Majalah Dimensi Edisi Digital

Mahasiswa dan Organisasi Mahasiswa

Ilustrasi oleh Dini.

Oleh: Kang Fahrul (Alumni Politeknik Negeri Semarang)

Awal perkuliahan merupakan awal dimana segala langkah akan dimulai. Nah, salah satu permulaan yang biasanya dibingungkan di awal perkuliahan oleh mahasiswa baru adalah tentang organisasi. Pertanyaan seputar organisasi apa yang sebenarnya cocok, cara membagi waktu antara organisasi dan perkuliahan, ketakukan akan nilai yang terganggu ketika mengikuti organisasi, dan mungkin masih banyak lainnya.

Kebingungan tersebut sebenarnya berdasar, karena setelah memasuki jenjang kehidupan perkuliahan, waktu yang mereka habiskan akan berputar pada aktivitas akademik dan berorganisasi, baik organisasi yang terafiliasi dengan institusi perguruan tinggi langsung (intra-kampus) atau organisasi yang tidak terafiliasi pada institusi kampus langsung (ekstra-kampus).

Di bulan-bulan awal perkuliahan sendiri, para mahasiswa baru biasanya akan diajak untuk bergabung dengan organisasi kemahasiswaan. Secara pribadi, aktif dalam  organisasi akan memberikan banyak manfaat bagi mereka yang mengikutinya. Sebab di dalamnya, para mahasiswa akan dibekali jiwa kepemimpinan, sikap kritis dan kemampuan berorganisasi yang sangat berguna di dunia pekerjaan pasca-mahasiswa.

Mengikuti organisasi menjadi penting karena mengingat, peran dasar dari mahasiswa sendiri  yaitu agent of change, social control dan iron stock maka mahasiswa yang pada nantinya akan menjadi penerus bangsa mau tidak mau harus memiliki pemikiran kritis, memiliki jiwa kepemimpinan, dan memiliki rasa kepekaan serta kepedulian terhadap lingkungan, juga kepada sesama manusia atau yang sering kita kenal dengan soft skill. Maka banyak dari pihak kampus akan menyarankan mahasiswa baru untuk mengembangkan soft skill dengan cara mengikuti organisasi.

Meski mengikuti organisasi bermanfaat, pemilihan organisasi tempat mengembangkan diri untuk mahasiswa, hendaknya tetap dilakukan dengan hati-hati. Lalu kenapa demikian? Luasnya lingkup organisasi di jenjang perkuliahan, kadangkala justru menimbulkan celah bagi gerakan-gerakan radikal yang disisipkan dalam organisasi. Sejalan dengan hal tersebut, Ryamizard Ryacudu, Menteri Pertahanan Republik Indonesia memaparkan, sekitar 23 persen mahasiswa terpapar radikalisme dan setuju pembetukan negara khilafah. Di tingkat SMA, sekitar 23,3 juga terpapar radikalisme. Sementara itu, sebanyak 18,1 persen pegawai swasta, 19,4 persen PNS dan 9,1 pegawai BUMN mengatakan tidak setuju dengan ideologi pancasila. (Detik.com, 2019).

Memilih organisasi kemahasiswaan secara hati-hati sangat perlu untuk dilakukan. Sebab bagaimanapun, masa menempuh ilmu perguruan tinggi merupakan momen emas bagi setiap orang, serta bermanfaat untuk masa depannya, demi cita-cita yang diimpikan. Namun, cita-cita mulia itu akan berakhir nahas apabila salah dalam memilih organisasi untuk menunjang kemampuan leadership dan berorganisasi. Untuk menanggulangi hal-hal semacam itu, banyak dari pihak kampus akan menyarankan organisasi intra kampus (HMJ, UKM, BEM,BPM serta pers mahasiswa)yang masing-masing memiliki fungsi  sama dalam  pengembangan soft skil.

Akan tetapi, banyak juga dari teman-teman mahasiswa baru yang memilih untuk tidak aktif di dunia organisasi atau yang sering kita kenal dengan mahasiwa kupu-kupu (kuliah pulang kuliah pulang). Biasanya tipe mahasiswa seperti ini,  memiliki nilai akademik yang lebih baik dan absensi kehadiran yang lebih baik pula dibandingkan mereka yang aktif di organisasi. Bukan tanpa sebab, ada beberapa yang memiliki untuk kuliah sambil bekerja. Ada pula mereka yang hanya memang fokus untuk kuliah saja dengan pertimbangan pribadi masing-masing.

Namun, pantaskah jika hal itu dijadikan alasan kita untuk tidak membaur? Mahasiswa yang aktif organisasi dan yang tidak aktif organisasi tidak bisa kita pisahkan seperti dua sisi uang logam. Karena mahasiwa yang aktif organisasi sangat dibutuhkan untuk mahasiswa yang tidak aktif organisasi begitu pula sebaliknya.

Tapi yang harus diingat adalah, mengikuti organisasi tidak menjadi alasan untuk mengesampingkan nilai akademis. Karena, terkadang  ketika mahasiswa telah sangat aktif di organisasi (atau orang kadang menyebutnya sebagai ‘aktivis’), justru tugas utama mereka sebagai mahasiswa yaitu kuliah, malah dikesampingkan. Kalimat yang seharusnya, kuliah ditunjang dengan kegiatan organisasi, tapi justru berbalik menjadi organisasi ditunjang dengan kuliah. Padahal, aktivis bukanlah mereka yang aktif di organisasi, melainkan mereka yang bisa memperjuangkan suara-suara di sekitarnya, terutama suara rakyat kecil kota dan buruh tani desa, dan yang seringkali kita temui, bukannya aktivis akan tetapi hanya organisatoris (mahasiswa yang aktif di dalam suatu organisasi tertentu dan dia mempunyai kepentingan untuk membesarkan organisasi tersebut)

Tapi di atas segala baik dan buruknya berorganisasi,  penulis tetap menyarankan kepada mahasiswa baru untuk aktif di dunia kampus. Sibuklah! agar tidak ada waktu untuk bucin dan ghibahin orang lain. Jadikanlah kesibukanmu sebagai media untuk melupakan seseorang yang pernah melukaimu. Langkah kecilmu tidak akan terlihat besar sekarang. Melangkah saja, satu dua langkah sesuai yang kamu mampu. Kamu tidak perlu membuat langkahmu seirama dengan orang lain. Kamu yang paling tahu kapan harus memulai, kapan harus berhenti, dan di mana tujuanmu akan sampai.

Pendidikan itu penting. Terutama mendidik perasaanmu kepada dia yang ternyata lebih memilih orang lain, Luuur….

Advertisements

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *