Majalah Dimensi Edisi Digital

Toleransi Maba Pita Merah

Polines, DIMENSI (24/08) – Latihan Dasar Kedisiplinan (LDK) Mahasiswa baru (Maba) Politeknik Negeri Semarang (Polines) telah memasuki hari kedua. Seperti pada tahun sebelumnya Korps Suka Rela (KSR) Polines memberikan pita merah kepada maba yang mempunyai kriteria sakit tertentu. Maba dengan pita merah mendapatkan perlakuan khusus berupa toleransi pada saat kegiatan fisik. “Saya mendapatkan pita merah sejak gladi kotor hari senin kemarin, karena punya riwayat penyakit dalam. Saat aktivitas berat disuruh kebelakang, karena memang saya sudah beberapa kali ikut aktivitas berat dan pasti penyakit saya kambuh,” ujar Sevty Tri Wijaya, maba Jurusan Administrasi Bisnis.

“Saya mendapat perlakuan khusus dari pelatih, menwa dan KSR disini. Toleransinya cukup banyak, mengingat kondisi saya yang berkaki empat (menggunakan krek-red), saya mendapatkan perlakuan khusus seperti, lebih diperhatikan soal keamanan saat di lapangan. Selama berkaitan dengan fisik  Saya tidak ikut, Saya ikut dalam apel saja dengan bimbingan pelatih dan pengawasan dari tim KSR,” terang Fajar Tri Asmoro Loko, maba Jurusan teknik Mesin dari Peleton 5 Kompi B yang mengalami patah tulang bagian kaki usai kecelakaan pada bulan Juli lalu. Alasan Fajar mengikuti LDK karena LDK merupakan kewajibanya sebagai maba di Polines dan ia merasa masih cukup kuat untuk mengikuti LDK. Walaupun ia merasa kecewa karena tidak bisa mengikuti susunan acara LDK seperti teman-teman maba lainya.

Menurut Ganar Pradiko, Komandan KSR periode 2016/2017 memang ada penanganan khusus untuk maba yang mendapatkan pita merah. “Pita merah memang membutuhkan penanganan khusus, ada koordinasi antara Resimen Mahasiswa (Menwa) dan KSR bahwa maba pita merah disuruh kebelakang keluar lapangan pada saat kegiatan tertentu.” Ganar juga menjelaskan bahwa ada pendataan untuk maba yang sakit dan diberikan pita merah, pendataan ini berdasarkan keterangan dari maba. Ia juga menambahkan bahwa jumlah maba yang mendapatkan pita merah tahun ini menurun dibandingkan tahun lalu,” ujarnya.

Menurut Sevty Tri Wijaya adanya pemberian pita merah sangat efisien, karena dengan adanya pita merah maba yang memiliki riwayat penyakit mendapatkan toleransi. Namun, masih ada beberapa maba yang berpura-pura sakit agar mendapatkan pita merah.

“Dari penglihatan saya, pita merah ada yang benar sakit ada yang pura-pura sakit,” tutur Videlia Rosa maba jurusan Elektro.

Menanggapi hal tersebut, Sekar Wangi Hayuningwuri mahasiswa Jurusan Akuntansi mengatakan bahwa seharusnya ada surat keterangan dari Dokter, agar KSR lebih mengetahui mana maba yang benar-benar sakit atau pura-pura sakit.

 

Diliput dan ditulis oleh:

Nurul

Telah diterbitkan pada buletin cetak edisi LDK hari kedua.

Advertisements

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *