Majalah Dimensi Edisi Digital

Tol Kenangan Umi

Ilustrasi oleh Erica A.

Seluruh helai rambutnya putih. Bahkan alisnya bisa terhitung berapa helai bulu-bulunya yang hitam. Namun kulit sekitar matanya yang mengkerut sedikit tertutupi oleh kacamatanya. Mata teduhnya, hidung mancungnya, kulit beningnya, tubuh tingginya, tak dapat terelakkan lagi,  ia memang lelaki tertampan dalam masanya. Sungguh, siapapun wanita di semesta ini pasti beruntung jika memiliki cintanya.

Gundul gundul pacul cul gempelengan
Nyunggi nyunggi wakul kul gempelengan

bakul glempang segane dadi salatar
bakul glempang segane dadi salatar

 

Ia terus menyenandungiku lagu Gundul-Gundul Pacul, namun sesekali  ia  memberikan jeda kepada mulut dan pita suaranya untuk diam beristirahat menghentikan lagu-lagu yang disenandungkannya. Sedangkan matanya terus memandang sedu ke arah jalan tol. Ya jalan tol penghubung dua kota itu.

Semenjak kepergian Umi, Abah selalu memandangnya. Terkadang memandangnya dengan  tatapan sedu seperti menyimpan kekecewaan yang mendalam. Namun juga terkadang ku dapati Abah memandangnya dengan tatapan yang sungguh nanar seperti murka Bondowoso saat mengutuk Roro Jonggrang menjadi candi.

Pernah suatu ketika aku bertanya kepada Abah, kenapa ia selalu memandang dengan sedu ataupun nanar jalan tol itu. Namun Abah diam. Tak ingin bercerita apa-apa. Ia bahkan melarangku bertanya-tanya lagi  tentang jalan tol itu.

Sedangkan lagu Gundul-Gundul Pacul itu,  aku juga heran mengapa Abah menyenandungiku lagu Gundul-Gundul Pacul itu lagi. Padahal terakhir Abah menyanyikan itu adalah ketika aku berusia sepuluh tahun. Dulu Abah pernah sedikit bercerita kepadaku, bahwa sebelum Eyang Slamet, bapaknya Abah meninggal,  Eyang Slamet sering menyenandung lagu itu sebelum Abah tidur.  Dan ketika aku kecil, Abah mewariskan kebiasaan Eyang Slamet itu kepadaku, satu-satunya  putri Abah.

Abah dulu sering menyenandungiku lagu Gundul-Gundul Pacul ketika aku akan terlelap di pangkuannya sehabis bermain petak umpet ataupun dakon dengan teman-teman, ketika aku sedang senang karena memenangkan permainan kelereng, atau bahkan ketika aku sedang sedih karena jatuh dari sepeda. Atau ketika aku memintanya menyanyi, pasti ia akan menyanyi.

Oh Abah, kini kau menyanyi untukku lagi. Betapa ku rindu dengan lagu itu. Apa yang kau tengah rasakan kini hingga kau senandungkan dengan merdu lagu itu lagi?  Ingin ku lontarkan pertanyaan itu kepada Abah. Tapi tiba-tiba nyanyian Abah berhenti ketika suara azan berkumandang bersama dengan senja keemasan yang dilukis Tuhan. Seketika itu, mulutnya spontan menirukan azan yang telah berkumandang.

Namun tiba-tiba juga ia menangis tersedu-sedu. Eluhnya menetes bercucuran ketika muadzin menyerukan bunyi Laailahaillallah. Belum sempat pula ku tanyai mengapa ia menangis, ia langsung bergegas mengambil air wudhu. Lalu melangkahkan kakinya menuju sumber suara azan.

***

Ku pandangi raut mukanya di teras rumah selepas ia pulang dari masjid. Raut itu sama ketika ia kehilangan seseorang yang ku ketahui adalah cinta pertama dan terakhirnya dulu. Kesedihannya membuatku bungkam terhadap apa yang terjadi dan tak berani mengatakan apa-apa kepadanya, selain hanya mengingatkan jika ia harus makan.

“Abah rindu Umi.”

“Aku juga rindu Umi, Bah.”

“Tolong jangan tinggalkan, Abahmu ini.”

“Tapi  Abah harus makan.”

Aku termenung. Bungkam beberapa menit. Tak melontarkan kata-kata apapun.

“Tolong jangan tinggalkan Abahmu ini.” Ia mengatakan hal yang sama dua kali.

Aku belum menjawab perkataannya. Namun semakin Abah memintaku untuk tak meninggalkannya, ketika itu pula ku rasakan bagaimana cinta bergelayut dalam nadiku. Cintaku kepada Abah mengalir bersama darah yang menjadikan hatiku semakin lama semakin teriris. Ku rasakan kini, bagaimana mungkin aku, seorang anak perempuan satu-satunya akan tega meninggalkan Abah yang telah menua.

“Bersama Umimu itu, Abahmu ini merasakan getaran yang sering orang-orang namakan cinta. Sungguh hati Abah kini dirundung rindu yang sungguh keterlaluan. Abah tak ingin kau meninggalkan Abah.”

“Lihatlah langit itu Abah. Umi pernah bercerita kepadaku sewaktu kecil. Jika suatu saatnya telah tiba, Umi akan berubah menjadi cahaya sebinar-binarnya cahaya di langit. Dan bukankah Umi sekarang sudah bahagia menjadi cahaya dan bertemu dengan Allah langsung?“

“Kebahagiaan terbesar memang ketika kita bertemu dengan sang Maha Cinta tanpa hijab yang membatasi. Dan Umi sekarang telah bertemu dengan pemiliknya.”

***

Bagaimana mungkin aku tega meninggalkan Abah yang sudah dua puluh tiga tahun  lamanya menemani diri ini? Tapi apakah Abah juga keterlaluan? Apakah ia tak bahagia jika putrinya ini menikah dengan Zaenuddin, seorang polisi muda yang sungguh kesalehan dan ketampanannya itu diidam-idamkan oleh gadis-gadis desa?

Ku rasai  jelas pasti esok hidupku akan bahagia bersama Zaenuddin. Jika aku menikah dengan seorang polisi pasti nanti ia akan melindungiku dan Abah. Serta keamananku dan Abah juga pasti akan terjamin. Tidak seperti cerita Abah dulu yang katanya ia dituduh anak PKI dan dijauhi banyak orang. Bahkan kata Abah, Eyang Slamet dulu pernah diasingkan  ke sebuah pulau karena dituduh PKI.

Andai saja Abah mengerti betul perasaaanku sesungguhnya, aku sangat mencintai Zaenuddin. Ingin sekali ku menikah dengannya. Hidup bersama-sama membangun sebuah bahtera yang berlayar ke surga. Tapi  ah Abah?  Ada apa dengan Abah hingga ku rasai belakangan ini semenjak ku beritahu rencanaku menikah dengan Zaenuddin, sikapnya menjadi berubah. Apakah Abah marah denganku karena  calon mantunya itu bukan seorang ustaz seperti apa yang Abah harapkan dulu?

Ku lihati Abah semakin hari semakin murung. Sorot matanya seakan menunjukkan ketakutan akan sebuah kehilangan. Tapi rasanya aku semakin geram dengan Abah yang tak suka dengan Zaenuddin. Abah semakin lama seperti anak kecil yang merajuk dan merengek ketika mainannya rusak.

Sekarang ku tanya, setiap orang pasti akan menikah bukan? Apa aku harus menemani Abah seumur hidup? Bisa-bisa jadi perawan tua diriku ini. Ah astagfirullah. Pikiran macam apa ini? Maafkan aku Abah yang sudah mempunyai pikiran sedurhaka ini.

Ku ingin coba beri pengertian kepada Abah tentang pernikahan yang selama ini kuharap-harapkan. Tapi Abah semakin lama semakin mengkhawatirkan. Ia semakin hari  menyendiri dari keramaian.  Duduk di kursi teras depan dan diam termenung, sedangkan sorot matanya yang sedu itu terus memandang jalan tol itu.

“Tak bahagiakah Abah jika putri kecil Abah yang telah mendewasa ini akan segera menikah?”

“Abah bukannya melarang kau menikah. Sungguh bukan niat Abah melarang kau bahagia.”

“Lantas kenapa Abah bertindak seperti tak bahagia mendengar keinginananku menikah dengan Zaenuddin?”

“Jangan menikah dengan seorang aparat itu.”

“Kenapa? Apakah ada yang salah dengan Zaenuddin?”

Abah terdiam. Sontak matanya memerah. Eluhnya hampir menetes.

“Apakah kau tak ingat kejadian ketika itu?  Ya mungkin umurmu ketika itu masih balita sehingga tak mengerti apa-apa. Yang kau tahu saat itu mungkin hanya ada alat-alat berat seperti bego mainanmu yang menjadi raksasa berada di antara lahan-lahan sawah.”

Aku teringat memori itu. Dulu aku sungguh tak mengerti, kenapa semenjak kehadiran bego mainan yang meraksasa itu,  para penjual layang-layang yang biasa berkeliling menawarkan layang-layang dagangannya dari bambu itu sudah berhenti menjual layang-layang lagi, sehingga  aku dan  teman-temanku pun  sudah tak dapat bermain layang-layang di sawah lagi. Dan selang beberapa tahun, tiba-tiba banyak kendaraan melintasi jalan tol itu dan beberapa  ada yang singgah di rest area.

“Hari itu, aparat itu  berbondong-bondong, datang bermobil-mobil. Mereka datang melebihi jumlah kami para petani disini. Lalu mereka membiarkan para pelaksana proyek itu dengan teganya meratakan lahan yang sebentar lagi akan kepananenan jagung.”

“Iya Abah. Aku ingat sekarang.”

“Beberapa dari kami melakukan perlawanan. Bahkan Abah dan Umimu lah orang-orang yang paling menentang dan menjadi yang terdepan. Kami berusaha membentuk tameng agar jagung-jagung yang sebentar lagi akan panen itu tak diratakan hari itu juga dengan alat-alat berat yang telah siap beroperasi. Kami para petani bahkan membentuk pagar hidup dan terus melakukan puji-pujian kepada Allah agar Allah melembutkan hati para pelaksana proyek. Sehingga mereka mengurungkan niatnya untuk meratakan lahaan sawah kami.”

Nanar bercampur sedu mata Abah semakin kentara. Kemudian dilepaslah kaca matanya itu dan ia melanjutkan ceritanya lagi.

“Tapi aparat itu. Aparat itu tak melindungi kami. Aparat itu orang suruhan. Mereka bahkan menyeret-nyeret beberapa dari kami yang tetap kukuh berada di sawah  berusaha dengan sekuat tenaga memperjuangkan hak kami. Dan aparat itu. Beberapa mereka menyeret-nyeret Umi yang tengah menghalangi proses eksekusi lahan itu. Karena Umi lah yang sangat kukuh memperjuangkan haknya yang tak dibayar dengan ganti rugi semestinya.”

Aku teringat memori tentang Umi. Aku masih ingat betul sebelum ada alat-alat berat itu, Umi selalu mengajakku ke sawah memanen jagung. Walau kadang kala itu, aku tak pernah membantunya memanen. Melainkan aku hanya berburu capung-capung sawah lalu ku masukkan ke dalam plastik bening, kemudian ku pamerkan kepada teman-temanku semasa kecil. Dan semenjak ada alat-alat itu, Umi tak pernah mengajakku ke sawah lagi.

“Bukankah aparat itu hanya menjalankan tugas Bah?”

“Bukankah jika kerja hanya sekedar kerja, maka kera topeng monyet itu juga kerja?”

“Jadi Abah menuduh para aparat itu seperti kera?”

“Bukan. Bukan seperti itu. Apakah dalam bekerja mereka tak dapat membedakan antara mana yang hak dan yang bathil? Apakah kebeneran tak harus diungkap  sehingga mereka menjadi tahu dan dapat berpihak terhadap kebenaran itu? Apakah mereka hanya sebuah robot yang senantiasa takhluk dan tunduk kepada kapitalis dan orang yang mempunyai uang banyak serta membayar mereka? Bukankah semestinya para aparat itu melindungi kami orang-orang kecil ini?”

“Abah benar.”

“Jadi jangan nikah dengan aparat itu!” Abah menggertak.

“Tapi Zaenuddin beda dengan aparat-aparat itu Bah. Ia mengerti betul tentang agama. Aku juga yakin ia akan mengerti tentang mana yang hak dan mana yang bathil. Pun tentang kemana ia harus berpihak.”

“Tapi gara-gara diseret-seret oleh para aparat itu, Umi kehilangan sawahnya dan ia jatuh sakit berbulan-bulan. Hingga akhirnya  ia menghembuskan napas terakhir tanpa pemenangan. Dan kebenaran itu akhirnya kalah.”

Aku terdiam. Genangan di mataku tak dapat ku tahan-tahan lagi akan terjatuh dan membasahi pipi. Dan diriku ini tak tahu lagi apa yang harus ku lakukan. Mana yang harus ku pilih. Tapi Zaenuddin.

“Abah rindu Umi. Dan jalan tol itu…”

 

Tembalang,  23 Februari 2018

Richa Meiliyana Rachmawati

Advertisements

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *