Menghirup Udara Pagi Kembali

Sumber: Pinterest

Siapakah aku jika embun mulai turun?
Biarlah jika jemari ini masih sekeras batu,
Mata dipaksa terbuka pelan dibingkai cahaya
kaku dan mati rasa memeluk sisa luka yang lalu
Meskipun aku, Nala, tak punya sayap seluas angan-angan
Untuk terbang menjauh dari bayang yang mencekam

Namun kini, kulit dibasuh angin dingin nan jernih
Meluruhkan sisa pekat yang sempat mengurung batin
Jika semuanya terbuka, amatlah jelas, Nala
Kokok ayam silih berganti menjadikanku searah
Membangunkan kesadaran yang utuh:
Tidak sangat mungkin jika aku benar terkurung malam selamanya

Hingga suatu hari, langkah ini tak lagi tertahan
Nala, kalau saja fajar tak tahu maka tak akan kuberi tahu
Sinar surya pertama itu kini memelukku dengan begitu hangatnya
Aku sudah berjalan maju, keluar dari pekarangan hingga ke jalan raya
Melalui lorong-lorong kampung yang mulai riuh
Kakiku tegap melangkah di atas rerumputan berembun
Sementara awan di langit mengawasiku dengan senyuman restu

Apabila aku dibangunkan begitu saja dari tidur yang panjang, Nala
Dan jika aku dihidupkan kembali setelah segala karam seusainya
Yang ingin kutanya padamu dan pada semesta sekali lagi adalah:
Dengan jiwa yang lapang dan jalan yang membentang ini
Siapakah aku jika semuanya telah menjadi baru?

(Ghendis)

Advertisements

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *