Sistem Belum Siap, Ujian Daring Jadi Tak Bersahabat

Dok. Pribadi

Oleh : A. Nur Fatkhul Cholbi, Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) Polines 2020
Penyunting : Amelia Ade Oktavina

Semenjak Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) ditetapkan menjadi pandemi, hampir seluruh aktivitas dianjurkan untuk dikerjakan di rumah atau Work From Home (WFH). Hal tersebut dilakukan semata-mata untuk memutus mata rantai penyebaran virus corona yang terus meningkat tiap harinya. Tentunya ini menjadi suatu gaya hidup baru di masyarakat kita yang sudah terbiasa melakukan kegiatan di luar rumah. Karenanya berbagai aspek kehidupan mulai terdampak akan hal itu, tak terkecuali dalam kegiatan belajar-mengajar.

Melihat kondisi sekarang, sangat tidak memungkinkan untuk dilaksanakannya perkuliahan secara offline. Hingga pada akhirnya seluruh kampus memutuskan untuk melakukan pembelajaran secara daring, tak terkecuali Politeknik Negeri Semarang (Polines). Lebih dari itu, pandemi Covid-19 yang belum berakhir hingga mendekati waktu Ujian Akhir Semester (UAS) genap tahun ini, menjadikan beberapa lembaga institusi pendidikan akhirnya memutuskan untuk melaksanakan UAS secara daring pula.

Sebenarnya sudah tidak kaget mendengar istilah tes atau ujian daring karena tentu sudah dikenal banyak orang. Namun, tetap saja ada enak dan ngga enaknya. Lewat UAS daring ini kita bisa lebih menghemat kertas dan tidak memakan waktu seperti biasanya, dimana kita diharuskan untuk datang ke gedung perkuliahan. Mengacu dari dua hal tersebut maka selain bisa menghemat waktu, UAS daring juga bisa menghemat tenaga.

UAS daring memang menjadi pilihan yang terbaik pada kondisi saat ini. Namun, kenyataannya semua pihak yang terkait dirasa belum siap dalam melangsungkan UAS daring ini, sehingga menjadi kurang efektif. Ketidaksiapan itu diantaranya yaitu kelancaran sistem yang digunakan oleh Polines, yakni E-learning System of Polines (Elnino) masih sangat rendah. Seperti yang sudah kita rasakan selama pembelajaran daring, sistem Elnino sering down sehingga menimbulkan kendala dalam mengakses materi, soal ujian, kehadiran, dan juga pengumpulan tugas. Keamanan sistem juga masih belum baik, misalnya tidak ada pengaturan untuk mencegah mahasiswa mengakses situs lain selain Elnino.

Tak hanya sistem, mahasiswa maupun dosen juga terlihat belum siap menghadapi UAS daring. Mahasiswa belum sepenuhnya memahami materi yang diberikan oleh dosen selama pembelajaran daring, sehingga akan cenderung bersikap tidak jujur pada diri sendiri. Apalagi ada beberapa materi yang belum pernah diberikan selama pembelajaran daring ini, tetapi malah dikeluarkan saat ujian daring berlangsung. Hal tersebut memang tidak terelakkan karena tidak ada pengawasan selama UAS daring. Sedangkan dosen pun akan kesulitan dalam memberikan penilaian. Selain itu, banyak mahasiswa yang tinggal di daerah dengan jangkauan sinyal tidak cukup baik, sehingga menimbulkan kendala selama akses dan pengumpulan hasil ujian. Kemudian jadwal UAS yang tidak pasti juga menjadi salah satu kendala yang dihadapi.

Terkait beberapa hal tersebut, seharusnya pihak institusi lebih memperhatikan kendala-kendala yang terjadi selama pembelajaran daring, sehingga dapat meminimalkan kendala ketika UAS daring berlangsung. Diharapkan juga sistem UAS daring bisa lebih diperketat agar kejujuran dalam pengerjaan ujian tetap terjaga dan mendapatkan hasil yang sesuai dengan kemampuan mahasiswa. Meskipun baru pertama kali, tetapi tidak menutup kemungkinan sistem daring ini dapat diterapkan suatu saat nanti. Tentunya dengan pengembangan-pengembangan ke depannya sehingga sistem akan lebih baik dari yang saat ini. Di luar itu semua, untuk teman-teman mahasiswa harus tetap semangat dan kerjakanlah semampunya. Sekarang bukan saatnya untuk unjuk kecerdasan melainkan uji ketahanan menghadapi situasi yang tak menentu.

Advertisements

Mungkin Anda juga menyukai