MAJALAH DIMENSI EDISI DIGITAL

Seorang Laki-laki yang Keluar dari Rumah

Oleh : Robiatul Awaliyah-Teknik Sipil’16

Judul : Seorang Laki-laki yang Keluar dari Rumah
Penulis : Puthut EA
Penerbit : Mojok
Tebal buku : vi + 342 halaman; 13 x 20 cm
Kota terbit : Yogyakarta
Tahun terbit : Agustus 2017, Cetakan pertama

“Tersesat itu bukan kekeliruan yang harus ditakuti. Jalan saja. Tersesat saja. Tak mengapa. Sebagian sejarah ini dibangun oleh para petualang yang tersesat.”

Novel ini merupakan salah satu novel yang paling aneh bagi sebagian pembaca. Novel fiksi karya Puthut EA ini memang sedikit sulit untuk dideskripsikan. Jalan cerita yang disajikan memiliki sudut pandang yang berbeda setiap bab-nya. Seperti yang tertera disampul novelnya, “Anda bisa membaca novel ini dari setiap bab bernomor ganjil sampai tuntas, baru kemudian membaca bab genap; atau membaca novel ini sebagaimana lazimnya, dari awal sampai akhir; atau tidak membacanya sama sekali. Dan itulah golongan orang-orang yang merugi.” Pembaca diberi kebebasan untuk membaca sesuai kehendak pembaca sendiri.

Semua bab dalam cerita ini menggunakan tokoh “aku”. Meskipun sama-sama menggunakan tokoh “aku”, cerita di bab ganjil dan bab genap adalah dua cerita yang sangat berbeda. Namun juga saling terkait. Bisa dikatakan “aku” di bab ganjil adalah “aku” yang lain di bab genap. Pada bab bernomor ganjil, penulis menyajikan cerita dengan begitu menegangkan. Dimulai dengan tokoh laki-laki “aku” yang mengalami kejadian yang tak masuk akal. Dimana ia mendapati dirinya sendiri melakukan sesuatu dan perjalanan tanpa bisa ia kendalikan. Meskipun otaknya masih bisa bekerja, tetapi ia selalu gagal mengontrol dirinya. Berbagai kejadian spiritual dan tak masuk akal yang dialaminya, membuat ia berpikir keras dan mau tak mau harus mencari tahu apa yang telah terjadi pada dirinya dalam perjalanannya.

Selain itu pada bab ganjil juga memperlihatkan beberapa pemikiran-pemikiran politik dan ideologi tokoh dengan mengambil latar cerita kasus ’65, keresahan terhadap komunisme, dan juga kasus Salim Kancil dan Tosan. Kisahnya semakin menarik saat tokoh “aku” bertemu dengan beberapa tokoh lain seperti Rus, Cak Amrullah, dan juga Om Tan. Segala percakapan yang terjadi seperti menggantung dan menyisakan teka-teki dan membuat pembaca ingin segera menyelesaikan bab ganjil dengan harapan dapat menemukan jawaban dari teka-teki yang ada. Perjalanan yang sangat syarat makna akan arti hidup.

Dari sudut pandang lain di bab bernomor genap, pembaca diberi pencerahan atau penenang dari bab-bab ganjil. Beberapa teka-teki sudah mulai menemukan titik terang. Dengan bahasa yang sederhana dan ringan, penulis menyajikan drama keluarga yang syarat akan polemik kehidupan berumah tangga. Selain itu, kisah-kisah asmara dengan memuat cerita asmara di masa lalu. Tokoh “aku” pada bab genap ini bernama Pandu. Ia diminta Rukmi, istri seorang laki-laki bernama Budiman untuk membantu mencari tahu penyebab suaminya yang tiba-tiba mengalami sakit aneh. Suaminya mendadak tak pernah bicara dan banyak melamun selama berpuluh-puluh hari. Jika ditelisik lebih dalam, ternyata tokoh Budiman ini adalah tokoh “aku” di bab ganjil. Jika pembaca memulai bacaan dari bab ganjil terlebih dahulu, semua akan terasa masuk akal. Namun, jika mulai dari genap terlebih dahulu atau membaca secara berurutan maka pembaca akan sedikit mengalami kesulitan dalam memahami jalan cerita. Karena harus mengingat betul jalan cerita sebelumnya.

Novel ini dikemas dengan begitu menarik. Penulis seperti tahu cara mempermainkan reaksi pembacanya. Sesekali pembaca dibuat tercengang dan juga kagum. Sesekali dibuat serius dan bingung. Selain itu juga sesekali pembaca dibuat bergumam, “oh, jadi begitu”, “wah, ternyata begitu”.

Namun, ada beberapa bagian cerita dalam novel ini yang sedikit menyebalkan. Beberapa kisah tak diceritakan secara utuh. Dan tokoh-tokoh tambahan yang juga tak diceritakan secara detail. Membuat pembaca banyak menduga-duga dan dihantui rasa penasaran. Secara keseluruhan, pokoknya novel ini recommended banget lah ya hehehehe.

 

Advertisements

Mungkin Anda juga menyukai

2 Respon

  1. salma berkata:

    kok ada ‘hehehehe’nya?

  2. Robi berkata:

    Emang pas lagi nulis resensinya, mba-nya suka ketawa sendiri gitu hehehehe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *