Persiapan Jelang Pemira Daring 2020

Ilustrator: Novia

Polines, Dimensi (21/07) – Menuju Pemilihan Raya (Pemira) Serentak 2020 yang akan dilaksanakan pada 22-29 Juli, Komisi Pemilihan Raya (KPR) bersama Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) telah melakukan berbagai persiapan, salah satunya adalah sosialisasi mengenai mekanisme pemilihan calon yang akan dilakukan secara daring yaitu melalui website yang telah disiapkan oleh panitia.

Sosialisasi tentang mekanisme pemilihan tersebut dipublikasikan melalui beberapa media sosial seperti Instagram, Line, dan lain-lain. KPR juga telah mempersiapkan terkait adanya kendala yang mungkin dihadapi dalam pelaksanaan Pemira daring kali ini. Salah satunya kendalanya adalah sinyal, baik dari panitia maupun peserta yang tidak dapat diprediksi. Oleh karena itu, KPR menyikapi dengan memberikan hari tambahan bagi mahasiswa yang terkendala dalam menggunakan hak suaranya pada tanggal yang telah dijadwalkan. “29 Juli menjadi hari tambahan jika nantinya ada mahasiswa yang terkendala dalam menggunakan hak suaranya,” jelas Afif Fahrudin selaku Ketua KPR.

Sejalan dengan sosialisasi mekanisme Pemira, Irhamul Umam selaku Tim Server dari Polytechnic Computer Club (PCC) mengungkapkan bahwa sistem dan website pemilihan sudah siap untuk digunakan. “Sistem 95% sudah siap untuk digunakan, hanya tinggal menunggu waktu pembukaan website pemilihan,” ujar Irhamul. Untuk sistem log in nya sendiri, mahasiswa log in menggunakan Nomor Induk Mahasiswa (NIM) dan password yang akan dibagikan oleh panitia. “NIM yang digunakan untuk log in akan diverifikasi secara otomatis dan nanti di akhir halaman sebelum keluar website, pemilih harus mengunggah kartu identitas yang digunakan sebagai bukti validitas data agar menjadi suara yang sah,” tambah Irhamul.

Pendistribusian password untuk log in diserahkan kepada HMJ masing-masing jurusan yang akan dibagikan H-1 sebelum hari pemilihan dari tiap-tiap jurusan, kecuali untuk Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil. “Password bagi mahasiswa Jurusan Teknik Sipil akan dibagikan secara langsung oleh panitia Pemira dikarenakan mereka telah melakukan pemilihan Ketua Himpunan (Kahim) terlebih dahulu,” ujar Afif.

Perhitungan Suara

Perhitungan suara setiap calon dilakukan seperti pemilihan pada umumnya, yaitu menggunakan quick count yang mana perhitungan suara dapat dipantau secara real time oleh public melalui link yang tersedia di website dan dapat diakses kapan saja selama masih dalam waktu kerja. Quic count yang berbetuk angka dan chart akan berubah setiap 15 menit sesuai perkembangan jumlah pemilih. Apabila user mengarahkan pointer mouse pada salah satu calon, maka akan muncul presentasi angka dan jumlah suara yang nyata. “Quick count dapat diakses publik pada pukul 07.00-19.00 WIB, di luar jam itu publik tidak bisa mengakses karena akan dilakukan pengecekan ke-valid-an data dan perekapan suara,” ungkap Irhamul. Selain itu, ia juga menambahkan bahwa suara dianggap valid ketika user mengunggah kartu identitas berupa KTM atau lainnya.

Saat hari berlangsungnya pemira nanti, akan terdapat tim server yang bertempat di Hall PKM, yang terdiri dari perwakilan KPR dan HMJ. Selain itu, nantinya juga akan dihadiri oleh Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) dan Presiden Mahasiswa (Presma) yang akan mengawasi langsung pemilihan melalui server. “Batas maksimal orang di dalam ruangan server 10 orang, dengan perwakilan HMJ berjumlah tidak lebih dan tidak kurang dari 2 orang. Tentunya juga selalu menerapkan protokol kesehatan dan menerapkan social distancing,” ungkap Afif.

Nabilah, Mahasiswa Jurusan Administrasi Bisnis mengungkapkan bahwa video terkait sosialisai pemilu serentak cukup mudah untuk dipahami. Video tersebut di-share melalui grup Whatsapp kelas. Dia juga menuturkan bahwa pemira tahun ini lebih efektif. “Sepertinya, pemira tahun ini lebih praktis dan efisien karena tinggal mengklik calon yang dipilih. Semoga dengan pembagian sesi pada pemilu tahun ini tidak terjadi trouble,” ungkapnya.

Senada dengan Nabilah, Vina Rahma Auliya mahasiswa dari Jurusan Akuntasi berpendapat bahwa sosialisasi secara online lebih efektif dan mudah dipahami karena menggunakan video interaktif yang menarik. Dalam video tersebut, cara melakukan pemilihan dinilai sangat jelas dan rinci pada tiap-tiap langkahnya. Pemberian sesi dalam pemira juga dirasa efektif guna meminimalisir server down. “Saya harap mahasiswa tidak asal memilih calon, karena suara yang diberikan sangat menentukan Polines kedepannya,” pungkas Nabilah.

(M. Reski Efendi, Kholifatul Mufti L.P)

Advertisements

Mungkin Anda juga menyukai