Teror

Ilustrasi oleh Erica

Oleh: Danganan Galuh

Malam itu aku pulang terlambat. Berjalan dengan jaket tebal penuh bulu. Menyusuri gedung-gedung tua yang akan roboh. Mereka sekarat pikirku. Bahkan lampu serta kelap-kelipnya tak mau menyapaku dalam gelap. Hanya lampu jalan yang sesekali menerangi aspal-aspal berlubang. Masih untung tidak hujan pikirku. Biasanya air akan menggenang di jalanan. Dan itu berarti aku harus menghemat tenagaku untuk membersihkan seragam ini. Seragam yang merenggut waktuku. Karenanya sepuluh jam lebih aku harus menghamba pada mesin-mesin. Demi harapan untuk hidup esok hari.

Sesekali aku terdiam di tengah jalan. Mengambil jeda sebentar menikmati gerombolan pekerja lain yang pulang. Hiruk pikuk itu membuat perasaanku bergetar. Beberapa orang menyeka keringat mereka sambil berjalan pulang. Beberapa lagi mencoba menghibur diri mereka dengan rencana berwisata. Yang tanpa harus aku katakan pun mereka juga tau itu bohong. Tak ada waktu untuk berwisata. Alih-alih menikmati hidup, mereka tak diciptakan untuk itu. Mereka diciptakan hanya untuk diperas keringatnya. Hingga menghasilkan kebahagiaan untuk orang lain.

Aku melanjutkan perjalananku pulang. Melewati riuh ramainya pedagang yang tampak sumringah dengan calon pelanggannya. Pun melewati jemputan yang tampak bersuka cita setelah menunggu yang dijemput. Aku hanya diam memilih menguatkan kakiku untuk berjalan. Selain malam telah larut, seluruh otot dan sendi yang menopang badanku telah memberontak untuk diistirahatkan.

Setelah melewati belokan tanpa penerangan, aku sampai pada sebuah rumah kecil. Tak ada taman yang asri. Hanya plesteran dengan got-got kecil yang melilinginya. Tampak depan yang tidak merepotkan pikirku. Aku tak perlu repot-repot membersihkan daun serta ranting-ranting. Tak perlu juga aku mengumpulkan debu dalam kantong sampah. Aku hanya perlu membuangnya ke got. Alhasil waktuku tak akan terbuang. Apalagi pintu serta semua kusen dari plastik juga tidak akan membuang perhatianku untuk merenovasi rumah ini. Aku bisa menghemat biaya renovasi itu untuk ditabung. Agar bahagia kan kita harus menabung. Meskipun sampai hari ini belum ada yang menjual kebahagiaan. Itulah mengapa tabunganku di brankas telah menumpuk dan belum tergunakan. Paling-paling terpakai sedikit untuk renovasi hal-hal yang tidak masuk akal pikirku. Seperti makanan yang memperbaiki tubuh. Pakaian yang memperbaiki kewibawaan. Serta beberapa tuntutan dari orang-orang sekitar yang memperbaiki status sosial.

Aku memasuki rumah brankasku itu. Melewati lorong ruang tamu yang gelap. Menghemat biaya listrik pikrku. Hingga sampai di depan pintu kamar dengan foto-foto pribadiku. Akan menyenangkan melihat kenangan di depan pintu. Rasanya itu berhasil membuatku mengingat kalau aku pernah hidup dengan kenangan seperti itu. Aku membuka pintu itu serta menutupnya kembali. Menyalakan lampu serta menggantungkan beban pekerjaan di tempatnya.

“Baru pulang?”

“Iya, ada lembur tadi.”

“Mau ku buatkan kopi?”

“Boleh kalau tidak keberatan.”

Ia tersenyum lalu mengecupku. Sambil terkantuk-kantuk berjalan keluar kamar. Aku merebahkan badan sambil mataku melihat setiap langkahnya. Ia, kekasihku. Umur kami terlampau jauh. Aku yang telah banyak menyerap teror dunia rasanya terlalu beruntung memilikinya. Jiwa mudanya membuatku selalu merasa hangat. Kulitnya yang selalu  memelukku telah memberikan kenangan bahwa aku pernah semuda itu. Wajahnya yang belum berkerut sepertiku telah menjadi penawar semua kerutan akibat tekanan dari dunia. Apakah itu cinta? Aku sendiri tak pernah benar-benar tau. Seingatku kami hanya bercinta dan saling menyenangkan.

“Kamu terlalu lelah sayang.” Sapanya sambil tersenyum

“Apa kamu langsung ingin beristirahat?” Tanyanya lagi sembari duduk di sampingku

Aku bangun menyejajarkan badan kami. Memandangnya lekat-lekat dalam lampu remang kamarku. Ia yang terlihat masih mengantuk balik memandangku dengan tajam. Sebentar-sebentar dia tersenyum sambil memainkan cangkir berisi kopi yang ia buat. Aku mengambilnya lalu menyesapnya. Meskipun seluruh tubuhku di jalan pulang tadi berontak untuk istirahat tapi masih bisa diterima untuk bekerja lagi. Menyerap aroma kopi dan semua sari-sarinya. Hingga ampas kopi itu habis menempel di bibir keriput ini.

Setelah menghabiskan kopi, kami terbaring bersama di ranjang. Saling berpelukan meski tak bersuara. Hanya detak jantung dan detik jam yang terdengar. Suara konstan itu agak menggangguku sebenarnya. Bukan karena aku memiliki selera musik yang bagus. Hanya saja suara-suara itu selalu dan selalu menerorku untuk bersikap. Seperti ketika target produksi belum memenuhi, aku harus bergerak cepat atas nama efisiensi. Pula ketika remaja dalam pelukan ini merajuk manja hingga menimbulkan pertengkaran. Aku harus bergerak cepat atas nama komitmen bersama. Tanpanya hanya kesepian yang memelukku serta keterasingan akan menerorku.

”Kamu sakit?”

“Aku hanya lelah”

“Mau cerita?”

“Mamu sudah mengantuk?”

“Bukan dongeng agar aku tidur lagi”

“Lantas?”

“Masalah yang mengganggumu.”

“Tidak ada, hanya pekerjaan terlalu berat yang memaksaku lelah.”

“Istirahatlah sayang.”

Dia memelukku erat. Menyalakan lampu tidur. Dan tertidur dalam pelukanku. Aku masih terdiam menunggu fajar. Menanti hari terang untuk memaksaku kembali bekerja. Seperti hari-hari sebelumnya. Meskipun seluruh badanku mulai meluruh aku tetap terjaga siaga menanti mentari. Menikmati teror dari kantuk yang menghinggapi mataku. Tapi entah mata ini tetap memberontak untuk tetap awas. Hingga di detik ke sekian yang tak ku ketahui, pemberontakan itu mereda. Aku masih mengingat sekilas mataku masih menangkap bayangan jarum jam yang lusuh bersembunyi di sela-sela angka 3. Ku tau ia sekarat karena hidupnya hanya berputar-putar di jam yang monoton. Seperti aku. Kami sama lelahnya. Akupun tersenyum mengejeknya. Sebentar lagi aku bisa beristirahat jarum brengsek! Tidak sepertimu!. Lantas aku tertidur.

***

 Ayam berkokok terlalu cepat pikirku. Suara paraunya bergabung dengan senyap berhasil menyadarkanku dari tidur yang keterlaluan singkat. Bersama detik jam yang tetap konstan, detak jantung di dadaku terasa cepat. Aku memeluk kekasihku lebih erat. Tapi suara detak itu semakin terdengar jelas. Kini suara itu semakin kejam menerorku bersama rasa dingin. Sadar ada yang tidak beres, aku mencoba membuka mataku secepatnya. Samar terlihat hal yang selalu ku lihat setiap pagi. Jam sekarat di dinding. Seragam lusuh pemaksa kerja. Botol-botol dan cangkir minuman berserakan di lantai. Selimut dengan bulu tebal. Serta badan kekasih yang masih menempel di badanku. Tanpa sehelai benang. Seperti biasa pikirku.

Sayup-sayup terdengar suara tangisan. Aku mencoba keluar dari pelukan kekasihku. Tapi rasa dingin dan perih memberontak. Debar jantung semakin cepat ku rasa. Kini ku lihat dia terbangun menatapku. Wajahnya basah.

“Kenapa?”

Dia menegakkan badannya sehingga terduduk di atasku. Menjauhnya dada kami membuatku sadar bahwa detak jantung yang terlampau cepat itu bukan berasal dari jantungku. Tapi jantungnya. Sebelah tangannya yang menopang badannya terasa dingin di kulitku. Dan baru aku tau rasa perihku berasal dari sebilah pisau yang ia rapatkan di dadaku. Sejenak aku berpikir karena jantungku ikut-ikutan berdetak sangat cepat.

“Kamu mau membunuhku?” Tanyaku mencoba tetap tenang.

“Harus ada yang mati agar ada yang tetap hidup.”

“Kamu masih terlalu muda.”

“Maka biarkan kami tetap hidup.”

Ia mengusap air matanya. Lalu menceritakan bahwa di luar sana sudah ada kekasihnya yang lain menunggunya. Mereka berharap bisa hidup bahagia dengan harta di brankasku. Tentu setelah membunuhku. Ia bercerita penuh tangis serta waspada kalau-kalau aku memberontak.

“Apakah kamu mencintaiku?” Pertanyaannya membuatku bergidik

“Jangan ragu sayang, tusukkan saja pisau itu sambil menciumku.”

“Tutuplah matamu, aku takut menerima kenyataan kita berpisah.”

“Tidak, aku ingin melihatmu bahagia di akhir hayatku,” bantahku.

Perlahan ia menurunkan tubuhnya. Merapatkan lagi badannya untuk memeluk, mencium serta membunuhku. Sambil terisak ia bangun lalu mengambil semua isi brankasku. Semua harta yang akan membeli kebahagiannya, bukan kebahagiaanku. Bau anyir mulai meneror indra penciumanku. Rasa sakit menjalar semua sendi tubuhku. Inikah rasanya mati? Ia menangis melihatku terdiam menyembunyikan rasa sekarat. Entah karena tak tahan melihatku sengsara atau tak sabar merengkuh kebahagiaannya ia lari meninggalkan keterasinganku. Aku pun masih melihat langkah-langkah terakhirnya. Dan tak lupa tersenyum untuk mengejek benda-benda mati di sekitarku. Lihatlah aku akan beristirahat dari teror kalian! Dan semua menjadi gelap. Setelah sekian lama akhirnya aku berbahagia.

Aku bangkit mengambil kemejaku. Menguatkan diri berangkat bekerja. Meneror kalian.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *