Empat Tahun Memimpin Polines, Supriyadi Terpilih Kembali

Pelantikan Direktur Politeknik Negeri Semarang (Polines) Rabu lalu (04/10) di ruang auditorium gedung D lantai 2 Jalan Jenderal Sudirman Pintu Satu, Senayan, Jakarta Pusat doc. pribadi

Polines, DIMENSI (18/10) – Serangkaian tahapan pemilihan direktur Politeknik Negeri Semarang (Polines) telah usai. Mulai dari tahap penjaringan, penyaringan, pemilihan hingga pelantikannya sendiri yang telah dilakukan di Jakarta pada Rabu (04/10) lalu. Pemilihan pun telah  dilakukan pada Kamis (31/08) yang dihadiri oleh para senat dan wakil dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) yaitu Ari Hendrarto Saleh selaku Kepala Biro Sumber Daya Manusia. Hasil dari pemilihan tersebut menetapkan Supriyadi sebagai Direktur terpilih periode 2017-2021.

Supriyadi yang sebelumnya sudah menjabat sebagai Direktur Polines, terpilih kembali untuk periode selanjutnya. Ia memperoleh 35 suara dari total 37 suara. “Dari total senat yang hadir itu ada 24 orang. Prosentasenya itu 65%, lalu dari Kementrian itu prosentasenya 35% jadi memperoleh hak suara sebanyak 13. Jadi total suara ada 37,” ungkap Endro Wasito selaku ketua panitia pemilihan direktur.

Endro juga menambahkan bahwa pemilihan dilakukan secara tertutup, para senat yang hadir diberikan dipanggil satu-satu untuk memilih (dengan cara menyontreng) lalu dimasukkan ke  dalam kotak suara, sama halnya dengan perwakilan dari Kemenristekdikti yang menerima 13 kartu suara, menyontreng lalu dimasukkan ke kotak suara. Perhitungan dilakukan pada saat itu juga. Kemudian dibuat berita acara penetapan direktur terpilih. Berita acara tersebut kemudian dikirim ke Kementrian hingga pada akhirnya ditanggapi pada H-2 Pelantikan.

Sementara itu Supriyadi sebagai Direktur terpilih mengaku tidak ada persiapan, ia hanya menyampaikan program-programnya tanpa ada persiapan khusus. “Saya hanya menyampaikan Politeknik kedepan harus begini. Saya punya gambaran begini strateginya begini tantangannya begini-begini, serta pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM),” ujar Supriyadi.

Supriyadi juga menjelaskan bahwa program secara garis besar, Polines menjadi pusat inovasi teknologi dan bisnis tapi terintegrasi, sehingga antar prodi dan jurusan harus terintegrasi karena penerapan keilmuan kalau sudah di eksternal harus berintegrasi.

Semboyan Polines Committed to Quality, committed yang terdiri dari niat, amal dan ikhlas serta quality yang terdiri dari standar, keterlibatan unsur, kaizen, dan hasil berbasis proses harus ada sinergi. Ia juga meminta agar semboyan Committed to Quality ini jangan hanya sekedar semboyan tapi juga harus dimaknai.

“Kalau sudah menjabat semua harus komitmen dengan tugasnya itu. Disamping dia melakukan tugas pokok juga melakukan fungsinya. Karena fungsi itu menunjang tugas pokok. Untuk menjalankan tugas pokok harus pro aktif untuk hubungan koordinatif dengan yang lain,” pungkas Supriyadi.

Kinerja Supriyadi selama empat tahun ini tentu dapat menjadi koreksi untuk jabatannya sekarang dan yang akan datang, menurut Fajar Tri Utomo mahasiswa jurusan Teknik Sipil yang mengaku kinerja direktur sudah cukup bagus. “Kinerja pak Supriyadi bagus kok polines sekarang lebih terkenal diluar,” terangnya.

Dengan terpilihnya kembali Supriyadi sebagai Direktur Polines tentunya besar harapan masyarakat Polines agar dapat membawa Polines lebih baik. “Semoga kinerjanya semakin baik lagi, selain itu juga menjalin kerjasama dengan perusahaan-perusahaan lebih diperbanyak supaya lulusan Polines bisa langsung diterima di perusahaan tersebut. Untuk sarana dan prasarana penunjang untuk praktek, lab dan bengkel juga perlu di tingkatkan,” imbuh Fajar.

Sementara itu menurut Supriyadi, tantangannya dalam memipin Politeknik adalah kesulitan menyamakan persepsi serta menghadapi perkembangan zaman. “Kesulitannya adalah menyamakan persepsi serta tantangan kedepan. Itu kan jelas ada tiang demokrastisasi, globalisasi dan Information and Communication Technologies (ICT). Perilaku sekarang semua serba digital. Belum masalah demokratisasi semua orang bicara apa saja kan boleh tetapi harus ada yang namanya tata tertib, ada koridor aturan yang harus diikuti. Globalisasi tidak dibatasi tempat dan waktu, dimanapun kita bisa mengakses. Jadi harus disadari, kalau segini saja sudah cukup ya tidak bisa. Tantangan ke depan itu luar biasa,” jelasnya. (Nurul & Annisa)

 

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *