MAJALAH DIMENSI EDISI DIGITAL

Novel Nora: Kehilangan Ala Putu Wijaya

Oleh: entilupaa

Judul Buku: Nora (Novel ke-2 Tretalogi Novel Dangdut)
Penulis: Putu Wijaya
Penerbit: Basa basi
Tahun terbit: 2017
Tebal buku: 363 Halaman

Kehilangan seseorang yang berarti dalam hidup kita pastinya akan memberikan dampak yang sangat besar. Bisa menimbulkan kesedihan, depresi tak berkesudahan. Bahkan kehilangan arah hidup dan tujuan.

Diceritakan bahwa Nora kehilangan Pak Mala yang merupakan suaminya saat tiba-tiba Pak Mala harus ditahan karena kasus pembunuhan dan mutilasi terhadap sahabatnya, Midori. Nora tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dia hanya ingin Pak Mala pulang ke rumahnya dan ada di sekitarnya.

Sedangkan di sisi lain, keadaan kantor tempat Mala bekerja sebagai Pemimpin Redaksi (Pemred) suatu perusahaan media lumayan ribet. Setelah mengambil sikap, akhirnya diangkatlah seorang reporter bernama Budi untuk menduduki jabatan Pemred. Selang beberapa tahun, Pemimpin Umum perusahaan meninggal dunia. Meninggalkan pertikaian besar terhadap kepemilikan saham perusahaan tersebut.

Usut punya usut, bukan Mala yang telah membunuh Midori. Ada kemungkinan pula bahwa Midori belum mati. Budi merasa bersalah kepada Mala karena telah memberikan kesaksian palsu saat itu. Namun, ia tetap menerima semua fasilitas mewah yang diberikan oleh Adam dengan dalih sebagai fasilitas kantor.

Kini, Mala telah bebas. Ia hendak menemui Nora dan mengatakan bahwa ia begitu merindu. Ia terus mencari hingga ia berhasil mengurai benang kusut hidupnya. Nora telah bersuami lain. Ia mundur pelan seraya menguapkan rindu yang tak tersampaikan.

Namun, masyarakat di sekitar rumah Nora melihat lain. Nora telah dibeli. Sosok Nora yang lugu dan polos serta cantik membuat semua orang menginginkannya. Tak terlewatkan para pejabat negara. Dengan senang hati pergi ke sana kemari dengan orang lain. Bagi Nora, yang terpenting ia mendapatkan uang dan bisa makan. Saat Nora telah bertemu dengan Mala, ia ingin menghentikan semuanya. Namun, takdir seperti mempermaikan mereka.

Novel ini merupakan novel kedua dari tretalogi novel Dangdut karya Putu Wijaya. Novel ini berlatar belakang kehidupan rakyat miskin yang terbuai akan uang, dan politik yang telah mempermainkan mereka. Tentang keglamoran hidup dan ketimpangan yang ada. Tentang dunia jurnalistik yang penuh cobaan dalam menentukan sikap dan kecondongan dalam oposisi berpendapat.

Seperti novel Putu Wijaya lainnya, selalu dikemas dengan apik dan penuh makna. Penuh dengan ironi tapi memang seperti itu adanya. Penulisan karakter yang disampaikan sangat kuat dengan latar belakang yang tak begitu detail tapi tetap tersampaikan dengan baik.

Hanya saja novel ini disampaikan dengan alur campuran tanpa keterangan yang jelas. Jadi, diperlukan ketelitian dalam membaca. Menurut saya, pembaca harus membaca tretalogi novel yang pertama agar bisa memahami dengan maksimal apa yang disampaikan di novel kedua ini. Namun, secara keseluruhan novel ini sangat bagus dan pesan moral dapat tersampaikan dengan tepat. Bagi saya, novel ini tidak disarankan untuk remaja 17 tahun ke bawah.

Advertisements

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *