Majalah Dimensi Edisi Digital

Sudahkah Kita Mencintai Diri Sendiri?

Ilustrasi: Prili

Sekarang kita hidup di era yang serba mudah, mau apa saja tinggal ‘klik’. Tapi entah mengapa banyak dari kita yang malah diperbudak oleh kemudahan tersebut. Dengan atau tanpa sadar, standar-standar kehidupan kian bergeser, mulai dari kecantikan, kebahagiaan, kesuksesan, bahkan masih banyak standar sosial semu yang ditanamkan untuk kita penuhi. Banyak orang yang merasa resah karena tidak mampu memenuhi standar-standar tersebut. Lalu mereka berlomba-lomba melakukan berbagai cara untuk tetap eksis dan dipandang keberadaannya oleh masyarakat.

Kita sering kali lupa untuk menerima, menghargai dan mencintai diri sendiri. Ketika menghadapi suatu kegagalan, kita justru menyalahkan diri sendiri dengan menempatkan diri kita seperti musuh yang paling dibenci. Ini jelas sebuah pemikiran yang keliru. Saya pernah membaca sebuah buku, bahwa ada yang namanya konsep berdamai dengan diri sendiri. Seperti yang diungkapkan oleh Gita Savitri Devi dalam bukunya yang berjudul Rentang Kisah, “Karena kita diberi jasad, diberi ruh, untuk diajak berteman. Bukan untuk dimusuhi. Bukan untuk dibego-begoin ketika kita melihat ada orang yang lebih cakep dari kita.”

Lalu, apa sih maksud dari konsep berdamai dengan diri sendiri itu?

Penerimaan. Ya, cara mencintai diri sendiri adalah dengan menerima. Menerima kekurangan, mengiyakan ketidakmampuan dan mengenolkan ekspektasi terhadap diri sendiri. Biar apa? Jelas agar kita dapat melihat siapa kita dan bagaimana diri kita sesungguhnya.

Tentunya tidak semua orang percaya dengan konsep mencintai diri sendiri atau yang biasa kita sebut self love. Ketika tengah berdiskusi, salah seorang teman mengatakan bahwa mencintai diri sendiri hanyalah omong kosong belaka. Hanya orang-orang idealis saja yang mampu mengaplikasikannya secara konkrit.

Sebenarnya tidak juga, self love sangat menyatu dalam kehidupan sehari-hari bahkan pada hal-hal kecil yang sering terlewat dan terabaikan sekalipun. Mari kita contohkan dengan sarapan. Mungkin banyak dari kita yang menyepelekan dengan dalih, “Ah gampang bisa ditahan sampai nanti siang”. Secara tidak sadar, budaya tidak sarapan pun dianggap sebagai suatu hal yang wajar. Apabila tidak dilakukan, ya fine it’s not a big deal.

Menyambung dari bahasan tadi, hal lain yang sering kita lupakan yaitu tidur. Tidur disini bukan sembarang tidur, melainkan tidur yang berkualitas. Tak jarang dari kita yang mengorbankan waktu tidur hanya untuk hal-hal yang sebenarnya tidak seharusnya. Misalnya bergadang, menonton film, bermain games, nongkrong bareng teman, bahkan ada yang menggunakannya untuk membuat tugas yang sebenarnya bisa dikerjakan jauh-jauh hari. Lalu kemanakah waktumu yang lain sehingga tak punya waktu untuk tidur? Kapan akan beristirahat? Bukankah tubuhmu berhak atas itu? Menjaga kesehatan juga merupakan  bagian self love yang amat sangat mudah dilakukan.

Selain itu, pernahkah kita menghargai pencapaian yang telah kita terima? Kita sering mengucapkan selamat atas hasil orang lain, namun apakah berlaku pada diri kita sendiri? Justru kita melupakan hal yang satu ini. Kita lupa bahwa kita telah berjuang, tentunya ini bukan hal yang mudah. Kita seharusnya menghargai betapa luar biasanya kerja keras kita untuk mencapai hasil tersebut. Kalimat sederhana seperti “You did well! Well done!” merupakan wujud penghargaan yang bisa kita lontarkan.

Maafkan kesalahan di masa lalu dan sudahi terus-terusan merasa terluka. Karena melupakan tidak akan mungkin, maka kita harus berdamai dengan masa lalu. Tentu semua orang pernah terluka, tetapi apakah mereka akan terlarut dalam kesedihan yang semu? Jangan membuat luka menjadi benteng penghambat pribadi yang lebih baik.

Kurangi membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain. Sering kali ketika melihat orang lain, kita selalu merasa kurang. Selalu saja ada hal yang membuat kita merasa tidak ada apa-apanya. Lalu muncullah rasa iri, kemudian mulai berusaha menjadi orang tersebut. Lama-kelamaan akan membuat kita asing terhadap siapa kita sebenarnya.

Netizen zaman sekarang memang kejam dalam mengkritisi. Mereka dengan kakunya tidak menoleransi perbedaan. Kadang kita juga perlu menjadi batu agar tidak ikut hancur. Banyak yang berlomba-lomba supaya terlihat sempurna, tak perduli harus mengorbankan miliknya. Demi pujian yang entah tulus atau tidak, mereka sampai rela mengubah fisik meski tak jarang menimbulkan rasa sakit.

Mengapa? Karena masyarakat tidak melihat keberagaman sebagai hal yang lumrah. Kita misalkan dengan kecantikan. Apa sih yang membuat orang dikatakan cantik? Wajah, tubuh, hati, otak, atau penampilan? Sangat disayangkan, kini banyak orang yang menilai bahwa standar kecantikan hanya sebatas kulit putih, wajah mulus, badan tinggi dan langsing saja.

Bahkan teman saya yang tidak memiliki standar seperti diatas pun berjuang habis-habisan untuk mendapatkannya. Menghabiskan banyak waktu, uang, dan tenaga. Bahkan apabila dijumlahkan ada jutaan rupiah yang telah dia keluarkan hanya demi sebuah julukan “cantik”. Nyatanya, it doesn’t work. Ketika disandingkan dengan orang-orang “cantik”, muncul kecemasan dan ketidakpercayaan diri.

Lalu apakah yang teman saya dapatkan? Tentu saja rasa lelah! Dari situ dia mencoba merubah mindsetnya. Dengan menerima dia menemukan kedamaian dalam dirinya.

Self love tidak mempunyai batasan dalam pengimplementasiannya. Bisa jadi merawat dan memperbaiki diri merupakan salah satunya. Selain itu kita juga harus membekali diri dengan pengetahuan, credibility, skill dibidang yang spesifik serta berlaku jujur. Good  social skill juga penting ketika kita merasa we don’t have good enough physical appearance. Dengan bekal tersebut, kita dapat mengeksplorasi potensi diri kita untuk dikembangkan lebih jauh. Lambat laun kita akan mencintai diri sendiri saat kita bermanfaat untuk orang lain.

Ingatlah, “everybody has their own uniqueness”. Proses menerima dan mencintai diri sendiri mungkin adalah proses yang panjang. Tulisan ini dibuat bukan untuk menjadikan kita sebagai orang yang egois, tetapi sebagai bentuk keresahan dan pengingat, sudahkah kita mencintai diri sendiri?

Oleh: Hani & Syifa

Advertisements

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *