MAJALAH DIMENSI EDISI DIGITAL

Inovasi Procika, Wapalhi Buat Lubang Biopori

Maba Melakukan Kegiatan Kebersihan di Lingkungan Kampus. Dok. Hasan

Polines, DIMENSI (29/8) – Program Cinta Kampus (Procika) dilaksanakan pada Kamis (29/8), tepatnya di hari ketiga Wawasan Almamater dan Orientasi Akademik (WaRNA). Procika dilaksanakan oleh mahasiswa baru (maba) bersama dengan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Wahana Pecinta Lingkungan Hidup (Wapalhi) terlaksana dengan baik. Procika bertempat di area seluruh jurusan di Politeknik Negeri Semarang (Polines) dengan durasi kurang lebih 30 menit. Tahun ini inovasi Wapalhi dalam mengisi kegiatan Procika yaitu adanya pembuatan lubang biopori.

Berbeda dari tahun sebelumnya, Mahardika Anggie selaku koordinator Procika dari Wapalhi mengungkapkan bahwa kegiatan Procika terdiri dari kegiatan penanaman menggunakan tanaman tahunan, membersihkan lingkungan kampus, serta ada inovasi membuat lubang biopori. Mengenai alasan mengapa tahun ini menggunakan lubang biopori, ia menjelaskan bahwa banyak tempat di Polines yang terdapat genangan air, “Di Polines sendiri kurang lubang bioporinya, aku pernah lihat pas hujan, airnya menggenang. Nah, kalo ada lubang biopori, airnya cepat meresap ke tanah,” ungkap Anggie.

Adam Herlangga selaku Ketua Panitia WaRNA mengungkapkan bahwa rencana awalnya, Procika untuk WaRNA tahun ini tidak ingin diadakan karena dinilai kurang efektif, “Pada pelaksanaannya, dari tahun ke tahun kurang efektif, untuk area kampus kalo bersih – bersih juga sudah ada helper yang bertugas,” tutur Adam. Kemudian satu minggu sebelum pelaksanaan WaRNA, muncul informasi bahwa Procika kembali tetap diadakan. Wapalhi mengaku jika mereka kerap kali melakukan diskusi dengan panitia WaRNA terkait kegiatan Procika, “Selama itu kita konsultasi terus sama BEM tentang bagaimana baiknya, terus akhirnya baru dapat titik terang sekitar seminggu terakhir,” ujar Anggie.

Adam menjelaskan bahwa pada akhirnya panitia melihat usaha yang dilakukan Wapalhi agar Procika tahun ini tetap diadakan. “Kami melihat effort dari Wapalhi yang menuntut panitia bahwa maba memang butuh procika,” jelas Adam. Ia juga menambahkan setelah berdiskusi dengan panitia, didapati waktu senggang sebelum acara jurusan, “Dari sie acara sudah ada saving time beberapa menit kemudian akhirnya disetujui ada procika sebelum WaRNA jurusan,” tambah Adam.

Meskipun penyampaian ke Wapalhi tentang diadakannya procika termasuk mendadak, tetapi Wapalhi dapat mempersiapkannya dengan baik. Anggie mengaku jika Procika telah sesuai dengan yang diharapkan, “Penilaian ketercapaian sekitar 80%-90%,” jelas Anggie. Koordinasi mengenai konsep dan mekanisme acara Procika dengan panitia WaRNA dan pendamping juga telah dilakukan. Namun sayangnya, koordinasi dengan pendamping tiap kelompok dirasa masih kurang. Hal ini senada dengan yang diungkapkan oleh Aulia Salsabila, maba dari Jurusan Administrasi Bisnis, “Kakak pendamping nggak terlalu paham tentang lubang tanaman dan lubang biopori yang digunakan,” ujar Aulia.

Aulia juga berpendapat bahwa kegiatan Procika ini bermanfaat karena membersihkan lingkungan kampus dan menanam tanaman, “Cukup bermanfaat bagi saya, dan di dekat musola Tata Niaga banyak daun kering yang tercampur dengan sampah plastik dan sterofoam, kita bersihkan,” jelas Aulia. Di samping itu, Adam berharap setelah diadakannya Procika ini, mahasiswa baru menjadi lebih tahu jika cinta terhadap lingkungan itu perlu, dan Polines bisa kita jaga dan kita cintai. (Wahyu)

Advertisements

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *