Majalah Dimensi Edisi Digital

Aksi Menjelang Hari Bumi Sekaligus Mengingat Semangat Perempuan

Dari kiri: Ibu Novi, Ibu Gunret, dan Ibu Dariyatun perwakilan perempuan dari daerah titik konflik di Jawa Tengah. Dok. Arizal

Semarang, Dimensi (21/4) – Diskusi dan kampanye terbuka dengan tema “Perempuan Melawan Perusakan Alam” dilaksanakan di depan halaman Kantor Gubernur Jawa Tengah pada Minggu pagi (21/4). Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bentuk memperingati Hari Bumi yang jatuh pada Senin (22/4). Kegiatan pada Minggu pagi dihadiri oleh Ibu Gunret sebagai perwakilan dari warga Kendeng Kabupaten Pati, serta Ibu Novi dan Ibu Dariyatun perwakilan dari warga Kabupaten Batang. Penyelenggaraan kegiatan yang bertepatan dengan Hari Kartini bertujuan pula untuk mengingat semangat para perempuan.

Aksi ini terkait dengan keresahan warga dengan proyek-proyek pembangunan yang dianggap kurang memperhatikan dampak lingkungan, dan masih belum adanya kebijakan pemberhentian dari pemerintah. Beberapa proyek yang dimaksud yaitu terkait dengan meminta diberhentikannya izin pabrik semen di Pati, menolak PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) di Batang serta berhubungan dengan normalisasi BKT (Banjir Kanal Timur) Semarang di Desa Tambakrejo.

Ibu Daryatun perwakilan dari warga Batang yang menolak PLTU, berharap kepada Gubernur Jawa Tengah untuk mendengar dan menindaklanjuti aspirasi dari rakyat kecil. Ia berpendapat bahwa seharusnya pemerintah tahu bagaimana resahnya nelayan dan rakyat kecil ketika diadakannya PLTU, baik di Jawa ataupun di luar Jawa. “Siapapun presiden yang terpilih nanti juga harus peduli terhadap rakyat kecil. Kalau saya dari Kota Batang sampai ke Kota Semarang, Jakarta dan manapun itu mintanya diberi respon, bagaimana caranya, itu yang saya minta,” jelas Daryatun saat mengisi acara kampanye.

Menurut Umi Marufah, salah satu panitia penyelenggara, aksi ini merupakan inisiatif kolektif dari Semarangan yang peduli dan ikut serta mengawal permasalahan yang berkaitan dengan lingkungan di Jawa Tengah. “Kawan-kawan yang sudah lama mendampingi masyarakat terdampak, kemudian menghubungi ibu-ibu ini untuk berpartisipasi dalam acara kita,” ungkap Umi.

Masa orasi juga merencanakan akan menghubungi pihak pemerintah bersamaan dengan aksi pada Senin (22/4). Masa orasi ini merupakan gabungan dari musisi, aktivis, mahasiswa dan masyarakat umum. Adanya kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga bumi dari kerusakan lingkungan. Karena dampak dari kerusakan lingkungan tidak hanya akan berpengaruh pada lingkungan saja, tetapi juga pada aspek sosial ekonomi masyarakat disekitarnya. “Semestinya, pemerintah sendiri juga ikut andil dalam hal menjaga kelestarian lingkungan, karena kebijakannya itu yang kita harapkan pro terhadap lingkungan dan masyarakat bukannya yang merusak lingkungan,” pungkas Umi.

(Tami)

Advertisements

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *