Notice: Function _load_textdomain_just_in_time was called incorrectly. Translation loading for the popup-builder domain was triggered too early. This is usually an indicator for some code in the plugin or theme running too early. Translations should be loaded at the init action or later. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.7.0.) in /home/lpmdimensi/public_html/wp-includes/functions.php on line 6260

Notice: Function _load_textdomain_just_in_time was called incorrectly. Translation loading for the insert-headers-and-footers domain was triggered too early. This is usually an indicator for some code in the plugin or theme running too early. Translations should be loaded at the init action or later. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.7.0.) in /home/lpmdimensi/public_html/wp-includes/functions.php on line 6260

Notice: Function _load_textdomain_just_in_time was called incorrectly. Translation loading for the wp-optimize domain was triggered too early. This is usually an indicator for some code in the plugin or theme running too early. Translations should be loaded at the init action or later. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.7.0.) in /home/lpmdimensi/public_html/wp-includes/functions.php on line 6260

Notice: Fungsi _load_textdomain_just_in_time ditulis secara tidak benar. Pemuatan terjemahan untuk domain hueman dipicu terlalu dini. Ini biasanya merupakan indikator bahwa ada beberapa kode di plugin atau tema yang dieksekusi terlalu dini. Terjemahan harus dimuat pada tindakan init atau setelahnya. Silakan lihat Debugging di WordPress untuk informasi lebih lanjut. (Pesan ini ditambahkan pada versi 6.7.0.) in /home/lpmdimensi/public_html/wp-includes/functions.php on line 6260
Megahnya Napak Tilas dan Ritual Budaya Jawa Timur – LPM Dimensi

Megahnya Napak Tilas dan Ritual Budaya Jawa Timur

Sumber: travel.detik.com

Blitar – Jawa Timur selalu menawarkan banyak pengalaman menarik, bukan hanya dengan situs-situs sejarah seperti Makam Bung Karno, tetapi terdapat juga  tradisi budaya yang terus hidup di tengah masyarakat. Salah satu tradisi yang dinanti adalah Kirab Tumpek Agung Nusantara, sebuah perayaan tahunan yang digelar setiap 27 Juni yang selalu menarik perhatian masyarakat berbagai daerah, bahkan luar negeri.

Tradisi ini diprakarsai oleh Lembaga Pelindung dan Pelestari Budaya Nusantara (LP2BN) Blitar, sebuah lembaga pecinta budaya dari  kawasan Blitar, Kediri, dan Tulungagung sejak 2012. LP2BN berupaya merawat kembali upacara kuno yang diyakini telah berlangsung sejak abad ke-12. Selain sebagai ritual keagamaan, kirab ini dilaksanakan untuk melestarikan budaya dan  sebagai bentuk penghormatan atas ulang tahun Candi Palah Penataran yang dipercaya berdiri pada 27 Juni 1197.

Prosesi dimulai dari Situs Balekambang, sekitar tiga kilometer dari Candi Penataran. Tempat ini dipercaya sebagai altar awal, pusat energi yang menjadi titik permulaan Upakarti Yadnya Puja untuk memuliakan Dewa Siwa. Di masa lampau, para brahmana dari empat penjuru Nusantara diyakini berkumpul di sini untuk melantunkan mantra Hasta Brata dalam sebuah lingkaran mandala, simbol keseimbangan alam semesta.

Dari Balekambang, ribuan peserta berjalan kaki menuju Candi Penataran dengan diiringi tumpeng lengkap dengan janur kuning, hasil bumi, dan sesaji. Arak-arakan tersebut diikuti oleh para seniman, dalang, pemain gamelan, budayawan, hingga warga. Alunan suling, gong, dan tabuhan kendang mengiringi perjalanan yang menghidupkan kembali suasana kejayaan Kediri, Tumapel, Singasari, hingga Majapahit.

Selain itu, Candi Penataran sendiri memiliki nilai historis mendalam. Pada masa kerajaan Kediri, kompleks ini digunakan sebagai tempat pendarmaan bangsawan. Pada era kerajaan Majapahit, khususnya saat masa Prabu Jayanegara, candi ini ditetapkan sebagai “candi negara” yang menjadi simbol pemersatu beragamnya kelompok masyarakat.

Setibanya di pelataran utama, para tetua adat memimpin doa bersama. Dilanjutkan dengan mempersembahkan tumpeng, pembagian tirta suci sebagai sarana penyucian diri, serta menghadirkan buah-buahan sebagai ungkapan syukur.

Kirab Tumpek Agung membawa tiga penekanan utama, yaitu memperdalam spiritualitas, memperkuat identitas budaya Jawa, dan mendorong pemberdayaan masyarakat melalui seni, tradisi, serta pariwisata lokal. Kegiatan ini melibatkan desa budaya, para raja dan tokoh adat Nusantara, hingga generasi muda. 

(Tim Riset)

Sumber:
https://travel.detik.com/cerita-perjalanan/d-8009756/megahnya-napak-tilas-dan-ritual-budaya-jawa-timur

Advertisements

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *