Pesima Non-Muslim 2025: Melangkah dengan Iman, Menatap Masa Depan dengan Harapan

Sesi Penyampaian Materi Psikologi oleh Ibu Damasia Linggarjati Novi Parmitasari (dok. Timotius Angga)

Polines, Dimensi (19/08) – Pengembangan Spiritual Mahasiswa (Pesima) non-Muslim telah terlaksana pada hari Senin (18/08) sejak pukul 07.30, dengan tema Hidup Percaya dalam Rencana Tuhan. Bertempat di Ruang Auditorium Administrasi Bisnis lantai 3 Politeknik Negeri Semarang (Polines). Kegiatan ini diikuti oleh 163 peserta yang terdiri dari 159 peserta beragama Kristen dan Katolik serta 4 peserta beragama Hindu dan Budha. Seperti tahun sebelumnya, kegiatan ini turut menghadirkan pembicara khusus untuk agama Kristen Katolik dan Hindu Budha sebagai pembekalan bagi peserta Pesima tahun 2025.

Bernadeta Julia Indah, selaku Penanggung Jawab Acara, menjelaskan bahwa tema yang diangkat bertujuan untuk menumbuhkan keyakinan peserta terhadap rencana Tuhan di masa depan. “Tema ini diangkat dengan harapan agar para peserta mampu mempercayai rencana Tuhan dan tidak merasa khawatir terhadap hari esok,” ucap Julia.

Selain itu, peserta juga dibekali rangkaian materi yang dikemas secara menarik dan bermanfaat dengan penyampaian yang komunikatif, sehingga peserta merasa mudah memahami isi materi. “Materi pertama membahas tentang percaya dan berserah kepada Tuhan dalam setiap aspek kehidupan, materi kedua membahas psikologi para Gen Z, dan materi ketiga berfokus pada pembentukan karakter mahasiswa,” tutur Julia. Salah satu peserta, Febi Putri, menyampaikan kesannya mengenai materi yang diberikan. “Acaranya seru banget dan sangat menambah wawasan baru, apalagi materinya disampaikan oleh pemateri yang ahli di bidangnya,” ucap Febi. 

Jonathan Ordrick Edra, selaku Ketua Pelaksana, mengatakan bahwa inovasi pada Pesima kali ini berupa pembagian peserta menjadi beberapa kelompok guna memudahkan mobilisasi dan pengecekan peserta. “Antusiasme dan keaktifan maba sangat terasa, terutama saat pembagian kelompok di grup. Hal ini berbeda dengan tahun lalu ketika belum diadakan pembagian kelompok,” ungkap Ordrick. Selain itu, untuk menjaga semangat para mahasiswa baru (maba) sepanjang acara, panitia turut mempersiapkan sejumlah kegiatan interaktif. “Kami menyiapkan ice breaking, permainan, dan tukar kado agar peserta tetap merasa nyaman selama mengikuti acara,” ucap Julia.

Di samping itu, Ordrick, juga mengungkapkan bahwa adanya perubahan jadwal dan miskomunikasi menjadi kendala dalam mempersiapkan acara Pesima non-Muslim kali ini. “Selama masa persiapan tentu ada kendala, karena ini program kerja dari institusi. Kami hanya diberi amanah mengurus teknis acara, sementara pembina berasal dari institusi. Hal itu terkadang menimbulkan miskomunikasi terutama dalam penentuan jadwal,” jelasnya. 

Peserta Pesima non-Muslim, Samuel Ryan Chrissaputra, menyampaikan harapannya untuk Pesima non-Muslim di tahun berikutnya dapat semakin kreatif. “Saya berharap Pesima non-Muslim ke depannya dapat semakin kreatif, sehingga bukan hanya dijadikan acara tahunan, melainkan wadah penting untuk membangun karakter serta mempererat kebersamaan di kalangan maba non-Muslim,” ungkapnya.

(Ghendis)

Advertisements

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *