek atau cerdas. Biasanya, alasan paling umum adalah punya kesempatan untuk membeli banyak buku, tapi kekurangan waktu atau niat untuk membaca.

Bahayanya Perilaku Tsundoku

Perilaku Tsundoku belum bisa dikatakan sebagai penyakit atau sindrom, sebab belum ada istilah medisnya. Sesekali melakukan Tsundoku mungkin tidak mengapa, namun perlu diingat bahwa perilaku ini menghambur-hamburkan uang, waktu, dan memenuhi ruangan.

Cara Mengatasi Tsundoku

Sebenarnya, menjadi atau menghindari Tsundoku adalah pilihan. Hanya saja, kebiasaan seperti ini seharusnya dapat diperbaiki. Salah satu caranya yaitu, menyumbangkan buku ketika sudah selesai membaca dan ingin membeli dengan yang baru. Jika Sahabat Dims menyumbangkan buku, artinya Sahabat Dims telah berbagi ilmu pengetahuan kepada dunia. Opsi lainnya, Sahabat Dims juga bisa menjualnya dan mendapat uang untuk membeli buku lagi. Asyik, kan?

Tsundoku Berbeda dengan Bibliomania

Kerap kali Tsundoku disamaartikan dengan Bibliomania, namun keduanya memiliki makna berbeda. Di satu sisi, Tsundoku secara tidak sengaja mengoleksi buku. Sementara Bibliomania dianggap sebagai salah satu bentuk Obsessive Compulsive Disorder (OCD), yaitu sebuah gangguan mental yang menyebabkan penderitanya memiliki obsesi untuk melakukan sesuatu secara berulang atau kompulsif. Nah, dengan melakukan kebiasaan membeli dan mengoleksi buku sesering mungkin dapat membuat pengidapnya merasa lebih tenang.

Itulah beberapa informasi menarik di balik kebiasaan Tsundoku. Kebiasaan membeli buku itu memang baik, asalkan dibaca ya, Sahabat Dims. Penting untuk tetap rajin membaca, seperti kata pepatah bahwa membaca adalah membuka jendela dunia.

(Tata)

Sumber:

tirto.id

klasika.kompas.id

www.idntimes.com

Advertisements

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.