Menelaah Kembali Sejarah Pertempuran Lima Hari di Semarang dalam Pameran “DARI SEMARANG KITA MULAI”

Doc. Kesit Widjanarko

Semarang (20/10) — Pameran “DARI SEMARANG KITA MULAI: 81 Tahun Pertempuran Lima Hari di Semarang” diselenggarakan oleh Rumah PoHan di Jalan Kepodang 64, Kawasan Kota Lama, Semarang pada Kamis (15/10). Pameran dibuka oleh Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Semarang, Nur Huda Iskandar, serta dihadiri komunitas pegiat sejarah, akademisi, Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) dan anggota DPR RI Komisi VII, Samuel J.D. Wattimena. Pameran ini diselenggarakan bekerja sama dengan Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Semarang serta didukung Program Studi Ilmu Sejarah Universitas Negeri Semarang (UNNES).

Melalui pameran ini, masyarakat diajak untuk memahami kembali arti penting Pertempuran Lima Hari di Semarang, yang berlangsung pada 15 – 19 Oktober 1945 dan menjadi bagian penting dalam sejarah awal revolusi kemerdekaan Indonesia.

Kurator pameran, Kesit Widjanarko, menjelaskan bahwa pemilihan judul pameran merujuk pada pernyataan Jenderal Besar Abdul Haris Nasution yang menyebut pertempuran tersebut sebagai pertempuran besar pertama dalam sejarah revolusi nasional Indonesia

“Judul DARI SEMARANG KITA MULAI bersumber dari pernyataan Jenderal Besar A.H. Nasution yang menempatkan Pertempuran Lima Hari di Semarang sebagai pertempuran besar pertama dalam sejarah revolusi nasional Indonesia. Dalam pameran ini, kami juga banyak menampilkan sumber-sumber lokal yang selama ini belum banyak digali, termasuk informasi mengenai tokoh-tokoh penting yang terlibat didalamnya. Kami berharap pameran ini dapat menjadi pintu masuk bagi penelitian dan penelusuran sejarah yang lebih luas,” ujar Kesit.

Materi pameran mencakup kronologi pertempuran, perjuangan bersenjata, tokoh-tokoh yang terlibat, serta jaringan organisasi. Sejumlah tokoh diantaranya, R.M. Bambang Soeprapto, Ibnu Parna, K.R.M.T. Wongsonegoro, Mgr. Albertus Soegijapranata, dan Mr. Kasman Singodimedjo, diperkenalkan melalui narasi mengenai peran mereka dalam perjuangan kemerdekaan.

Pameran ini juga mengangkat pengalaman masyarakat sipil selama pertempuran, mulai dari menyediakan makanan, merawat korban, menyampaikan informasi, hingga menyelamatkan keluarga dari kawasan berbahaya. Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa sejarah perang tidak hanya berkaitan dengan perjuangan di garis depan, tetapi juga keterlibatan masyarakat dari berbagai latar belakang sosial dan budaya.

Dalam sambutannya, Samuel J.D. Wattimena menyoroti relevansi semangat perjuangan rakyat Semarang bagi kehidupan masa kini. Menurutnya, nilai perjuangan perlu diwujudkan melalui tindakan yang sesuai dengan tantangan zaman.

“Semangat rakyat Semarang pada waktu Pertempuran Lima Hari di Semarang hari ini harus dimaknai ulang. Semangat itu perlu diwujudkan dalam bentuk yang lebih ekspresif dan bermanfaat bagi masyarakat. Perjuangan tidak harus selalu hadir dalam bentuk yang sama seperti pada masa lalu, tetapi dapat diteruskan melalui berbagai upaya yang memberikan dampak nyata bagi kehidupan bersama,” ujar Samuel.

Apresiasi juga disampaikan pengunjung, Gregorious Hendrawan Manurung. Ia menilai pameran tersebut berhasil memadukan penyajian artistik dengan materi sejarah berbasis riset mendalam.

“Pameran di Rumah PoHan ini, selain secara artistik ditata dengan bagus, materi di dalamnya juga dinarasikan dengan baik sekali karena didahului oleh riset yang mendalam terlebih dahulu. Hal ini membuat pengunjung tidak hanya menikmati penyajian visualnya, tetapi juga dapat memahami konteks sejarah yang disampaikan,” ujar Gregorious.

Bagi Rumah PoHan, pameran ini merupakan bagian dari upaya memperluas penelusuran sejarah lokal. Penggalian sumber, pendokumentasian kesaksian, serta pengembangan penelitian, buku, film dokumenter, dan karya seni diharapkan dapat membuka ruang bagi pengalaman masyarakat yang belum banyak terdokumentasikan sekaligus memperkaya pemahaman tentang Pertempuran Lima Hari di Semarang. 

Oleh: Kesit Widjanarko

Penyunting: Ghendis dan Fani

Advertisements

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *