Majalah Dimensi Edisi Digital

Mengenal Geng “Si Anak Badai” dari Muara Manowa

Si Anak Badai

Judul: Si Anak Badai
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Replubika
Co-author: Srippudin
Tanggal Terbit: Agustus 2019
ISBN: 9786025734939
Jumlah Halaman: 322 Halaman

“MANOWA! MANOWA!”
“PAK BOS!”
“PAK HAJI! JURAGAN!”

Sorakan yang kerap dilontarkan anak-anak saat bebarengan mengais kepingan uang koin dari hasil lemparan saudagar kaya pada geladak utama kapal yang setiap harinya menyeberang melintasi muara, Muara Manowa namanya.

Cerita bermula dari kisah empat sahabat yang dijuluki dengan nama Geng Si Anak Badai, didalamnya mengisahkan empat anak laki-laki kelas 6 SD yang terdiri dari Zaenal, Malim, Awang dan Ode. Zaenal atau kerap dipanggil Za, adalah pemeran utama yang bakal memenuhi bagian keseluruhan cerita untuk menguak kisah Si Anak Badai. Za memiliki background kehidupan yang berbeda dari tiga teman lainnya. Ia lahir dari perangai seorang bapak petugas kecamatan didampingi seorang ibu tukang jahit pakaian, serta dilengkapi oleh kehadiran dua adiknya, Fatahillah dan Thiyah.

Za dan tiga orang temannya menjalani hari-hari di dermaga dengan berbekal cita-cita sederhana dari balik riuk sebuah kampung Manowa. Kampung yang sebagian besar atau mungkin dapat dikatakan keseluruhan dari rumah warga dan fasilitas umum lainnya terapung dengan elok di atas air Muara Manowa. Bangunan yang kokoh berdiri dengan tiang-tiang yang tertanam di dasar muara serta jembatan dari papan ulin yang nampak begitu kuat guna menahan berat lalu lalang masyarakat kampung.

Kehidupan kampung yang dikemas sederhana nan apik membuat pembaca seolah terus diajak menari-nari dengan liuk ceritanya. Manowa yang awalnya menyuguhkan kedamaian dari riak perahu kecil yang berlalu lalang, seketika berubah haluan setelah datangnya Pak Alex atau kerap disapa Si Bajak Laut.

Kedatangan Si Bajak Laut membawa isu baru bahwa kampung Manowa dalam jarak dekat akan segera digusur dan dipindahkan. Penggusuran ini dilakukan guna dibangunnya pelabuhan besar dengan pasal untuk menyejahterakan dan mempopulerkan dermaga Manowa di kalangan pelancong asing. Namun, kenyataannya tidak selugu dan sedermawan itu, Si Bajak Laut dan jajaran petinggi lainnya hanya menjadikan proyek ini sebagai jembatan baginya untuk memuaskan kebutuhan hidupnya. Melihat kenyataan pahit tersebut, sesepuh kampung yang akrab disapa Pak Kapten serta merta menolak adanya pembangunan pelabuhan tersebut. Di sinilah bagian di mana penulis sangat piawai menata secara rapi runtutan masalah, hingga menjadi klimaks cerita yang dapat mengaduk emosi pembaca untuk merasakan panasnya keadaan pada saat itu. Penulis menggambarkan bagaimana ricuhnya pembangunan pelabuhan yang kian hari kian mengancam banyak hal. Hingga sampai pada titik puncaknya adalah ditangkaplah Pak Kapten oleh para pejabat tinggi atas sebuah tuduhan.

Berlanjut dari kasus ditangkapnya Pak Kapten yang belum ditemukan benang merah penyelesaiannya, Geng Si Anak Badai merasa sudah tidak kuasa lagi melihat keadaan kampungnya yang perlahan mulai diambrukkan. Semua fasilitas serta bangunan dibongkar dan kemudian melebur masuk ke dalam muara air Manowa. Za, dan tiga orang temannya mulai merancang sebuah rencana cerdik nan pintar untuk membumi hanguskan rencana pembangunan pelabuhan Muara Manowa. Dimulailah petualangan seru oleh Geng Si Anak Badai yang berbekal keberanian serta tekad yang kuat untuk mempertahankan kampung halaman. Akankah mereka berhasil merebut kembali kampung kelahirannya? Dan apa yang bakal terjadi selanjutnya?

Buku ini menyuguhkan permasalahan menarik dari setting karakter Geng Si Anak Badai yang tumbuh diiringi suara pecahan air sungai dengan ditemani deburan ombak muara yang dikemas begitu mengena. Beberapa kali pembaca dibuat tertawa atas celotehan dan olok-olok yang terlontar saat Geng Si Anak Badai tengah berkumpul. Tak lupa penulis membubuhi pula dengan percikan bumbu asmara dari Za yang tengah berbunga dengan salah seorang gadis di desa Muara Manowa. Namun, terdapat hal yang menyebabkan pembaca akan merasa monoton ketika membaca novel ini, hal tersebut ialah pengulangan beberapa bagian pada novel. Salah satu bagian yang kerap diulang adalah keseharian Za dan tiga orang temannya. Hal tersebut tentu akan menyebabkan pembaca kurang tertarik untuk segera menuntaskan novel sampai halaman terakhir. Meskipun begitu, secara keseluruhan novel ini recommended untuk dibaca semua kalangan, karena pembaca bakal dibuat nostalgia dengan mngingat masa kecilnya. (Manda)

Advertisements

Mungkin Anda juga menyukai