Macan Senja

Ilustrasi oleh Johny

Alun-alun simpang tujuh luber dengan ratusan manusia. Dari pojok alun-alun, mataku seolah awas pada semua penjuru. Melihati para manusia yang menunjukkan raut bahagia mengayuh pedal sepeda dengan teman-temannya. Melirik seorang lelaki yang bersendau gurau dengan kekasihnya. Memandang seorang ibu yang menyantap bubur ayam bersama anak dan suaminya. Hingga menerka manusia seolah melepas kesendiriannya dari kesepian yang membui.  Memang sejatinya tengah memandangi  kesempurnaan yang semu.

Dari rumah memang aku sudah berniat berjalan kaki satu kilometer menuju alun-alun untuk melihat hiruk piruk keramaian. Namun, kali ini aku seorang diri. Sebenarnya ingin sekali ku ajak Ashar, lelaki yang amat ku cintai itu berjalan mengelilingi kota. Namun karena dia tengah sibuk dengan kerjaannya di tanah rantau, aku pun tak sanggup mengganggunya.

Kedua mataku mengarah ke arah plataran mall depan bundaran. Aku terbelalak ke arah lelaki renta bertopi hitam bundar yang masih berusaha keras menjajakan celengan berbahan tanah liat. Lelaki yang duduk membungkuk menelonjorkan kaki menjual celengan. Kulitnya hitam keriput. Sementara pakaiannya lusuh, seperti tak pernah dicuci, apalagi disetrika. Tubuhnya yang renta, dapat ku prediksikan bahwa lelaki itu berusia sekitar tujuh puluh tahunan.

Semua orang yang berada di alun-alun seolah acuh tak acuh terhadap lelaki renta itu. Mereka sibuk dengan kesenangan diri. Melakukan aktivitas masing-masing.  Beberapa sibuk memainkan gadget, beraktivitas di sosial media. Berfoto-foto seolah menunjukkan sosialita dirinya pada seluruh dunia. Melakukan kesempurnaan versi mereka.

Hanya seorang ibu setengah baya yang membeli celengan. Bahkan setelah ibu itu pergi, nyaris tak ada orang mampir ke sana lagi. Aku sendiri amat geram dengan sikap orang-orang di alun-alun yang acuh tak acuh terhadap sekitar. Mereka tanpa melirik lelaki renta itu,  seakan tak ada seorang yang berjualan celengan disana. Melakukan aktivitas masing-masing tanpa mempedulikan sekeliling. “Apa mereka tak dapat melihat lelaki serenta itu berjualan celengan?” desirku dalam hati.

Bagaimana mungkin lelaki serenta itu masih bekerja keras memperjuangkan hidupnya? Dimana anak cucunya? Apa ia tak diurus? Mengapa ia masih dibiarkan bekerja seperti itu? Mengapa ia tak beristirahat saja menghabiskan masa tuanya? Ahhh, pertanyaan itu kian membayang-bayangi otakku. Seperti memandang jurang pemisah yang seolah keadilan berupa kesamaan penghidupan tak mampu tercermin disini.

Aku menujunya. Ia masih membungkuk seperti saat pertama kali ku lihat.  Sesekali memandang alun-alun yang luber dipenuhi manusia.

“Harganya berapaan kek?” Tanganku memilah-milah celengan mini warna-warni itu. Ada yang berbentuk kendi, kodok, sapi, gajah dan macan.

“Ini tidak dijual,” ucapnya ringkih.

“Lho!” Sontak aku kaget tak percaya.

“Kalau kau mau, kau ambil saja satu yang kau suka.”

“Benarkah?” Aku semakin tak percaya. Lantas mengapa lelaki renta itu duduk menjual celengan sedari tadi jika ia tak ingin menjual celengan yang dijajakannya.

“Ambilah satu yang paling kau suka.”

“Kakek serius? Tak ingin dibayar?” Aku berusaha meyakinkan bahwa ia memang serius tak ingin dibayar.

“Ambilah satu yang paling kau suka.” Ku hitung sudah tiga kali ia berkata demikian. Dari raut mukanya ia terlihat serius dengan apa yang diucapkannya. Tapi aku masih belum percaya.

“Mengapa kakek menjajakan celengan-celengan ini jika tak ingin dibayar?”

“Aku hanya ingin membagi-bagikan kebahagiaan kepada setiap orang.” Aku sendiri tak mengerti dengan apa yang diucapkan lelaki renta itu. Lantas kebahagiaan apa yang ia maksudkan?

“Kebahagiaan?”

“Iya. Kebahagiaan setelah senja akan menghilang selamanya dari bumi ini.”

“Senja akan menghilang?” Aku semakin tak percaya saja semua yang telah diucapkan lelaki renta itu.

“Bagaimana mungkin senja akan menghilang?” Aku terus bertanya.

Ia hanya menjawab bahwa lusa senja akan mengilang dari bumi dan tak akan kembali ke bumi lagi. Aku kaget. Semakin tak percaya saja.

Aku masih memilih-milih celengan warna-warni yang ucap lelaki renta itu akan memberi kebahagiaan setelah senja akan menghilang. Lalu mataku tertuju pada celengan macan loreng hingga tiba-tiba saja ku jatuh cinta dengan celengan itu.

“Aku ambil celengan macan ini  ya kek.”

“Jaga baik-baik celengan macan itu.”

“Pasti kek. Harganya berapa kek?” Aku masih sibuk melihati celengan macan itu sambil memastikan bahwa tak ada cacat di tubuhnya.

Tiba-tiba saja lelaki renta dan seluruh celengan dagangannya tadi menghilang. Mataku mencari-cari kemana arah lelaki renta itu pergi. Namun tak ku dapati lagi lelaki itu. Kenapa ia bisa menghilang secepat itu? Aku semakin tak percaya.

***

Aku masih melihati celengan macan ini di kamarku dan masih tak percaya terhadap kejadian tadi pagi di alun-alun. Tak ada yang aneh dengan celengan ini. Apa maksudnya bahwa celengan macan ini akan memberikan  kebahagiaan setelah senja menghilang? Aku masih berpikir keras.

Aku suka sekali dengan senja. Aku sungguh jatuh cinta padanya. Bahkan setiap aku menantinya, setiap itu pula aku jatuh cinta padanya. Aku takut kehilangan senja. Bagaimana tak takut? Aku terlalu mencintai senja. Kata lelaki renta itu, mulai lusa senja akan menghilang dari muka bumi. Senja tak akan menampakkan dirinya ke bumi lagi. Jika tak ada senja, pastilah malam tak akan sempurna. Karena selama ini senjalah yang bertugas menjemput malam. Apakah dunia ini akan kiamat esok lusa?

Tapi aku masih melihat senja hari ini. Ku lihati tak ada tanda-tanda senja akan menghilang dari bumi.

***

Hari selanjutnya pun sama. Senja masih ada. Ia masih menjalankan tugasnya menjemput malam. Tak ada juga tanda-tanda senja akan menghilang. Aku berpikir jika lelaki renta itu pasti membohongiku.

Keesokan harinya, bundaku mengetuk pintu kamar. Matanya sayu dan memerah. Ada genangan yang ditahan dan tak ingin dikeluarkan.

“Bunda kenapa menangis?”

“Hayati, kamu harus ikhlas nak.”

“Ikhlas kenapa bunda?” aku semakin dibuat penasaran oleh bunda. Bunda tak kuasa lagi menderu. Air  matanya berluruhan.

“Ashar.”

“Ashar kenapa bu?”

“Ashar meninggal karena kecelakaan.”

“Innalillahi wainna ilaihiraajiun.” Air mataku tumpah ruah. Genangannya tak dapat di tahan. Tak ingin ku seka dengan apapun lagi.

Aku telah kehilangan seseorang yang amat ku cintai. Seseorang yang beberapa hari lalu membawa segerombolan keluarganya untuk mengkhitbahku. Seseorang yang aku tahu, ia tengah sibuk memperjuangkan masa depannya untukku. Seseorang yang selalu membacakan puisi Kahlil ataupun Sapardi, kemudian ia mencoba menuliskan puisi-puisi karyanya hanya untukku. Aku bahkan masih ingat betul bagaimana ia melekukkan bibirnya ketika ia membacakan puisi Sapardi untukku.

 

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya tiada

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

***

Setelah ke pemakaman Ashar, aku seolah membui diri di kamar. Mataku sayu, terdapat lingkar hitam besar di bawah mata. Aku seakan tak percaya bahwa Ashar telah pergi meninggalkanku.

Tiba-tiba saja, ku lihat mata celengan macan itu bercahaya. Celengan macan itu menujuku dan berbicara. Aku kaget, setengah tak percaya. Aku terbelalak pada celengan macan itu.

“Hayati, jangan bersedih. Aku akan selalu disini menemanimu,” kata celengan itu.

“Kamu bisa berbicara?”

“Menurutmu?”

Bibirku tersenyum karena ulahnya. Sementara  kilau keemasan senja yang menembus jendela membuatku terbangun dari tidur. Senja masih ada. Lelaki itu penipu. Sementara kebahagiaan itu semu.

 

Kudus, 29 Oktober 2017

Mahasiswa AB

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *