Majalah Dimensi Edisi Digital

Kurangi Kebosanan dengan Menyemai Belajar Inovatif di Kelas

Parlement thinks, salah satu kegitan dalam Gakko Camp 2017. Dok. Pribadi

Belajar sambil duduk di bangku kelas seharian memang kadang membosankan. Tak jarang, banyak siswa yang memilih untuk tidur dan tidak berpartisipasi aktif di kelas. Guru menjelaskan sedangkan murid dituntut menjadi pendengar yang baik. Tanpa memberi feedback positif yang menghidupkan suasana kelas. Suasana kelas menjadi menegangkan dan jauh dari kata menyenangkan, itulah realitanya.

Padahal sebenarnya kegiatan belajar mengajar dapat dibuat menarik dan menyenangkan. Sehingga siswa semakin semangat dalam mengikuti kegiatan pembelajaran, bukan justru sebaliknya. Seperti pengalaman saya satu tahun lalu, saat mengikuti Gakko Camp di Bali. Ketika mengikuti kegiatan Gakko Camp, saya merasakan proses pembelajaran yang mengesankan. Pembelajaran ditekankan pada kreativitas dan kolaborasi.

Gakko merupakan bahasa Jepang yang berarti “sekolah”. Kenta Koga, Chief Executive Officer (CEO) sekaligus pendiri, lulusan dari Yale University terinspirasi karakter Harry Potter dalam film favoritnya, berusaha mentransformasikan pembelajaran yang inovatif. Sehingga terbesit ide untuk menjadikan sekolah sebagai sarana belajar yang inovatif, edukatif, dan tentunya mengesankan. Berangkat dengan tekad itu, Gakko memiliki misi “to bring magic into education”.

Mengumpulkan pelajar dari seluruh dunia dengan latar belakang sosial-ekonomi, kultur, pendidikan, dan karakter yang beragam, Gakko menjadi wadah bagi mereka yang berkeinginan untuk mencari sesuatu yang lebih dalam pembelajaran. Bukan pelajar yang hanya pintar secara akademis, namun untuk mereka yang berambisi kuat untuk “looking for something more”. Dikemas dengan model summer camp dalam rentang waktu dua minggu. Gakko mengkombinasikan pelajar yang terpilih (baca: kohai) untuk dipertemukan dengan pengajar dalam collaborative learning.

Kegiatan belajar mengajar di Gakko, dikemas sedemikian rupa untuk menciptakan pengalaman yang berbeda dalam belajar. Pengalaman yang didapat setelah mengikuti kegiatan ini sangat banyak. Mulai dari semakin percaya diri untuk berkomunikasi dalam bahasa Inggris, bertemu dengan banyak orang dari seluruh dunia dengan latar yang beraneka ragam, belajar untuk bekerja sama dan mengemukakan pendapat, menjadi orang yang kreatif, serta menumbuhkan sikap saling menghargai satu sama lain.

Saya merasa setelah mengikuti kegiatan ini, pola pikir saya berubah cukup besar dalam memandang sesuatu hal. Dulu saya termasuk orang yang konservatif, kurang berpikir terbuka, dan kurang bisa menerima perbedaan. Namun setelah mengikuti Gakko Camp, saya sadar bahwa perbedaan itu benar-benar ada dan itu bukanlah hal yang salah, juga bukan suatu hal yang harus dipermasalahkan. Justru perbedaan itulah yang menjadikan kita unik dan terdapat keindahan di dalamnya yang harus kita jaga.

Ada beberapa sesi dalam Gakko Camp yang mengajak peserta untuk kritis terhadap sesuatu hal. Salah satunya sesi Parliament Things. Nah, pada sesi ini perserta diminta untuk berkelompok secara acak, kemudian tiap kelompok ditentukan akan menjadi divisi apa. Kebetulan, kelompok saya dipilih jadi menteri lingkungan. Kami semua diminta untuk memecahkan permasalahan yang ada di Kota Bali saat itu, dengan memberikan solusi yang terbaik sesuai kewenangan per divisi.

Secara keseluruhan kegiatan Gakko Camp ini sangat menarik. Peserta tidak hanya diajarkan materi pelajaran saja. Dalam kurun waktu dua minggu, saya mendapatkan pengalaman untuk menjadi seniman, seorang filsafat, aktor atau aktris, koki, programmer, arsitek, menteri, desainer, ilmuwan, pemerhati lingkungan, fotografer, ilustrator, model, dan masih banyak lagi. Saya pun turut merasakan arti persahabatan dan kekeluargaan yang nyata di sana. Kini, meski setahun sudah berlalu, para alumni Gakko masih berhubungan dengan baik melalui sosial media. Sehingga kami tetap tahu kehidupan masing-masing setelah camp berakhir.

Memang tidak semua kegiatan Gakko Camp dapat diaplikasikan dalam kegiatan perkuliahan di kelas. Namun setidaknya penekanan pada nilai kolaborasi dan kreativitas, serta membangun suasana menyenangkan dalam belajar di kelas dapat dicoba diaplikasikan dalam kegiatan perkuliahan. Yang pasti, kegiatan Gakko Camp mencerminkan proses belajar yang lebih segar. Tentunya tidak membosankan dengan sesi-sesi kegiatan kreatifnya.

Oleh: Edelweis Dwi Kusuma Dewi
Jurusan Teknik Elektro – Semester 1

Advertisements

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *