Kesalahan Data, Mengakibatkan Lambannya Pencairan Subsidi Pulsa

Polines, DIMENSI (24/06) – Mengacu pada Surat Edaran (SE) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) No. 331/E/E2KM/2020 tentang bantuan sarana pembelajaran daring kepada mahasiswa bahwa pihak perguruan tinggi akan memberikan subsidi di tengah pandemi Corona Virus Disease-2019 (Covid-19). Menindaklanjuti hal tersebut, Politeknik Negeri Semarang (Polines) mengeluarkan SE No. 2125B/PL4.6.1/DI/2020 tentang Ralat Pemberian Bantuan Pulsa kepada Mahasiswa sebagai tindak lanjut dari SE No. 2171A/PL4.6.1/DI/2020, yang menerangkan bahwa Polines akan memberikan bantuan pulsa berupa uang tunai. Namun, pada saat perekapan data, banyak ditemukan kesalahan mulai dari data yang tidak sesuai, hingga banyak nomor ganda.

Adanya Manipulasi Data

Sri Yati selaku Kepala Badan Akademik, Kemahasiswaan, Perencanaan dan Kerjasama (BAKPK) membenarkan adanya kesalahan data mahasiswa. “Saya mendapat laporan dari bagian pengadaan bahwa setelah dicek ternyata banyak mahasiswa yang memilki nomor ganda dengan identitas yang berbeda. Bahkan ada nomor mahasiswa yang sudah lulus, drop out (DO), dan meninggal juga tertera di dalam data,” jelas Sri Yati.

Ia menduga jika ada oknum yang sengaja memanipulasi data dengan memanfaatkan Nomor Induk Mahasiswa (NIM) yang belum diganti passwordnya untuk login. Menanggapi hal tersebut, Nugroho Joko Usito pegawai Unit Pelaksana Teknis Teknologi Informasi dan Komunikasi (UPT TIK) mengatakan jika kemungkinan adanya kesalahan sistem dibenarkan karena bagian PTIK tidak menutup akses bagi mahasiswa yang sudah lulus. “Sebenarnya password harus diubah, tapi kebanyakan mahasiswa tidak mengganti jadi kemungkinan di hack pasti ada. Sedangkan untuk akun mahasiswa yang sudah lulus juga tidak dikunci, sehingga dapat mengisi. Padahal subsidi tersebut hanya diperuntukkan untuk mahasiswa aktif saja,” ungkap Joko.

Respons Mahasiswa

Tak sampai di situ, setelah ditelisik lebih lanjut, Sri Yati mendapati laporan dari beberapa mahasiswa jika nomor telepon yang tertera tidak sesuai dengan data yang mereka isikan. Diantaranya mahasiswa Jurusan Teknik Sipil yang menuturkan jika nomor telepon dan provider-nya tidak sesuai. Senada dengan hal tersebut, salah satu mahasiswa Jurusan Administrasi Bisnis mengungkapkan hal yang sama. Ia menyayangkan lambatnya proses pendistribusian bantuan pulsa ini. Ia juga menyampaikan kekecewaannya karena nomor yang diisikan tidak sesuai. “Prosesnya lama banget, padahal sudah dari tiga bulan yang lalu. Kemarin coba cek akun, tiba-tiba nomorku udah ganti secara otomatis. Khawatir aja karena bantuan pulsa Lima Puluh Ribu sangat membantu,” ucapnya.

Selang beberapa waktu setelah SE kedua dikeluarkan, Sri Yati menambahkan hanya terdapat sekitar 3000-an mahasiswa saja yang mengisi, dari total keseluruhan mahasiswa aktif tahun ajaran 2019/2020 yaitu sebanyak 5.199 orang. Guna menindaklanjuti hal ini, ia meminta bantuan kepada Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) untuk menginformasikan kembali pengisian data tersebut. Pada Senin (8/06), data yang didapat sedikit mengalami peningkatan yaitu mencapai 4.816 orang. Setelah satu minggu tepatnya pada (15/06) lalu, pengisian data ditutup oleh PTIK dan didapat hasil akhir sebanyak 4.899 mahasiswa.

Mekanisme Pencairan

Pada April hingga Mei lalu, tahapan panjang telah dilakukan mulai dari pengajuan revisi anggaran ke Perbendaharaan Kantor Wilayah (KanWil) Provinsi Jawa Tengah, hingga rapat dan diskusi secara berturut-turut bersama panitia pengadaan dengan ke-enam provider (Telkomsel, XL, Axis, Smartfren, Indosat, dan Tri). Kontrak telah ditandatangani pada Senin (8/06) lalu, dan diserahkan pula lampiran data jumlah nomor telepon per tanggal yang sama.

Berdasarkan SE kedua, dijelaskan bahwasanya bantuan dapat diberikan dalam bentuk pulsa ataupun paket data. Setelah adanya perbincangan dan diskusi tersebut, disepakati bahwa bantuan akan diberikan dalam bentuk paket data. Hal ini dikarenakan laporan pertanggungjawabannya lebih mudah dan dapat mengurangi risiko kesalahan apabila pulsa tidak diterima oleh mahasiswa.

Meskipun besarnya kuota yang diberikan tidak sama antar provider, namun Sri Yati menuturkan apabila mahasiswa lebih senang jika mendapatkan paket data. “Kalau paket data mahasiswanya yang diuntungkan karena bisa langsung digunakan, sedangkan jika pulsa kemungkinan tidak masuk,” jelas Sri Yati.

Tindak Lanjut Pengisian Data

Sri Yati mengungkapkan jika kontrak bantuan pulsa sudah disepakati, hanya saja untuk lampiran nomor telepon mahasiswa masih perlu diperbaiki. Menindaklanjuti hal ini, Joko mengeluarkan kebijakan bahwa akses pada laman BAKPK akan dibuka kembali dan mahasiswa diberikan kesempatan untuk mengecek ulang serta memperbaiki data yang salah. Selain itu, adapula ketentuan lainnya yang disampaikan oleh Sri Yati dan Joko diantaranya :

  1. Hanya mahasiswa aktif tahun ajaran 2019/2020 yang diiizinkan mengakses;
  2. Mahasiswa nonaktif dilarang untuk mengisi;
  3. Mahasiswa aktif diwajibkan untuk mengatur ulang password;
  4. Mahasiswa aktif mencantumkan alamat email; dan
  5. Mahasiswa aktif mencantumkan data alamat rumah terbaru.

Waktu perbaikan dan pengisian data dimulai pada Rabu malam (24/06) hingga Minggu (28/06) di laman bakpk.polines.ac.id. Sri Yati juga menambahkan apabila hingga Minggu (28/06), data yang diterima belum sesuai dengan jumlah mahasiswa aktif maka tidak akan ditindaklanjuti. Hal ini sesuai SE No. 2125B/PL4.6.1/DI/2020 pada poin ke-5 yang menerangkan bahwa bagi mahasiswa yang tidak mengisikan data, haknya untuk mendapat bantuan pulsa akan hilang.

Wahyu Nurul Aini, Desy Ramadhani

Advertisements

Mungkin Anda juga menyukai