Majalah Dimensi Edisi Digital

Segudang Prestasi Wanita Bercadar

Oleh: Nisrina Nibras- crew magang

Veronika Putri, saat memenangi lomba Nerds Corner Competition And Festival 2017_Dok_ pribadi

Di Indonesia cadar atau niqab masih dipandang sebagai sesuatu yang aneh, banyak yang beranggapan jika cadar terkesan ektremis dan tertutup. Wanita yang bercadar biasanya memiliki sifat yang lembut dan menutup diri, sehingga banyak orang mengira jika cadar dapat menghalangi diri dalam bergerak dan berprestasi. Namun anggapan itu tidak sepenuhnya benar, masih ada wanita-wanita bercadar yang dalam kesehariannya aktif dan komunikatif sehingga memiliki prestasi yang luar biasa.
Bercadar dan berprestasi, mungkin itu adalah hal yang tepat untuk menggambarkan Veronica Putri Anggraeni, mahasiswa tingkat tiga Politekhnik Negeri Semarang jurusan Teknik Elektro. Ia merupakan mahasiswa asal Rembang, lulusan SMK 1 Rembang. Vero adalah wanita bercadar dengan segudang prestasi yang diraih dalam bidang mobile application. Prestasi terbarunya adalah juara satu Nerds Cornes Competition tingkat nasional yang diadakan oleh Universitas Gajah Mada, pada 25-26 November lalu.
Vero mengenakan cadar sejak ia berada ditingkat dua. Salah satu alasan ia mengenakan jilbab karena ia tidak ingin jika nanti sang ayah harus masuk neraka hanya karena ia tidak menutup aurat. Vero mengaku saat pertama kali mengenakan cadar, lingkungan disekitarnya menanggapinya dengan positif, “Aku sendiri merasa lebih aman saat mengenakan cadar, apalagi saat lomba kan pergi jauh, kalau pakai cadar, duduk di kereta sendirian, ikhwan yang deketin juga pasti bakal pikir-pikir.”
Menurut Vero berhijab dan bercadar tidak akan menghalangi diri dalam bergerak. Justru dengan keadaan menutup diri, ia akan merasa lebih fokus dengan . Mengenai cadar yang dapat membatasi diri dalam bergerak, Vero beranggapan jika bercadar dapat membatasi diri dalam arti kearah yang membawa keburukan. Dalam hal berprestasi, cadar tidak membatasi diri.
Berbicara mengenai prestasi, berawal dari keikutsertaannya di UKM Poliytechnic Computer Club (PCC), Vero bertemu dengan rekan-rekan satu timnya dan mulai mengembangkan kemampuanya dalam bidang jaringan, aplikasi dan pemograman. Prestasi Vero dimulai sejak perlombaan ConfessX ke-9 , ia mendapat juara dua . Semenjak itu ia sering mendapat kemenangan seperti juara dua UNITY Competition di Universitas Negeri Yogyakarta, juara dua Inter-fest Mobile Aplication Competition yang diadakan Telkom University, Finalis MTQMN untuk desain aplikasi Al-Qur’an, juara satu IDN Android Applicatoin , juara dua Annual Informatic Competition di Universitas Diponegoro.
Sebelum berada di posisi sekarang, Vero dan timnya sering mengalami kekalahan dalam mengikuti lomba, ia sudah delapan kali kalah. Hingga lomba ConfessX yang ke-9, Vero dan timnya mencoba lagi dan dapat meraih juara, “Kalau lomba yang ini gak menang, mungkin tim kita udah bubar, karena di Polines sendiri selagi kita belum dipercaya oleh institusi kita lomba biaya sendiri, jadi kita capek juga pakai uang sendiri,” ungkap Vero.
Selain itu, Vero juga merupakan salah satu finalis mahasiswa berprestasi Polines tahun 2017. Saat ini Vero aktif dalam berbagai kegiatan. Di kampus ia bergabung dengan UKM PCC, di luar kampus ia sering mengisi workshop. Ia juga merupakan brand ambassador Google developer student club.

Advertisements

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *