Notice: Function _load_textdomain_just_in_time was called incorrectly. Translation loading for the popup-builder domain was triggered too early. This is usually an indicator for some code in the plugin or theme running too early. Translations should be loaded at the init action or later. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.7.0.) in /home/lpmdimensi/public_html/wp-includes/functions.php on line 6260

Notice: Function _load_textdomain_just_in_time was called incorrectly. Translation loading for the insert-headers-and-footers domain was triggered too early. This is usually an indicator for some code in the plugin or theme running too early. Translations should be loaded at the init action or later. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.7.0.) in /home/lpmdimensi/public_html/wp-includes/functions.php on line 6260

Notice: Function _load_textdomain_just_in_time was called incorrectly. Translation loading for the wp-optimize domain was triggered too early. This is usually an indicator for some code in the plugin or theme running too early. Translations should be loaded at the init action or later. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.7.0.) in /home/lpmdimensi/public_html/wp-includes/functions.php on line 6260

Notice: Fungsi _load_textdomain_just_in_time ditulis secara tidak benar. Pemuatan terjemahan untuk domain hueman dipicu terlalu dini. Ini biasanya merupakan indikator bahwa ada beberapa kode di plugin atau tema yang dieksekusi terlalu dini. Terjemahan harus dimuat pada tindakan init atau setelahnya. Silakan lihat Debugging di WordPress untuk informasi lebih lanjut. (Pesan ini ditambahkan pada versi 6.7.0.) in /home/lpmdimensi/public_html/wp-includes/functions.php on line 6260
Gugatan Kebocoran Data Dilayangkan, Tuntutan Tak Kunjung Menemui Titik Terang – LPM Dimensi

Gugatan Kebocoran Data Dilayangkan, Tuntutan Tak Kunjung Menemui Titik Terang

Ilustrator: Rafli

Polines, DIMENSI (29/04) – Proses pemungutan suara pada Pemilihan Raya (Pemira) Politeknik Negeri Semarang (Polines) telah usai dilaksanakan pada Sabtu (23/04) lalu. Namun, pada Rabu (27/04) terdapat sebuah gugatan terhadap seluruh perangkat panitia Pemira yang dilayangkan oleh salah seorang mahasiswa Jurusan Akuntasi. Gugatan tersebut berkaitan dengan kebocoran data pemilih dalam pelaksanaan Pemira. Akan tetapi, kejelasan pelaksanaan tuntutan masih menjadi perdebatan.

Gugatan tersebut berawal dari pengakuan Salimah Alfi, Mahasiswa Jurusan Akuntansi, yang menemukan adanya kebocoran data saat pelaksanaan Pemira di Jurusan Akuntansi dan Administrasi Bisnis pada Kamis-Jumat (20-21/04). Kebocoran tersebut dibuktikan dengan adanya pengakuan tiga orang saksi terkait penyebaran data mahasiswa melalui link spreadsheet di grup WhatsApp kelas oleh salah seorang Panitia Pemungut Suara (PPS). “Saya telusuri link tersebut dan ternyata aksesnya publik, di sini aneh mengapa aksesnya tidak menggunakan undangan e-mail,” terang Salimah. Dalam gugatannya, Salimah melayangkan dua pilihan tuntutan, yaitu Panitia Pemira mengadakan Pemira ulang atau mengakui kesalahan dan meminta maaf kepada seluruh organisasi mahasiswa (ormawa) hingga organisasi menginduk tak terkecuali serta mahasiswa umum secara luring.

Menanggapi hal tersebut, Badan Pengawas Pemilihan Raya (BPPR) telah menerbitkan surat ketarangan Nomor: 013/PEMIRA/BPPR/2022, yang berisi pengakuan adanya keteledoran dari pihak panitia yang menyebarkan data username dan password Pemira kepada mahasiswa umum serta tidak adanya bukti penyalahgunaan hak suara. Namun, forum permintaan maaf tidak akan dilaksanakan secara luring, mengingat bersamaan dengan Libur Lebaran 2022. Dengan adanya surat tersebut, Salimah tetap tidak bisa menerima keputusan yang dibuat oleh BPPR. “Apabila tuntutan tidak dikabulkan maka profesionalitas mereka dipertanyakan,” tegasnya.

Terkait dengan tuntutan yang ada, Hegi Ainul, Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM), menjelaskan bahwa gugatan yang dilayangkan sudah tidak dapat dilanjutkan. Untuk tuntutan pertama tidak bisa dipenuhi karena tidak ada bukti penyalahgunaan data. Kemudian, untuk tuntutan yang kedua sudah selesai dengan persetujuan permohonan maaf oleh pihak tergugat. “Forum permintaan maaf dilakukan sebagai inisiasi yang diperintahkan dari BPM sebagai catatan dari penolakan gugatan,” jelasnya. Namun, sampai saat artikel ini ditulis, belum ada keputusan mengenai kapan dan bagaimana mekanisme pelaksanaan forum tersebut.

Di sisi lain, Emmanuella Anandita, Wakil Ketua Komisi Pemilihan Raya (KPR), mengaku sangat menyayangkan adanya permasalahan ini dan pihaknya siap menerima konsekuensi yang ada. “PPS juga yang membentuk KPR, jadi kami siap menjalankan sanksi yang diberikan BPPR,” terangnya. Lebih lanjut, ia berharap hal ini menjadi pembelajaran bersama. “Ini untuk pembelajaran ke depannya agar lebih bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas,” pungkasnya.

(Mahesti)

Advertisements

Mungkin Anda juga menyukai