Akankah Kita Menjadi Generasi (yang) Keblinger?


Oleh: David P. Esap

Mahasiswa Semester II Jurusan Teknik Mesin

Lebih dari setengah abad yang lalu negara kita telah memploklamirkan kemerdekaannya. Telah diakui pula negara kita sebagai negara merdeka, banyak yang berubah semenjak itu, begitu juga pola pikir dari sebagian masyarakat kita sekarang.

Masih teringat dipikiran kita saat belajar sejarah di sekolah, bagaimana perjuangan generasi Soekarno-Hatta guna memperoleh hak-hak manusia Indonesia seutuhnya, termasuk hak untuk memperoleh pendidikan yang layak. Bukan suatu hal mudah bagi Soekarno, Hatta, serta pahlawan-pahlawan generasi itu untuk dapat belajar di sekolah-sekolah koloni, yang ketika itu hanya segelintir dari masyarakat kita yang mendapatkannya. Walau dididik oleh guru-guru berkebangsaan lain, yang notabene orang-orang yang telah menjajah mereka, mereka tetap bersemangat guna memperoleh ilmu pengetahuan. Menuntut ilmu demi pembebasan hak-hak rakyat adalah salah satu perjuangan mereka. Penjara bukan lagi tempat asing karena tulisan-tulisan pergerakan mereka -yang merupakan implementasi pembelajaran di kelas-kelas- telah mengganggu ketenangan para penjajah.

Namun apa yang terjadi sekarang sangat memperihatinkan, pendidikan bukan lagi kata sakral yang keberadaannya dimanfaatkan dengan maksimal. Mahasiswa yang berada di tingkat kedewasaan pendidikan tertinggi pun, belum seluruhnya memahami arti penting sebuah pendidikan. Mereka yang mempunyai niat awal untuk memperoleh ilmu dengan kuliah, seakan lupa(atau sengaja melupakan) pada apa yang mereka janjikan pada orang tua. Janji bahwa mereka akan belajar dengan sungguh-sungguh hanyalah tekad basi yang nonsense.

Sudah menjadi ciri khas mahasiswa sekarang yang terkesan menyepelekan persoalan dan berperilaku seenaknya seperti fenomena tidur di kelas. Saat proses pembelajaran sedang berlangsung, tidak bisa dipungkiri kebanyakan dari kita yang masuk kelas hanya untuk setor wajah yang kemudian tidur di kelas. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang berasal dari kota kecil rela pergi meninggalkan jam pelajaran hanya untuk mengunjungi tempat-tempat keramaian seperti dunia gemerlap (dugem) dan disana mereka hanya menghambur-hamburkan uang orang tua mereka, agar mereka tidak dibilang mahasiswa kuper (kurang pergaulan) serta masih banyak lagi kegiatan negatif yang tidak bisa terungkapkan.

Renungkanlah bahwa orang tua kita disana, yang sedang berjuang untuk pendidikan kita dan berpikir buah hatinya memang sedang belajar, harus menerima kenyataan bahwa mereka hanya bisa tidur di kelas atau menghabiskan uang orang tuanya!

Apakah ini karena kebebasan yang kita dapatkan terlalu berlebihan sehingga kita merasa keblinger? Apakah kita akan terus-terusan mengkambinghitamkan sistem perkuliahan di kampus kita yang terlampau ketat? Salahkah jika ada orang yang mengatakan bahwa kita adalah generasi yang keblinger?

Advertisements

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.