Majalah Dimensi Edisi Digital

Mimbas Tak Berimbas

Direktur Polines sedang memaparkan mengenai dana SPI. Dok : Dimensi

Dimensi, Polines (19/10) – Kamis (17/10), telah diselenggarakan Mimbar Bebas (Mimbas) berjudul “SPI Untung atau Buntung?” oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) bertempat di Auditorium Politeknik Negeri Semarang (Polines). Kegiatan ini dimulai sejak pukul 20.00 WIB dengan ditutup sekitar pukul 23.00 WIB yang dihadiri oleh petinggi-petinggi Polines yakni Direktur dan Wakil Direktur (Wadir) I, II, III serta barisan delegasi Organisasi Mahasiswa (Ormawa), pengurus BEM dan tak lupa kalangan mahasiswa umum ikut andil dalam mimbas kali ini. Berbeda dengan tahun sebelumnya, kali ini masalah yang diangkat adalah masalah internal yaitu mengenai pemungutan SPI (Sumbangan Pembangunan Institusi) bagi mahasiswa baru yang diterima melalui jalur Ujian Mandiri (UM).

Alasan Diangkatnya Masalah SPI dalam Mimbas

Tahun ini, institusi telah menetapkan keputusan bahwa mahasiswa jalur Ujian Mandiri (UM) akan dikenai uang pangkal dengan tiga tingkatan yakni sebesar Rp 10.000.000, Rp 15.000.000 dan Rp 20.000.000. Mahasiswa baru diperkenankan untuk memilih besaran uang pangkal mereka di awal ketika pendaftaran UM. Namun, yang masih menjadi pertanyaan adalah transparansi dan akuntabilitas dana SPI yang dibayarkan. Sebagian besar mahasiswa merasa perlu mengetahui dana tersebut akan dialokasikan ke mana, pasalnya memang baru tahun ini terdapat uang pangkal. Tak hanya itu, mahasiswa merasa besaran uang pangkal terlalu tinggi dibanding dengan universitas lain.

Setelah pihak BEM menemui institusi untuk mempertanyakan hal tersebut, mereka memutuskan bahwa mahasiswa perlu mengetahuinya sendiri dan bertanya secara langsung kepada institusi agar lebih jelas mengenai alokasi SPI tersebut. Akhirnya dengan pertimbangan itu, isu seputar SPI diangkat dalam mimbas untuk memberikan wadah kepada mahasiswa, khususnya maba untuk mencari informasi mengenai dana SPI.

Mimbar Bebas Atau Diskusi Umum?

Sejumlah mahasiswa serta ormawa menghadiri acara mimbas. Dok : Dimensi

Mimbas biasanya diadakan disuatu tempat khusus misalnya kampus atau tempat terbuka. Siapa saja boleh berbicara mengeluarkan pendapatnya seperti berorasi. Namun, pada kenyataannya kita melihat mimbas kali ini lebih seperti diskusi umum. Bertempat di ruangan tertutup, peserta yang datang bertanya dan pembicara menjawab dengan dipimpin oleh moderator serta tak ada yang berorasi di atas panggung. “Ini malah lebih pantas dianggap seminar bukan lagi mimbar bebas, orang kita beropini saja malah ditanggapi seperti itu,” tegas Lutfan Satria, salah satu penanya pada mimbas kemarin malam.

Kemana Arah Pembahasan Kita?

Pembahasan yang seharusnya mengarah pada tema yang diusung mengenai untung atau buntungnya SPI dengan pemetakan isu pembangunan gedung 8 lantai, Akreditasi Internasional serta Student Exchange pada kenyataannya malah tidak merujuk pada poin tersebut. Pasalnya dari institusi sendiri seolah terlihat memperlebar arah pembicaraan ke isu-isu yang tidak penting. Dari yang awalnya hanya membahas seklumit penggunaan SPI tanpa transparansi yang jelas diikuti pembahasan mengenai sertifikasi dan sama sekali tidak menyentuh yang namanya isu gedung bertingkat tadi. “Pembahasannya terlalu lebar dan arahnya malah nggak tahu kemana,” tambah Lutfan. Padahal, dari pihak BEM sendiri sudah membuat Term Of Reference (TOR) untuk menangkal pembicaraan dengan batas-batasan isu yang telah dibuat sebelumnya. “Sebenarnya dari kita sendiri sudah ngasih TOR ke direkturnya, tapi kok malah yang dibahas melebar sekali,” ungkap Yudishtira, selaku Ketua Pelaksana Mimbas.

Adanya Ketidakpuasan Mahasiswa

Tujuan awal adanya mimbas ini adalah menyuarakan keingintahuan mahasiswa terlebih pada transparansi uang pangkal atau SPI yang dialokasikan dalam bentuk bagaimana saja. Namun, mimbas atau lebih dikatakan diskusi ini dirasa tidak membuahkan hasil sama sekali. Pertanyaan yang diajukan oleh audience dengan harapan bakal dijawab dengan serinci mungkin untuk mendobrak pandangan mahasiswa yang masih kabur mengenai SPI pun seolah hanya sebuah angin berlalu saja. “Saya sendiri merasa kalau pertanyaan yang saya ajukan pun tidak terjawab sama sekali, nol persen buat jawaban yang diutarakan Pak direktur,” tegas Lutfan. Terlihat jelas bahwa mimbas kali ini meninggalkan ketidakpuasan di benak mahasiswa terkhusus pada mahasiswa jalur UM yang belum mendapatakan kejelasan transparansi SPI.

Langkah Mendatang

Pihak BEM selaku tuan acara mimbas merencanakan bakal diadakannya diskusi ulang atau semacam konsolidasi. “Kalau memang perlu adanya diskusi lagi, maka kita akan mengadakan semacam konsolidasi seperti saat di Lapangan Direktorat yang lalu,” tambah Yudishtira. Hal tersebut diungkapkan karena ternyata mimbas yang diselenggarakan berkaitan mengenai SPI belum seperti apa yang diinginkan oleh pihak BEM selaku penyelenggara. (Amel, Manda)

Advertisements

Mungkin Anda juga menyukai