FUNGSI DAN TUJUAN KPR TIDAK TERPENUHI

Oleh      : Dhita Asyanti

Mahasiswa Keuangan Perbankan, Jurusan Akuntansi, Politeknik Negeri Semarang

Seiring telah terlaksananya Pemilihan Raya (Pemira-red) Politeknik Negeri Semarang (Polines-red), dapat kita lihat bagaimana tujuan diadakannya pemira tidak tercapai sepenuhnya, serta fungsi dibentuknya KPR tidak dirasakan oleh calon presiden mahasiswa (Capresma), wakil presiden mahasiswa (Cawapresma), calon anggota BPM. Bagaimana tidak, mari kita lihat tujuan pemira secara umum dimata mahasiswa. Tujuan pemira ialah untuk mengenalkan capresma, cawapresma, dan calon anggota BPM melalui diadakannya kampanye-debat. Serta fungsi dibuatnya KPR sebagai wadah untuk mempermudah calon dalam mengikuti pemira. Namun pada kenyataannya dilapangan tidak demikian.

Kampanye yang digelar oleh KPR tidak menyediakan tempat bagi mahasiswa umum untuk mengikuti kampanye atau debat. KPR menyediakan kursi hanya untuk calon dan tim suksesnya saja. Saya dapat mengatakan hal ini karena saat kampanye diadakan, saya bermaksud untuk megikuti kampanye, namun saat saya duduk dikursi kosong tersebut, saya diingatkan oleh Panitia Pelaksana Pemira (P3) bahwa selain tim sukses (timses) yang berco-card tidak diijinkan berada disana. Melalui hal ini saya ingin bertanya kepada KPR, lalu tujuan diadakannya kampanye itu apa? Jika mahasiswa umum saja tidak diberikan ruang untuk mengikuti kampanye dan debat. Berarti tidak menjadi masalah jika mahasiswa umum tidak melihat kampanye calon? Lalu bagaimana mahasiswa umum bisa tahu dan bisa membandingkan siapa capres, cawapres, dan calon anggota BPM tahun ini. Padahal melalui hal kecil itu mereka bisa mengenal calon-calon tersebut.

Selain itu dalam pelaksanaan debat tidak ada sesi tanya jawab, saat meninjau ketetapan KPR hanya ada penyampaian visi dan misi saja. Lalu apa bedanya dengan acara diskusi jika tidak ada sesi tanya jawab? Padahal dalam sesi itu mahasiswa bisa tau lebih jauh bagaimana calon yang akan memimpin mereka selanjutnya.

Dalam hal lain, KPR tidak menjalankan fungsinya secara untuh. Kenapa? Karena dalam ketetapan KPR mereka tidak mengatur penggunaan PDH lengkap bagi timses, co-card bagi pasangan calon (paslon) presma wapresma. Ada kejadian bahwa saat hari pelaksanaan kampanye dan debat, timses dari salah seorang calon anggota BPM pulang untuk mengambil PDH padahal mereka sudah diijinkan oleh calon untuk keluar kelas. Lalu adakah aturan akan hal tersebut? Anggota P3 yang dimintai keterangan oleh calon tersebut ternyata tidak tahu apa-apa mengenai peraturannya. Padahal tahun lalu untuk pakaian dan lain-lain sudah diatur dalam ketetapan KPR. Terlebih lagi perihal jam kampanye, kampanye diadakan pukul tujuh sampai dengan dua siang. Padahal kalau kita tinjau kembali para calon juga merupakan mahasiswa umum yang juga harus mengikuti kegiatan belajar mengajar pada jam-jam tersebut. Sebagai akibat akan peraturan tersebut, salah seorang calon anggota BPM tidak mengikuti kampanye dan ikut praktikum perpajakan.  Saya rasa KBM seperti praktikum, mbengkel tidak kalah pentingnya oleh kampanye calon. Lalu jika kampanye diadakan pada jam-jam tersebut apakah tidak mengganggu study calon? KPR dibuat sebagai wadah untuk mempermudah calon mengikuti pemira. Namun karena hal inilah KPR dinilai tidak menjalankan fungsinya sebagai mana mestinya.

Melihat dari pelaksanaan pemira, partisipasi mahasiswa turun menjadi 61%. penyebanya karena banyak mahasiswa yang tidak memilih atau golongan putih (golput). Faktor mahasiswa yang tidak dijemput oleh Panitia Pemungutan Suara (PPS), tidak beri tahu jam-jamnya kapan harus memilih untuk masing-masing kelas, tidak diberi tahu keharusan mahasiswa untuk membawa Kartu Tanda mahasiswa (KTM) atau tanda pengenal lainnya membuat prosentase golput menjadi naik. Lucunya ada salah seorang mahasiswa yang tidak bisa menggunakan hak pilihnya karena tidak membawa KTM, padahal dalam absensi mahasiswa tersebut tercatat dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT). Apakah suara kami sebagai mahasiswa sebegitu tidak berharganya, sampai kami ditolak hanya karena tidak membawa KTM? Saya rasa, absensi kelas saja sudah cukup membuktikan bahwa kami mahasiswa polines dan berhak untuk memilih. Karena untuk tahun lalu, pemilih tetap hanya menggunakan absensi kelas saja untuk memilih.

Secara teknis, KPR juga kurang meninjau kembali teknis pelaksanaan. Sebagai contoh di TPS jurusan akuntansi bilik 1, paslon capres harusnya Buyung baru Amin, tapi saat itu urutannya terbalik, cawapes menjadi capres dan capres menjasi cawapres. Menurut saya hal ini sangat fatal.

Saya tidak bermaksud untuk tidak menghargai kerja keras KPR, saya tahu KPR telah bekerja keras melaksanankan pemira. Terlebih lagi bukan hal yang mudah dalam mengadakan pemilihan umum dengan jumlah mahasiswa yang tidak sedikit dan jam kuliah yang padat di polines, yang saya sayangan kenapa KPR tahun ini tidak mencari tahu bagaimana pelaksanaan pemira tahun lalu. Saya hanya berharap bahwasanya hal ini bisa menjadi koreksi dan untuk tahun depan semoga KPR bisa lebh baik dalam menjalankan fungsi dan tujuannya serta lebih menghargai suara kami sebagai mahasiswa umum dalam mengikuti pemira.

 

Advertisements

Mungkin Anda juga menyukai

6 Respon

  1. franco berkata:

    wah sama halnya dengan elektro . saya malah di lapori mahasiswa elektro telkom yg mau datang memilih ternyata bppr ishoma. kenapa tidak bergantian bppr. tapi pernyataan dr kpr kurang koordinasi dengan bppr. lha yg mau di salahkan siapa sekarang. mereka datang mau memilih saja tidak di perbolehkan karena tap kpr yg mengatur . tetapi kenyataan di lapangan seperti apa. akhirnya temen-temen marah dan akhirnya meninggalkan tempat dan tidak memilih.
    yg ke 2 waktu magrib karena kelas saya dekat dengan tps. di situ ada panitia plus ketua kpr. ada mahasiswa yg mau milih sendiri dan jawaban dr panitia mau tidak di perbolehkan karena teman2 kelasnya sudah memilih dan dia belum .tp akhirnya boleg.
    yg ke 3 ini aneh.
    terjadi di prodi dan kelas saya. ketika teman saya tidak membawa kartu identitas dia tidak di perbolehkan untuk memilih. tetapi untuk kelas lain karena dia tdak membawa kartu identitas dia membawa absen boleh. nah mana yg benar????????????? sebenernya yg kurang koordinasi itu KPR,BPPR,PPS atau siapa? kenapa di elektro banyak seperti itu dan mana tindak tegas panitia .
    dan di waktu magrib itu juga ketua kpr meminta tolong saya untuk memberi tahu kelas2 yg belum akhirnya saya juga bantu nah ada kelas di prodi saya itu yg belum memilih. saya meminta panitia untuk jemput bola saja karena saya sudah mengontak dr kelas tersebut dan ternyata sebenernya gak mau kebawah. jawaban dr panitia masih lobi. o ya sudah ketika omongan saya tidak di gubris. ternyata kelas tersebut turun tetapi yg memilih tidak ada 50 persen karena mereka turun langsung pulang karena sudah malas.

    yg ke 4 kenapa ya ini agak sedikit aneh juga . grand opening di kantin TN,kampanye pertama di kantin TN,debat calon kantin TN. lha masane polines ki neng TN ,lha cah teknik e opo gak ono to”pantes-pantesan” po . saya sudah memberi masukan kepada kpr kenapa gak pindah2 saja. tp hanya jawabannya saran saya tampung gt saja padahal masih di awal2 dlu.

    yg ke 5. awal pagi saat saya mengantarkan danus ,saya dapat kabar berita bahwa bukan hanya foto dr salah satu paslon dr pres jd cawapres dan kebalikannya . tetapi ada kesalahan nomor urut juga dr nomor a jd b dan b jd a dan ternyata sudah ada tps yg buka dan ada yg milih. apa panitia tidak cek malemnya dan juga kenapa harus ada scroll kebawah /vertikal tata letak untuk memilih paslon capres cawapres dan calon bpm. kenapa tidak di buat hotizontal?

    o ya sedikit tambahan nih. kenapa waktu server lemot dan ketika pemilih tidak bisa milih panitia membiarkan dia pulang saja.

    ada apakah di KPR?
    ada apakah di sistem ini?
    #apatanggungjawabanda?

    apakah hanya sebuah bentuk klarifikasi miskom/kurang koordinasi?
    kasihan temen-temen yg sudah datang di php sama panitia karena #panitiaisoma
    kenapa jurusan lain tidak seperti itu. kenapa di jurusan kita yg seperti itu.

    -saran gausah ada tps bung. langsung aja sediakan leptop jemput bola masuk ke kelas-kelas. di jadwalkan dengan baik dan benar.

    • Faiz berkata:

      Server lemot itu krn beberapa faktor, bisa jadi koneksi kurang baik, media transmisi kurang baik (wifi, kabel), dan yg terakhir adalah server. Klo masalahnya di server saya rasa itu wajar krn server yg ada di polines belum sekelas dgn google, youtube dll yg bisa langsung diakses oleh jutaan orang dalam waktu bersamaan. Klo permasalahnnya di media transmisi (wifi dan kabel) itu permasalah utama dlm arsitektur jaringan di POLINES meskipun sekarang sudah menggunakan FO klo redaman dan BERnya besar juga percuma koneksi juga akan lemot klo wifinya sudah bagus lah sekarang krn menggunakan perangkat cisco router wifi terbaru

  2. dian berkata:

    Saya juga merasakan hal di atas.
    Saya juga sebagai salah satu TIMSES dari salah seorang Anggota BPM, saya kecewa dengan kinerja KPR saat kampenya pertama di kantin tn dri anggota kpr memberi info bahawa harus membawa timses, ketika saya sudah doat izin dri dosen ternyata timses yang datang hanya saya dan temen saya ketika saya tanyabke tim regist kpr tenyata mereka tiak tau mengenai hal itu, dan masih bingung harus koordinasi kmana.
    Ketika itu saya juga lupa tidak memakai dasi karena saya berkerudung dan pdh saya dianggap tidak lengkap dan saya malah di suruh pulang padahal hanya karena sebuah dasi yang ditutup kerudung sedangkan saya sudah izin pada dosen.

    Waktu hari H malah banyak dri temen saya yang golput karena ketidak tahuan masalah identitas , mereka sudah sampai pps tapi malah di suruh pulang ambil identitas dan tidak di perkenankan untuk memilih jika tidak ada identitas.
    Dan banyak dri teman saya yang tidak mengenal calon calonnya, saya bertanya untuk apa ada kpr untuk apa ada kampanye jika tidak mampu mengenalkan paslon ke mahasiswa, maka jangan salah kan kita kalau kita asal klik tanpa mengetahui siapa yang kita pilih. Dan jangan salah kan mahasiswa jika golput karna ini juga kurangnya kinerja dan koordinasi kpr. Padahal jika dilihat anggota kpr sangat bnyak tapi kenapa tak mampu menjalin koordinasi untuk suksesnya pemira.

    Sebenernya ini yang salah siapa ? Kita mahasiswa atau Kpr.

    Saran saya mungkin jika ada informasi sekecil apa setidaknya jangan hanya di infokan di media sosial bisa ke ketua kelas atau perwakilan kelas karena ngga semua orang punya medsos gag semua orang aktif medsos, dan tolong jadi panitia setidaknya jangan plinplan koordinasinya ditambah lagi dan inget fungsi sebagai KPR itu apa.

    #suaramahasiswa

  3. hamba allah berkata:

    kok pada lempar kesalahan ya soal yg ishoma 😀
    soal yg kpr ngga nanya2 pemira tahun lalu, itu mereka ngadain pemira tahun ini trs ngga pake pertimbangan di tahun2 sebelumnya gt? waah

  4. Pengamat politik KBM berkata:

    Hahaha saya suka mahasiswa yang seperti ini, paling tidak membuat KBM jadi berwarna ?

    Banyak sudut pandang yang terjadi disini, semua keputusan yang diambil oleh pihak penyelenggara juga merupakan hasil olah pikiran dan evaluasi tahun tahun sebelumnya. Fakta yang sangat menjengkelkan adalah manusia tidak lepas dari kesalahan dan manusia pasti memiliki blind spot. Jadi kemajuan di tahun ini untuk memperbaiki tahun sebelumnya tapi tidak menutup kemungkinan adanya kesalahan baru ataupun lama.

    Segala evalusi silahkan disampaikan dengan lugas dan apa adanya, mari bangun idealisme dan KBM lebih baik kedepan. Dan saya yakin pada akhirnya nanti kita menemui titik kesempurnaan pada hasil karya kita. Fakta yang menjengkelkan lagi adalah mungkin kesempurnaan tidak bisa pada tahun lalu, tahun ini atau tahun berikutnya, namun paling tidak kita menjadi bagian pembangun kesempurnaan untuk masa depan.

    Semua sudah berakhir, pesta demokrasi kita sudah terlaksana dan hampir selesai. Alangakah lebih baiknya mari kita persiapkan diri untuk menuju periode berikutnya yang lebih baik.

    Siapapun yang terpilih dalam pemira kali ini dari presidan mahasiswa dan wakil presiden mahasiswa serta anggota bpm, adalah hasil dari pilihan hati manusia yang tak terlepas dari Tuhan YME. Tanggung jawab tidak akan salah memilih pundak ?

  1. Februari 27, 2021

    […] menambahkan tentang detail kejadiannya, bahwa dia mengajak sekretaris KPR ke tukang martabak, dan kemudian membantu menulis […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *